Bayi lahir
TFU: Sepusat
Berat uterus: 1.000 gr
Placenta lahir
TFU: 2 jari di bawah pusat
Berat uterus: 750 gr
7 hari
TFU: Pertengahan pusat-sympisis
Berat uterus: 500 gr
14 hari
TFU: Tak teraba
Berat uterus: 350 gr
42 hari
TFU: normal
Berat uterus: 50 gr
Fundus turun kira-kira 1-2 cm setiap 24 jam (Bobak, 2005:493)
Showing posts with label ASKEB 3 (NIFAS). Show all posts
Showing posts with label ASKEB 3 (NIFAS). Show all posts
Sunday, September 22, 2013
Thursday, September 19, 2013
Jumlah Kotiledon dan Penyebab Perdarahan Post Partum
Plasenta
Struktur
Plasenta
Plasenta
merupakan organ penting bagi janin, karena sebagai alat pertukaran zat antara
ibu dan bayi atau sebaliknya. Plasenta berbentuk bundar atau hampir bundar
dengan diameter 15-20 cm dan tebal ± 2,5 cm, berat rata-rata 500 gram. Umumnya
plasenta terbentuk lengkap pada kehamilan kurang dari 16 minggu dengan ruang
amnion telah mengisi seluruh kavum uteri.
Plasenta
terletak di depan atau di belakang dinding uterus, agak ke atas kearah fundus
uteri, dikarenakan alasan fisiologis, permukaan bagian atas korpus uteri lebih
luas, sehingga lebih banyak tempat untuk berimplementasi. Plasenta berasal dari
sebagian besar dari bagian janin, yaitu villi koriales atau jonjot chorion dan
sebagian kecil dari bagian ibu yang berasal dari desidua basalis.
Plasenta
mempunyai dua permukaan, yaitu permukaan fetal dan maternal. Permukaan fetal
adalah permukaan yang menghadap ke janin, warnanya keputih-putihan dan licin.
Hal ini disebabkan karena permukaan fetal tertutup oleh amnion, di bawah nampak
pembuluh-pembuluh darah. Permukaan maternal adalah permukaan yang menghadap
dinding rahim, berwarna merah dan terbagi oleh celah-celah yang berasal dari
jaringan ibu. Jumlah celah pada plasenta dibagi menjadi 16-20 kotiledon.
Gambar 1.
Permukaan plasenta
Penampang
plasenta terbagi menjadi dua bagian yang terbentuk oleh jaringan anak dan
jaringan ibu. Bagian yang terdiri dari jaringan anak disebut membrana chorii,
yang dibentuk oleh amnion, pembuluh darah janin, korion dan villi. Bagian dari
jaringan ibu disebut piring desidua atau piring basal yang terdiri dari desidua
compacta dan desidua spongiosa.
Gambar 2.
Struktur plasenta
Pembentukan
Plasenta
Perkembangan
trofoblas berlangsung cepat pada hari ke 8-9, dari selapis sel tumbuh menjadi
berlapis-lapis. Terbentuk rongga-rongga vakuola yang banyak pada lapisan
sinsitiotrofoblas (selanjutnya disebut sinsitium) yang akhirnya saling
berhubungan. Stadium ini disebut stadium berongga (lacunar stage).
Pertumbuhan
sinsitium ke dalam stroma endometrium makin dalam kemudian terjadi perusakan
endotel kapiler di sekitarnya, sehingga rongga-rongga sinsitium (sistem lakuna)
tersebut dialiri masuk oleh darah ibu, membentuk sinusoid-sinusoid. Peristiwa
ini menjadi awal terbentuknya sistem sirkulasi uteroplasenta/sistem sirkulasi
feto-maternal.
Antara
lapisan dalam sitotrofoblas dengan selapis sel selaput Heuser, terbentuk
sekelompok sel baru yang berasal dari trofoblas dan membentuk jaringan
penyambung yang lembut, yang disebut mesoderm ekstraembrional. Bagian yang
berbatasan dengan sitotrofoblas disebut mesoderm ekstraembrional somatopleural,
kemudian akan menjadi selaput korion (chorionic plate).
Bagian yang
berbatasan dengan selaput Heuser dan menutupi bakal yolk sac disebut mesoderm
ekstraembrional splanknopleural. Menjelang akhir minggu kedua (hari 13-14),
seluruh lingkaran blastokista telah terbenam dalam uterus dan diliputi
pertumbuhan trofoblas yang telah dialiri darah ibu. Meski demikian, hanya
sistem trofoblas di daerah dekat embrioblas saja yang berkembang lebih aktif
dibandingkan daerah lainnya.
Di dalam
lapisan mesoderm ekstraembrional juga terbentuk celah-celah yang makin lama
makin besar dan bersatu, sehingga terjadilah rongga yang memisahkan kandung
kuning telur makin jauh dari sitotrofoblas. Rongga ini disebut rongga selom
ekstraembrional (extraembryonal coelomic space) atau rongga korion (chorionic
space).
Di sisi
embrioblas (kutub embrional), tampak sel-sel kuboid lapisan sitotrofoblas
mengadakan invasi ke arah lapisan sinsitium, membentuk sekelompok sel yang
dikelilingi sinsitium disebut jonjot-jonjot primer (primary stem villi). Jonjot
ini memanjang sampai bertemu dengan aliran darah ibu.
Pada awal
minggu ketiga, mesoderm ekstraembrional somatopleural yang terdapat di bawah
jonjot-jonjot primer (bagian dari selaput korion di daerah kutub embrional),
ikut menginvasi ke dalam jonjot sehingga membentuk jonjot sekunder (secondary
stem villi) yang terdiri dari inti mesoderm dilapisi selapis sel sitotrofoblas
dan sinsitiotrofoblas.
Menjelang
akhir minggu ketiga, dengan karakteristik angiogenik yang dimilikinya, mesoderm
dalam jonjot tersebut berdiferensiasi menjadi sel darah dan pembuluh kapiler,
sehingga jonjot yang tadinya hanya selular kemudian menjadi suatu jaringan
vaskular (disebut jonjot tersier/tertiary stem villi).
Selom
ekstraembrional/rongga korion makin lama makin luas, sehingga jaringan
embrional makin terpisah dari sitotrofoblas/selaput korion, hanya dihubungkan
oleh sedikit jaringan mesoderm yang kemudian menjadi tangkai penghubung
(connecting stalk). Mesoderm connecting stalk yang juga memiliki kemampuan
angiogenik, kemudian akan berkembang menjadi pembuluh darah dan connecting
stalk tersebut akan menjadi tali pusat.
Setelah
infiltrasi pembuluh darah trofoblas ke dalam sirkulasi uterus, seiring dengan
perkembangan trofoblas menjadi plasenta dewasa, terbentuklah komponen sirkulasi
utero-plasenta. Melalui pembuluh darah tali pusat, sirkulasi utero-plasenta
dihubungkan dengan sirkulasi janin. Meskipun demikian, darah ibu dan darah
janin tetap tidak bercampur menjadi satu (disebut sistem hemochorial), tetap
terpisah oleh dinding pembuluh darah janin dan lapisan korion.
Dengan
demikian, komponen sirkulasi dari ibu (maternal) berhubungan dengan komponen
sirkulasi dari janin (fetal) melalui plasenta dan tali pusat. Sistem tersebut
dinamakan sirkulasi feto-maternal.
Fungsi
Plasenta
Fungsi dari
plasenta adalah:
Nutrisi:
tempat pertukaran zat dan pengambilan bahan nutrisi untuk tumbuh kembang janin
Respirasi:
memberikan O2 dan mengeluarkan CO2 janin
Ekskresi:
mengeluarkan sisa metabolisme janin
Endokrin:
sebagai penghasil hormon-hormon kehamilan seperti HCG, HPL, esterogen,
progesteron
Imunologi:
menyalurkan berbagai komponen antibodi ke janin
Farmakologi:
menyalurkan obat-obatan yang diperlukan janin, diberikan melalui ibu
Proteksi:
barier terhadap infeksi bakteri dan virus, zat toksik
Tipe-Tipe
Plasenta
Menurut
bentuknya, plasenta terbagi menjadi:
Plasenta
normal
Plasenta
membranasea (tipis)
Plasenta
suksenturiati (satu lobus terpisah)
Plasenta
spuria
Plasenta
bilobus (2 lobus)
Plasenta
trilobus 3 lobus)
Menurut
perlekatan pada dinding rahim, adalah sebagai berikut:
Plasenta
adhesiva (lebih melekat)
Plasenta
akreta (lebih melekat)
Plasenta
inkreta (sampai ke otot polos)
Plasenta
perkreta (sampai ke serosa)
Sirkulasi
Darah Plasenta
Darah ibu
yang berada di ruang interviller berasal dari spiral arteries yang berada di
desidua basalis. Pada sistosel darah disemprotkan dengan tekanan 70-80 mmHg
seperti air mancur ke dalam ruang interviler sampai mencapai chorionic plate,
pangkal kotiledon-kotiledon janin. Darah tersebut membasahi semua villi
koriales dan kembali perlahan-lahan dengan tekanan 80 mmHg menuju ke vena-vena
di desidua.
Di
tempat-tempat tertentu ada implantasi plasenta terdapat vena-vena yang lebar
(sinus) untuk menampung darah kembali. Pada pinggir plasenta di beberapa tempat
terdapat pula suatu rung vena yang luas untuk menampung darah yang berasal dari
ruang interviller diatas. Ruang ini disebut sinus marginalis.
Darah ibu
yang mengalir di seluruh plasenta diperkirakan naik dari 300 ml tiap menit pada
kehamilan 20 minggu sampai 600 ml tiap menit pada kehamilan 40 minggu. Seluruh
ruang interviller tanpa villi koriales mempunyai volume lebih kurang 150-250
ml. Permukaan semua villi koriales diperkirakan seluas lebih kurang 11 m2.
Dengan demikian pertukaran zat-zat makanan terjamin benar.
Perubahan-perubahan
terjadi pula pada jonjot-jonjot selama kehamilan berlangsung. Pada kehamilan 24
minggu lapisan sinsitium dari villi tidak berubah, akan tetapi dari lapisan
sititrofoblas sel-sel berkurangdan hanya ditemukan sebagai kelompok sel-sel,
stroma jonjot menjadi lebih padat, mengandung fagosit-fagosit, dan
pembuluh-pembuluh darahnya menjadi lebih besar dan lebih mendekati lapisan
trofoblas.
Pada
kehamilan 36 minggu sebagian besar sel-sel sitotrofoblas tak ada lagi, akan
tetapi antara sirkulasi ibu dan janin selalu ada lapisan trofoblas. Terjadi
klasifikasi pembuluh-pembuluh darah dalam jonjot dan pembentukan fibrin di
permukaan beberapa jonjot. Kedua hal terakhir ini mengakibatkan pertukaran
zat-zat makanan, zat asam, dan sebagainya antara ibu dan janin mulai terganggu.
Deposit
fibrin ini dapat terjadi sepanjang masa kehamilan sedangkan banyaknya juga
berbeda-beda. Jika banyak, maka deposit ini dapat menutup villi dan villi itu
kehilangan hubungan dengan darah ibu lalu berdegenerasi, timbullah infark.
Referensi
bidanshop.blogspot.com/2010/01/pentingnya-plasenta-ari-ari.html
html unduh 25 maret 2011, 08:29 AM
Depkes RI. 1993. Asuhan Kebidanan Pada Ibu
Hamil Dalam Konteks Keluarga. Cetakan Ke III. Jakarta.
Kusmiyati, Y. 2010. Perawatan Ibu Hamil.
Cetakan ke VI. Yogyakarta: Fitramaya.
mitanadeki.blogspot.com/2011/01/struktur-fungsi-dan-sirkulasi-plasenta.html
unduh 22 maret 2011, 01:29 AM
Mochtar, R. 1998. Sinopsis Obstetri: Obstetri
Fisiologi-Obstetri Patologi. Edisi 2. Jakarta: EGC
Neil, W.R. 2001. Panduan Lengkap Perawatan
Kehamilan. Jakarta: Dian Rakyat.
restikikilestari.blogspot.com/2011/02/plasenta-dan-tali-pusat.html
unduh 24 maret 2011, 04:20 AM
Salmah, dkk. 2006. Asuhan Kebidanan Antenatal.
Jakarta: EGC.
Sulistyawati, A. 2009. Asuhan Kebidanan Pada
Masa Kehamilan. Jakarta: Salemba Medika
Perdarahan
Post Partum (Perdarahan Pasca Persalinan)
Perdarahan
post partum atau perdarahan pasca persalinan adalah salah satu penyebab
kematian ibu melahirkan. Tiga faktor utama penyebab kematian ibu melahirkan adalah
perdarahan post partum atau perdarahan pasca persalinan, hipertensi saat hamil
atau pre eklamasi dan infeksi. Perdarahan menempati prosentase tertinggi
penyebab kematian ibu (28%). Di berbagai negara paling sedikit seperempat dari
seluruh kematian ibu disebabkan oleh perdarahan, proporsinya berkisar antara
kurang dari 10-60 %. Walaupun seorang perempuan bertahan hidup setelah
mengalami pendarahan pasca persalinan, namun selanjutnya akan mengalami
kekurangan darah yang berat (anemia berat) dan akan mengalami masalah kesehatan
yang berkepanjangan (WHO).
Definisi
Perdarahan Post Partum
Perdarahan
pasca persalinan atau perdarahan post partum adalah perdarahan melebihi 500 ml
yang terjadi setelah bayi lahir.
Kehilangan
darah pasca persalinan seringkali diperhitungkan secara lebih rendah dengan
perbedaan 30-50%. Kehilangan darah setelah persalinan per vaginam rata-rata 500
ml, dengan 5% ibu mengalami perdarahan > 1000 ml. Sedangkan kehilangan darah
pasca persalinan dengan bedah sesar rata-rata 1000 ml.
Perkembangan
terkini, perdarahan pasca persalinan didefinisikan sebagai 10% penurunan
hematokrit sejak masuk atau perdarahan yang memerlukan transfusi darah.
Kejadian
Perdarahan Post Partum
Kejadian
perdarahan pasca persalinan atau perdarahan post partum sekitar 10-15% (4%
pasca persalinan per vaginam dan 6-8% pasca persalinan bedah sesar).
Klasifikasi
Perdarahan Post Partum
Perdarahan
post partum dini (early postpartum hemorrhage) adalah perdarahan yang terjadi
setelah bayi lahir dalam 24 jam pertama persalinan.
Perdarahan
post partum sekunder (late postpartum hemorrhage) adalah perdarahan yang
terjadi setelah 24 jam persalinan, kurang dari 6 minggu pasca persalinan.
Penyebab
Perdarahan Post Partum
Perdarahan
post partum dapat disebabkan oleh atonia uteri, robekan jalan lahir, retensio
plasenta, sisa plasenta, inversio uteri dan kelainan pembekuan darah.
Gejala
Klinik Perdarahan Post Partum
Lemah,
limbung, keringat dingin, menggigil, hiperpnea, sistolik < 90 mmHG, nadi
> 100x/m, Hb < 8 g%.
Diagnosis
Perdarahan Post Partum
Atonia uteri
Faktor
resiko: over distensi uterus oleh karena polihidramnion, hamil kembar,
makrosomia janin; multi paritas, persalinan cepat atau lama, infeksi, riwayat
atonia uteri, pemakaian obat relaksasi uterus.
Gejala:
uterus tidak berkontraksi dan lembek, perdarahan segera setelah anak lahir.
Penyulit:
syok, bekuan darah pada serviks atau posisi terlentang akan menghambat aliran
darah keluar.
Robekan
jalan lahir
Faktor
resiko: persalinan per vaginam dengan tindakan, makrosomia janin, tindakan
episiotomi.
Gejala:
darah segar yang mengalir segera setelah bayi lahir, uterus berkontraksi keras
dan plasenta lengkap.
Penyulit:
pucat, lemah dan menggigil.
Retensio
plasenta
Gejala :
plasenta belum lahir setelah 30 menit, perdarahan segera, uterus berkontraksi
dan keras.
Penyulit:
tali pusat putus akibat traksi berlebihan, inversio uteri akibat tarikan,
perdarahan lanjutan.
Retensio
sisa plasenta atau ketuban
Gejala:
plasenta atau sebagian selaput (mengandung pembuluh darah) tidak lengkap,
perdarahan segera.
Penyulit:
uterus berkontraksi tetapi tinggi fundus tidak kurang.
Inversio
uteri
Insidensi :
1 dari 2500 kelahiran
Faktor
resiko: atonia uteri, traksi tali pusat berlebihan, manual plasenta, plasentasi
abnormal, kelainan uterus dan plasentasi pada fundus.
Gejala:
uterus tidak teraba, lumen vagina terisi massa, tampak tali pusat, nyeri perut
akut dan syok (30%).
Penyulit:
neurogenik syok, pucat dan limbung.
Ruptur uteri
Insidensi: 1
dari 2000 kelahiran.
Faktor
resiko: riwayat pembedahan uterus sebelumnya, persalinan terhambat, pemakaian
oksitosin berlebihan, posisi janin abnormal, manipulasi uterus dalam
persalinan.
Plasentasi
abnormal
Paling
sering adalah plasenta akreta.
Faktor
resiko: riwayat pembedahan uterus sebelumnya, plasenta previa, kebiasaan
merokok, multi grande para.
Koagulopati
Koagulopati
kongenital dapat menjadi komplikasi pada 1-2 per 10.000 kehamilan.
Penyebab:
terapi antikoagulan dan koagulan konsumtif yang disebabkan oleh komplikasi
obstetrik.
Endometritis
atau sisa fragmen plasenta
Gejala: sub
involusi uterus, nyeri tekan perut bawah dan pada uterus, perdarahan, lokia
mukopurulen dan berbau bila disertai infeksi.
Penyulit:
anemia dan demam.
Penanganan
Umum Perdarahan Post Partum
Selalu siap
dengan tindakan gawat darurat.
Penatalaksanaan
manajemen aktif kala III persalinan.
Meminta
bantuan/pertolongan kepada petugas kesehatan lain.
Melakukan
penilaian cepat keadaan umum ibu meliputi kesadaran nadi, tekanan darah,
pernafasan dan suhu.
Penanganan
syok apabila terjadi.
Pemeriksaan
kandung kemih, apabila penuh segera kosongkan.
Mencari
penyebab perdarahan dan melakukan pemeriksaan untuk menentukan penyebab
perdarahan.
Referensi
Ambarwati,
E. 2008. Asuhan Kebidanan (Nifas). Yogyakarta: Mitra Cendekia Press.
Errol, N. 2008. At a Glance Obstetri dan
Ginekologi. Edisi Kedua. Jakarta: Erlangga.
Irmansyah, F. Perdarahan Post Partum dan Syok.
freeppts.net/get.php?fid=35879 diunduh 6
September 2011. 03:05 AM
Mochtar, R. 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta:
EGC.
The Asian Parent. Postpartum Haemorrhage.
id.theasianparent.com/articles/postpartum_haemorrhage diunduh 6 September 2011. 09:36 AM
Angka
Kematian Ibu Melahirkan (AKI). menegpp.go.id..Diunduh 8 September 2011. 10:57
PM
Perdarahan
Post Partum. scribd.com/doc/6502612/Perdarahan-Postpartum diunduh 6 September 2011. 10.30 AM
Masa Nifas
KATA PENGANTAR
Rasa syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan
Yang Maha Esa, karena atas rahmat-NYA makalah yang berjudul “Masa Nifas” dapat
diselesaikan tepat pada waktunya.
Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas dari mata kuliah ASUHAN
KEBIDANAN III pada Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Faathir Husada (Kelas Annisa). Selama penyusunan makalah ini penulis
telah banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak dalam bentuk informasi,
motivasi serta dorongan moral dan spiritual, sehingga makalah ini tersusun dan
dapat diselesaikan sesuai dengan rencana.
Disamping itu, penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna
dan sudah barang tentu masih ada kesalahan-kesalahan yang luput dari pengamatan
penulis. Oleh karena itu, tegur sapa dan kritik yang konstruktif dari pembaca
untuk perbaikan dan penyempurnaan seperlunya sangat penulis harapkan.
Pada akhirnya penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi
pembaca.
Bogor, 2013
Penulis
i
Daftar Isi
Kata Pengantar...........................................................................................................i
Daftar Isi.......................................................................................................................ii
Pendahuluan..............................................................................................................1
Pembahasan..............................................................................................................5
1. Perubahan Fisiologis Masa Nifas Pada
Sistem Pencernaan......................5
2. Perubahan Fisiologis Masa Nifas Pada
Sistem Perkemihan.......................6
3. Diastasis Recti
Abdominis...............................................................................8
Penutup.....................................................................................................................13
Daftar Pustaka..........................................................................................................14
ii
BAB I
PENDAHULUAN
Konsep Dasar Masa Nifas
Pengertian Masa Nifas
Masa nifas adalah masa dimulai
beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai 6 minggu setelah melahirkan
(Pusdiknakes, 2003:003).
Masa nifas dimulai setelah kelahiran
plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan
sebelum hamil yang berlangsung kira-kira 6 minggu. (Abdul Bari,2000:122).
Masa nifas merupakan masa selama
persalinan dan segera setelah kelahiran yang meliputi minggu-minggu berikutnya
pada waktu saluran reproduksi kembali ke keadaan tidak hamil yang normal.
(F.Gary cunningham,Mac Donald,1995:281).
Masa nifas adalah masa setelah
seorang ibu melahirkan bayi yang dipergunakan untuk memulihkan kesehatannya
kembali yang umumnya memerlukan waktu 6- 12 minggu. ( Ibrahim C, 1998).
Tujuan Asuhan Masa Nifas
Tujuan dari pemberian asuhan pada
masa nifas untuk :
Menjaga kesehatan ibu dan bayinya,
baik fisik maupun psikologis.
Melaksanakan skrinning secara
komprehensif, deteksi dini, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada
ibu maupun bayi.
Memberikan pendidikan kesehatan
tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, KB, cara dan manfaat menyusui,
pemberian imunisasi serta perawatan bayi sehari-hari.
Memberikan pelayanan keluarga
berencana.
Mendapatkan kesehatan emosi.
Peran dan Tanggung Jawab Bidan dalam
Masa Nifas
Bidan memiliki peranan yang sangat
penting dalam pemberian asuhan post partum. Adapun peran dan tanggung jawab
dalam masa nifas antara lain :
Memberikan dukungan secara
berkesinambungan selama masa nifas sesuai dengan kebutuhan ibu untuk mengurangi
ketegangan fisik dan psikologis selama masa nifas.
Sebagai promotor hubungan antara ibu
dan bayi serta keluarga.
Mendorong ibu untuk menyusui bayinya
dengan meningkatkan rasa nyaman.
Membuat kebijakan, perencana program
kesehatan yang berkaitan ibu dan anak dan mampu melakukan kegiatan
administrasi.
Mendeteksi komplikasi dan perlunya
rujukan.
Memberikan konseling untuk ibu dan
keluarganya mengenai cara mencegah perdarahan, mengenali tanda-tanda bahaya,
menjaga gizi yang baik, serta mempraktekkan kebersihan yang aman.
Melakukan manajemen asuhan dengan
cara mengumpulkan data, menetapkan diagnosa dan rencana tindakan serta
melaksanakannya untuk mempercepat proses pemulihan, mencegah komplikasi dengan
memenuhi kebutuhan ibu dan bayi selama priode nifas.
Memberikan asuhan secara
professional.
Tahapan Masa Nifas
Masa nifas terbagi menjadi tiga
tahapan, yaitu :
Puerperium dini
Suatu masa kepulihan dimana ibu diperbolehkan
untuk berdiri dan berjalan-jalan.
Puerperium intermedial
Suatu masa dimana kepulihan dari organ-organ
reproduksi selama kurang lebih enam minggu.
Remote puerperium
Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat
kembali dlam keadaan sempurna terutama ibu bila ibu selama hamil atau waktu
persalinan mengalami komplikasi.
Kebijakan Program Nasional Masa Nifas
Kebijakan program nasional pada masa
nifas yaitu paling sedikit empat kali melakukan kunjungan pada masa nifas,
dengan tujuan untuk :
Menilai kondisi kesehatan ibu dan
bayi.
Melakukan pencegahan terhadap
kemungkinan-kemungkinan adanya gangguan kesehatan ibu nifas dan bayinya.
Mendeteksi adanya komplikasi atau
masalah yang terjadi pada masa nifas.
Menangani komplikasi atau masalah yang
timbul dan mengganggu kesehatan ibu nifas maupun bayinya.
Asuhan yang diberikan sewaktu
melakukan kunjungan masa nifas:Kunjungan Waktu Asuhan
I 6-8
jam post partum Mencegah
perdarahan masa nifas oleh karena atonia uteri.
Mendeteksi dan perawatan penyebab
lain perdarahan serta melakukan rujukan bila perdarahan berlanjut.
Memberikan konseling pada ibu dan
keluarga tentang cara mencegah perdarahan yang disebabkan atonia uteri.
Pemberian ASI awal.
Mengajarkan cara mempererat hubungan
antara ibu dan bayi baru lahir.
Menjaga bayi tetap sehat melalui
pencegahan hipotermi.
Setelah bidan melakukan pertolongan
persalinan, maka bidan harus menjaga ibu dan bayi untuk 2 jam pertama setelah
kelahiran atau sampai keadaan ibu dan bayi baru lahir dalam keadaan baik.
II 6
hari post partum Memastikan involusi
uterus barjalan dengan normal, uterus berkontraksi dengan baik, tinggi fundus
uteri di bawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal.
Menilai adanya tanda-tanda demam,
infeksi dan perdarahan.
Memastikan ibu mendapat istirahat
yang cukup.
Memastikan ibu mendapat makanan yang
bergizi dan cukup cairan.
Memastikan ibu menyusui dengan baik
dan benar serta tidak ada tanda-tanda kesulitan menyusui.
Memberikan konseling tentang
perawatan bayi baru lahir.
III 2
minggu post partum Asuhan pada 2
minggu post partum sama dengan asuhan yang diberikan pada kunjungan 6 hari post
partum.
IV 6
minggu post partum Menanyakan
penyulit-penyulit yang dialami ibu selama masa nifas.
Memberikan konseling KB secara dini.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Perubahan Fisiologis Masa Nifas Pada Sistem Pencernaan
Sistem gastrointestinal selama
kehamilan dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya tingginya kadar
progesteron yang dapat mengganggu keseimbangan cairan tubuh, meningkatkan
kolestrol darah, dan melambatkan kontraksi otot-otot polos. Pasca melahirkan,
kadar progesteron juga mulai menurun. Namun demikian, faal usus memerlukan
waktu 3-4 hari untuk kembali normal.
Beberapa hal yang berkaitan dengan
perubahan pada sistem pencernaan, antara lain:
Nafsu makan.
Motilitas.
Pengosongan usus.
Nafsu Makan
Pasca melahirkan, biasanya ibu merasa
lapar sehingga diperbolehkan untuk mengkonsumsi makanan. Pemulihan nafsu makan
diperlukan waktu 3–4 hari sebelum faal usus kembali normal. Meskipun kadar
progesteron menurun setelah melahirkan, asupan makanan juga mengalami penurunan
selama satu atau dua hari.
Motilitas
Secara khas, penurunan tonus dan
motilitas otot traktus cerna menetap selama waktu yang singkat setelah bayi
lahir. Kelebihan analgesia dan anastesia bisa memperlambat pengembalian tonus
dan motilitas ke keadaan normal.
Pengosongan Usus
Pasca melahirkan, ibu sering
mengalami konstipasi. Hal ini disebabkan tonus otot usus menurun selama proses
persalinan dan awal masa pascapartum, diare sebelum persalinan, enema sebelum
melahirkan, kurang makan, dehidrasi, hemoroid ataupun laserasi jalan lahir.
Sistem pencernaan pada masa nifas membutuhkan waktu untuk kembali normal.
Beberapa cara agar ibu dapat buang
air besar kembali teratur, antara lain:
Pemberian diet / makanan yang
mengandung serat.
Pemberian cairan yang cukup.
Pengetahuan tentang pola eliminasi
pasca melahirkan.
Pengetahuan tentang perawatan luka
jalan lahir.
Bila usaha di atas tidak berhasil
dapat dilakukan pemberian huknah atau obat yang lain.
2. Perubahan Fisiologis Masa Nifas Pada Sistem Perkemihan
Pada masa hamil, perubahan hormonal
yaitu kadar steroid tinggi yang berperan meningkatkan fungsi ginjal. Begitu
sebaliknya, pada pasca melahirkan kadar steroid menurun sehingga menyebabkan
penurunan fungsi ginjal. Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu satu bulan
setelah wanita melahirkan. Urin dalam jumlah yang besar akan dihasilkan dalam
waktu 12 – 36 jam sesudah melahirkan
Hal yang berkaitan dengan fungsi
sistem perkemihan, antara lain:
Hemostatis internal.
Keseimbangan asam basa tubuh.
Pengeluaran sisa metabolisme.
Hemostatis internal.
Tubuh, terdiri dari air dan
unsur-unsur yang larut di dalamnya, dan 70% dari cairan tubuh terletak di dalam
sel-sel, yang disebut dengan cairan intraselular. Cairan ekstraselular terbagi
dalam plasma darah, dan langsung diberikan untuk sel-sel yang disebut cairan
interstisial. Beberapa hal yang berkaitan dengan cairan tubuh antara lain edema
dan dehidrasi. Edema adalah tertimbunnya cairan dalam jaringan akibat gangguan
keseimbangan cairan dalam tubuh. Dehidrasi adalah kekurangan cairan atau volume
air yang terjadi pada tubuh karena pengeluaran berlebihan dan tidak diganti.
Keseimbangan asam basa tubuh.
Keasaman dalam tubuh disebut PH. Batas normal
PH cairan tubuh adalah 7,35-7,40. Bila PH >7,4 disebut alkalosis dan jika PH
< 7,35 disebut asidosis.
Pengeluaran sisa metabolisme, racun
dan zat toksin ginjal.
Zat toksin ginjal mengekskresi hasil akhir
dari metabolisme protein yang mengandung nitrogen terutama urea, asam urat dan
kreatinin.
Ibu post partum dianjurkan segera
buang air kecil, agar tidak mengganggu proses involusi uteri dan ibu merasa
nyaman. Namun demikian, pasca melahirkan ibu merasa sulit buang air kecil.
Hal yang menyebabkan kesulitan buang air kecil
pada ibu post partum, antara lain:
Adanya odema trigonium yang
menimbulkan obstruksi sehingga terjadi retensi urin.
Diaforesis yaitu mekanisme tubuh
untuk mengurangi cairan yang teretansi dalam tubuh, terjadi selama 2 hari
setelah melahirkan.
Depresi dari sfingter uretra oleh
karena penekanan kepala janin dan spasme oleh iritasi muskulus sfingter ani
selama persalinan, sehingga menyebabkan miksi.
Setelah plasenta dilahirkan, kadar
hormon estrogen akan menurun, hilangnya peningkatan tekanan vena pada tingkat
bawah, dan hilangnya peningkatan volume darah akibat kehamilan, hal ini
merupakan mekanisme tubuh untuk mengatasi kelebihan cairan. Keadaan ini disebut
dengan diuresis pasca partum. Ureter yang berdilatasi akan kembali normal dalam
tempo 6 minggu.
Kehilangan cairan melalui keringat
dan peningkatan jumlah urin menyebabkan penurunan berat badan sekitar 2,5 kg
selama masa pasca partum. Pengeluaran kelebihan cairan yang tertimbun selama
hamil kadang-kadang disebut kebalikan metabolisme air pada masa hamil (reversal
of the water metabolisme of pregnancy).
Rortveit dkk (2003) menyatakan bahwa
resiko inkontinensia urine pada pasien dengan persalinan pervaginam sekitar 70%
lebih tinggi dibandingkan resiko serupa pada persalinan dengan Sectio Caesar.
Sepuluh persen pasien pasca persalinan menderita inkontinensia (biasanya stres
inkontinensia) yang kadang-kadang menetap sampai beberapa minggu pasca
persalinan. Untuk mempercepat penyembuhan keadaan ini dapat dilakukan latihan
pada otot dasar panggul.
Bila wanita pasca persalinan tidak
dapat berkemih dalam waktu 4 jam pasca persalinan mungkin ada masalah dan
sebaiknya segera dipasang dower kateter selama 24 jam. Bila kemudian keluhan
tak dapat berkemih dalam waktu 4 jam, lakukan kateterisasi dan bila jumlah residu
> 200 ml maka kemungkinan ada gangguan proses urinasinya. Maka kateter tetap
terpasang dan dibuka 4 jam kemudian , bila volume urine < 200 ml, kateter
dibuka dan pasien diharapkan dapat berkemih seperti biasa.
3. DIASTASIS RECTI ABDOMINIS
A.
Definisi
Diastasis rekti adalah pemisahan otot
rektus abdominis lebih dari 2,5 cm pada tepat setinggi umbilikus (Noble, 1995)
sebagai akibat pengaruh hormon terhadap linea alba serta akibat perenggangan
mekanis dinding abdomen.
Diastasis recti abdominis umumnya
terjadi di sekitar umbilikus, tetapi dapat terjadi di mana saja antara proses
Xifoideus dan tulang kemaluan (pubis). Ini adalah hasil dari kelemahan
peregangan otot perut dari perubahan hormon ibu dan ketegangan yang meningkat
dengan membesarnya rahim. Diastasis recti abdominis dapat terjadi dalam
berbagai derajat selama kehamilan dan tidak mungkin menyelesaikan secara
spontan pada periode postpartum.
B.
Gejala diastasis recti abdominis
Diastasis recti abdominis tampak
seperti punggung bukit, yang berjalan di tengah area perut. Ini membentang dari
dasar proses Xifoideus ke tulang umbilicus dan kemaluan, dan dapat meningkat
dengan adanya ketegangan otot.
Diastasis recti abdominis umumnya
terjadi pada wanita yang memiliki kehamilan kembar yang menyebabkan peregangan
oto yang berulang. Peregangan yang berlebihan pada kulit dan jaringan lunak di
bagian depan dinding abdomen mungkin bisa jadi salah satu tanda kondisi
diastasi recti abdominis yang tejadi pada awal kehamilan. Diastasis recti
abdominis biasanya muncul pada trimester kedua. Insiden tertinggi terjadi pada
trimester ketiga dan tetap tinggi pada periode pasca-melahirkan. Pada akhir
kehamilan, bagian atas rahim (fundus uteri) sering terlihat menonjol keluar
dari dinding abdomen. Garis bagian dari bayi yang belum lahir dapat dilihat
dalam beberapa kasus yang parah. Fenomena ini lebih sering terjadi pada ibu
dengan multiparitas, karena linea alba mengalami peregangan berulang. Diastasis
recti abdominis lebih banyak terjadi pada wanita hamil yang tidak berolahraga
dibandingkan dengan wanita hamil berolahraga.
Pemisahan otot recti abdominis dapat
menyebabkan berbagai masalah. Tanpa adanya stabilisasi yang dinamis maka
otot-otot perut akan membuat dinding perut menjadi lemah dan dapat membahayakan
stabilitas batang dan mobilitas. Hal tesebut juga dapat mengakibatkan sakit
punggung, disfungsi dasar panggul, hernia, cacat kosmetik dan pengiriman
vagina. Jadi nyeri panggul adalah manifestasi paling umum dari diastasis recti
abdominis. Sebuah studi retrospektif yang dilakukan pada tahun 2007 oleh
Spitznagle et al meneliti prevalensi diastasis recti abdominis pada populasi
pasien urogynecological dan ditemukan 66% dari semua pasien dengan diastasis
recti abdominis memiliki dukungan yang berhubungan dengan disfungsi panggul
(SPFD), diagnosa stres , inkontinensia urin, inkontinensia feses , dan organ
panggul prolaps.
C.
Mendiagnosis diastasis recti abdominis
Ultrasonography (USG) merupakan
metode yang akurat untuk mengukur diastasis rektus atas umbilikus dan di
tingkat pusat. Namun karena ketebatasan alat kesehatan yg ada, penyedia layanan
kesehatan dapat melakukan tes palpasi cepat untuk menilai diastasis recti
abdominis. Diastasis recti abdominis sulit ditemukan pada perut dalam keadaan
rileks. Sebuah pemeriksaan memerlukan kontraksi otot rektus abdominis, dan akan
memungkinkan untuk penilaian diastasis recti abdominis. Sebuah pemisahan atau
peregangan otot pada bagian tengah perut yang diukur setelah kehamilan umumnya
memiliki lebar sekitar satu hingga dua jari dan tidak menjadi masalah. Tetapi
jika lebar peregangan otot di garis tengah adalah lebih dari dua setengah jari dan lebarnya
tidak menyusut saat pasien mengencangkan otot perut nya serta terdapat
gundukan kecil menonjol di garis tengah perut, maka pasien mungkin memiliki
diastasis recti abdominis dan perlu mengambil tindakan pencegahan yang khusus
untuk mengatasinya seperti dengan melakukan beberapa latihan dan kegiatan
lainnya.
Diastasis recti abdominis terjadi
jika dalam pemeriksaan tedapat peegangan otot atau pemisahan otot pada garis
tengah perut hingga dua jari atau lebih atau ibu/pelayan kesehatan dapat
memasukkan dua jari atau lebih ke dalam ruang unggul umbilikus. Pada kontraksi
perut lanjut, pemisahan atau peregangan otot pada garis tengah perut harus
menutup, namun jika masih ada peregangan yang lebarnya lebih besar dari 1 jari,
itu merupakan diastasis recti abdominis positif. Seperti tes biasanya yang
diberikan pada wanita postpartum untuk memeriksa integritas dari recti
abdominis, dan harus ditekankan bahwa tes ini dapat dilakukan pada ibu
pasca-caesar hanya setelah sayatan mereka sudah sembuh, sekitar 6-10 minggu
setelah operasi.
D.
Pengelolaan
Manajemen konservatif, seperti
latihan terapi spesifik yang diarahkan oleh fisioterapis, atau ahli kesehatan
yang sangat paham mengenai diastasis recti abdominis, biasanya menjadi
intervensi yg paling pertama. Latihan tersebut bertujuan untuk memperkuat otot
inti yang mendalam, seperti abdominis transverses dan otot dasar panggul.
Latihan perut yang buruk dapat menyebabkan peningkatan tekanan intra-abdomen,
gaya ini dapat menyebabkan pemisahan recti lebih lanjut dan tonjolan yang
menyertainya / hernia memburuk.
Oleh karena itu, penting untuk
memantau diastasis recti abdominis (dan hernia jika ada) sebelum melakukan
latihan pengencangan otot perut. Latihan perut tidak cocok meliputi sit up,
kaki lurus menimbulkan, gerakan Pilates yaitu "100s" dan terutama
kegiatan trunk rotasi, seperti berselang-seling sit up yang menargetkan
obliques, dapat membuat peregangan otot perut yang berlebihan. Kelemahan pada
otot inti memberikan kontribusi terhadap penutupan kekuatan yang cukup dari
sendi sacroiliac yang menyebabkan ketidakstabilan panggul, yang akhirnya dapat
mengakibatkan penurunan sakit punggung dan pinggul. Dalam keadaan yg buruk,
pemisahan otot recti abdominis dapat mengakibatkan hernia. Oleh karena itu,
saat pertama diastasis diidentifikasi, pasien diminta untuk membuat perjanjian
awal dengan fisioterapis antara 2 sampai 3 minggu setelah melahirkan. Menindaklanjuti
kunjungan berikutnya dilakukan pada 2, 3 atau dengan jarak 4 minggu setelahnya
tergantung pada kondisi pasien yaitu kondisi otot perut pasien, kemampuan
pasien untuk memahami program latihan, dan kepatuhan pasien untuk
menindaklanjuti latihan.
Pada kunjungan awal, pasien diberikan
petunjuk tentang mekanika tubuh yang benar, postur tubuh yang tepat, latihan
yang tepat untuk mengaktifkan otot-otot perut, dan latihan yang tepat untuk
kembali menguatkan otot recti abdominis tanpa meningkatkan tekanan
intra-abdomen .
Pada setiap kunjungan berikutnya,
pasien diajarkan untuk melatih kontrol konsentrik dan eksentrik dari otot-otot
perut dan untuk mensimulasikan peran fungsional dari otot-otot perut dalam
stabilisasi bagasi.
Rekomendasi kegiatan fisik dan
olahraga di rumah dan masyarakat juga diberikan pada kunjungan berikutnya.
Dukungan perut bantu / splints dapat direkomendasikan. Pasien dipulangkan saat
diastasis recti abdominis sudah menutup.
E.
Prognosa
Pasien biasanya tidak dalam keadaan
baik. Dalam kebanyakan kasus, diastasis recti abdominis biasanya sembuh sendiri
selama periode postpartum 6 minggu sampai 3 bulan. Namun, diastasis recti
abdominis juga dapat berlanjut lama. Intervensi lebih lanjut mungkin diperlukan
jika pemulihan diastasis recti abdominis tidak terjadi. Latihan terapi spesifik
dapat membantu meningkatkan kondisi. Hernia umbilikalis dapat terjadi dalam
beberapa kasus. Jika nyeri hadir, operasi mungkin diperlukan. Secara umum,
komplikasi hanya terjadi ketika hernia berkembang.
F.
Komplikasi diastasis recti abdominis
Hernia umbilikalis
Menurut Medline Ditambah Encyclopedia
Medis, komplikasi paling serius diastasis recti adalah hernia umbilikalis.
Sebuah hernia umbilikalis terjadi ketika pemisahan otot-otot perut memungkinkan
bagian dari usus untuk menonjol.
Back Pain
Karena otot-otot perut Anda mendukung
tulang belakang Anda, diastasis recti dapat menyebabkan nyeri kronis pada
punggung bawah Anda. Rendah kembali sakit dapat menyebabkan sikap tubuh yang
buruk.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Sistem gastrointestinal selama
kehamilan dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya tingginya kadar
progesteron yang dapat mengganggu keseimbangan cairan tubuh, meningkatkan
kolestrol darah, dan melambatkan kontraksi otot-otot polos. Pasca melahirkan,
kadar progesteron juga mulai menurun. Namun demikian, faal usus memerlukan
waktu 3-4 hari untuk kembali normal.
Pada masa hamil, perubahan hormonal
yaitu kadar steroid tinggi yang berperan meningkatkan fungsi ginjal. Begitu
sebaliknya, pada pasca melahirkan kadar steroid menurun sehingga menyebabkan
penurunan fungsi ginjal. Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu satu bulan
setelah wanita melahirkan. Urin dalam jumlah yang besar akan dihasilkan dalam
waktu 12 – 36 jam sesudah melahirkan
Wanita dengan diastasis recti
abdominis lebih mungkin terjadi pada wanita yang usianya lebih tua dan dengan
paritas tinggi, memiliki anak kembar, bayi yang lebih besar, dan kelahiran
melalui operasi caesar. Studi menunjukkan bahwa pemulihan sebelumnya mungkin berhubungan
dengan paritas rendah, kelahiran tunggal, penambahan berat badan di bawah 35
kilogram, berat lahir bayi <3,7 kg, tingkat peningkatan aktivitas sebelum,
selama dan setelah kehamilan. Secara klinis, kepatuhan yang baik dengan program
perawatan dan inisiasi awal pengobatan juga dapat meningkatkan pemulihan. Oleh
karena itu, tindakan profilaksis, seperti pemeriksaan rutin / identifikasi
diastasis recti abdominis dan diastasis manajemen recti abdominis berikutnya
untuk semua ibu selama kehamilan dan periode pasca-melahirkan mungkin
bermanfaat dalam jangka panjang.
DAFTAR PUSTAKA
Ambarwati,
2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia.
Anderson,
DM. Mosby s Medical Dictionary. 6th ed. St Louis, Mo: Mosby; 2002.
Boissonnault
J.S. & Blaschak MJ Insiden diastasis recti abdominis Selama Tahun subur.
Chiarello,
C. M. Penelitian Studi: Pengaruh Program
Latihan di diastasis recti abdominis pada Wanita Hamil. Jurnal Terapi Kesehatan
Fisik Wanita: 2005:29 (1), hlm 11-16.
Dessy, T.,
dkk. 2009. Perubahan Fisiologi Masa Nifas. Akademi Kebidanan Mamba’ul ‘Ulum
Surakarta.
Ibrahim,
Christin S, 1993, Perawatan Keebidanan (Perawatan Nifas), Bharata Niaga Media
Jakarta
Marx J.
Rosen Darurat Kedokteran: Konsep dan Praktek Klinis. 6th ed. St Louis, Mo:
Mosby; 2006.
Mendes D.A.
et al. Ultrasonografi untuk mengukur rektus abdominis diastasis otot. Acta Cir
Bras. 2007:22 (3): p 182-6.
Pusdiknakes,
2003. Asuhan Kebidanan Post Partum. Jakarta: Pusdiknakes.
Saifudin,
Abdul Bari Dkk, 2000, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal, Yayasan Bidan Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta
Saleha,
2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika.
Spitznagle
T.M., Leong F.C. dan Van Dillen L.R. Prevalensi diastasis recti abdominis pada
populasi pasien urogynecological. International Journal Urogenikologi 2007: 18
(3), p 321-328, DOI: 10.1007/s00192-006-0143-5
Suherni, 2008. Perawatan Masa Nifas.
Yogyakarta: Fitramaya.
Terapi Fisik
Juli 1988vol. 68 (7), p 1.082-1.086
borneo-ufi.blog.friendster.com/2008/07/konsep-nifas-eklamsi-forceps/
diunduh 1 September 2009: 20.00 WIB.
Kuliahbidan.
2008. Perubahan dalam Masa Nifas.
kuliahbidan.wordpress.com/2008/09/19/perubahan-dalam-masa-nifas/ diunduh 6 Feb
2010, 02:25 PM.
masanifas.blogspot.com/
diunduh 1 September 2009: 20.10 WIB.
scribd.com/doc/17226035/Post-Partum-Oke
diunduh 8 Feb 2010, 11:46 PM.
scribd.com/doc/24817163/Postpartum-Normal
diunduh 12 Feb 2010, 04:46 PM.
Widjanarko,
B. 2009. Masa Nifas. obfkumj.blogspot.com/ diunduh 9 Feb 2010, 04:07 PM.
yoana-widyasari.blogspot.com/2009/04/satuan-acara-pengajaran-s.html
diunduh 1 September 2009: 20.05 WIB.
Zietraelmart.
2008. Perubahan Fisiologi Masa Nifas.
zietraelmart.multiply.com/journal/item/22/PERUBAHAN_FISIOLOGIS_MASA_NIFAS
diunduh 6 Feb 2010, 02:35 PM.
Image, theasianparent.com
Health Education pada Ibu Nifas
1.
Kebersihan diri atau personal hygiene.
Kebersihan
diri ibu membantu mengurangi sumber infeksi dan meningkatkan perasaan nyaman
pada ibu. Anjurkan ibu unutuk menjaga kebersihan diri dengan cara mandi yang
teratur minimal 2 kali sehari, mengganti pakaian dan alas tempat tidur serta
lingkungan dimana ibu tinggal. Ibu harus tetap bersih, segar dan wangi.
ü a.Pakaian
Sebaiknya
pakaian terbuat dari bahan yang mudah menyerap keringat karena produksi
keringat menjadi banyak. Produksi keringat yang tinggi berguna untuk
menghilangkan ekstra volume saat hamil. Sebaiknya, pakaian agak longgar di
daerah dada sehingga payudara tidak tertekan dan kering.Demikian juga dengan
pakaian dalam, agar tidak terjadi iritasi (lecet) pada daerah sekitarnya akibat
lochea.
ü b.Kebersihan rambut
Setelah bayi
lahir, ibu mungkin akan mengalami kerontokan rambut akibat gangguan perubahan
hormon sehingga keadaannya menjadi lebih tipis dibandingkan keadaan normal.
Jumlah dan lamanya kerontokan berbeda-beda antara satu wanita dengan wanita
yang lain. Meskipun demikian, kebanyakan akan pulih setelah beberapa bulan.
Cuci rambut dengan conditioner yang cukup, lalu menggunakan sisir yang
lembut.Hindari penggunaan pengering rambut.
ü c.Kebersihan kulit
Setelah
persalinan, ekstra cairan tubuh yang dibutuhkan saat hamil akan dikeluarkan
kembali melalui air seni dan keringat untuk menghilangkan pembengkakan pada
wajah, kaki, betis, dan tangan ibu. Oleh karena itu, dalam minggu-minggu
pertama setelah melahirkan, ibu akan merasakan jumlah keringat yang lebih
banyak dari biasanya. Usahakan mandi lebih sering dan jaga agar kulit tetap
kering.
ü d.Kebersihan vulva dan sekitarnya.
Mengajarkan ibu membersihkan daerah kelamin dengan cara
membersihkan daerah di sekitar vulva terlebih dahulu, dari depan ke belakang,
baru kemudian membersihkan daerah sekitar anus. Bersihkan vulva setiap kali
buang air kecil atau besar.
Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut
setidaknya dua kali sehari. Kain dapat digunakan ulang jika telah dicuci dengan
baik dan dikeringkan di bawah matahari atau disetrika.
Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air
sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya.
Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, sarankan
kepada ibu untuk menghindari menyentuh luka, cebok dengan air dingin atau cuci
menggunakan sabun.
2. Perawatan Perineum
Merawat
perineum dengan baik dengan menggunakan antiseptik (PK / Dethol) dan selalu
diingat bahwa membersihkan perineum dari arah depan ke belakang. Jaga
kebersihan diri secara keseluruhan untuk menghindari infeksi, baik pada luka
jahitan maupun kulit.
Perawatan
luka perineum bertujuan untuk mencegah infeksi, meningkatkan rasa nyaman dan
mempercepat penyembuhan. Perawatan luka perineum dapat dilakukan dengan cara
mencuci daerah genital dengan air dan sabun setiap kali habis BAK/BAB yang
dimulai dengan mencuci bagian depan, baru kenudian daerah anus. Sebelum dan
sesudahnya ibu dianjukan untuk mencuci tangan.Pembalut hendaknya diganti
minimal 2 kali sehari.Bila pembalut yang dipakai ibu bukan pembalut habis pakai,
pembalut dapat dipakai kembali dengan dicuci, dijemur dibawah sinar matahari
dan disetrika.
DAFTAR
PUSTAKA
Maulana,
Heri.2009.Promosi Kesehatan. Jakarta : EGC
Notoatmojo,soekidjo.Prof,Dr.”Kesehatan
Masyarakat Ilmu dan Seni”.2007.Jakarta:PT.Rineka Cipta.
Notoatmojo,soekidjo.Prof,Dr.”Promosi
Kesehatan dan ilmu Perilaku”.2007.Jakarta:PT.Rineka Cipta.
3. Nutrisi
Dalam masa
nifas ibu membutuhkan gizi yang cukup. Gizi pada ibu menyusui sangat erat
kaitannya dengan produksi air susu, yang sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang
bayi. Kualitas dan jumlah makanan yang dikonsumsi ibu sangat berpengaruh pada
jumlah ASI yang dihasilkan, ibu menyusui disarankan memperoleh tambahan zat
makanan 800 Kkal yang digunakan untuk memproduksi ASI dan untuk aktifitas ibu itu
sendiri.
Sebuah
teori, maternal depletion syndrome menyatakan bahwa status gizi ibu setelah
peristiwa kehamilan dan persalinan, kemudian diikuti masa laktasi, tidak segera
pulih dan ditambah lagi pemenuhan gizi yang kurang, jumlah paritas yang banyak
dengan jarak kehamilan yang pendek, akan menyebabkan ibu mengalami drainage
gizi. Akibatnya ibu akan berada dalam status gizi yang kurang dengan akibat
lebih lanjut pada ibu dan anaknya. Oleh karena itu, ibu yang menyusui anaknya
harus diberikan pengetahuan tentang gizi.
Soal gizi
ibu hamil maupun nifas, di mana bila gizi yang dibutuhkan, hampir mirip, tetap
berpedoman pada 4 sehat 5 sempurna dengan menu seimbang. Kuantitas dan kualitas
makanan ibu yang baik pada saat hamil maupun mana nifas akan mempengaruhi
produksi ASI. Jika keadaan gizi ibu baik secara kuantitas, akan terproduksi ASI
lebih banyak daripada ibu dengan gizi kurang. Sedangkan secara kualitas tidak
banyak dipengaruhi kecuali lemak, vitamin dan mineral.
Pada
dasarnya menu untuk ibu hamil dan menyusui porsi makan baik nasi maupun lauk
pauknya lebih banyak daripada sebelum hamil dan menyusui. Pesan penting bagi
ibu menyusui, antara lain:
a. Banyak makan sayuran yang beragam dan
banyak minum sedikitnya 8 gelas sehari,
b. Pemakaian bumbu jangan terlalu
merangsang, tidak pedas,
c. Tetap memperhatikan kecukupan gizi
rata-rata dianjurkan (2900 k.kal.)
Ibu menyusui
harus :
a. Mengkomsumsi tambahan 500 kalori setiap
hari
b. Makan dengan diet berimbang untuk
mendapatkan protein, mineral dan vitamin yang cukup
c. minum sedikitnya 3 liter air setiap hari
(anjurkan ibu minum setiap kali menyusui)
d. Pil zat besi (sulfas/glukonas ferrosus)
harus diminum untuk menambah xat gizi setidaknya selama 40 haro pasca bersalin
(setelah melahirkan)
e. Minum kapsul vitamin A (200.000 unit)
agar bisa memberikan vitamin A kepada anaknya melalui ASI (Air Susu Ibu)-nya.
Lingkup
promosi kesehatan terhadap ibu nifas meliputi nutrisi dan cairan, ambulasi,
eliminasi, kebersihan diri dan bayi, istirahat, sexual, latihan/senam nifas,
tanda bahaya, keluarga Berencana dan pemberian ASI.
Bidan tetap
mendampingi ibu selama 2 jam setelah pesalinan. Dalam masa nifas bidan
dianjurkan untuk menanyakan tentang perasaan ibu. Biasanya ibu merasa capek dan
lemas. Ibu dan bayi diberikan kesempatan untuk beristirahat. Saat ibu masih
merasa lemas, promosi kesehatan dapat diberikan melalui keluarga ibu nifas,
misanya keluarga pasien diberitahukan bawa ibu boleh minum dan makan ringan
setiap waktu, bangun bila mau kencing dan sebagainya.
Baru setelah
ibu merasa lebih baik dan bersedia diberikan pendidikan kesehatan, bidan
diperkenankan untuk memberikan pendidikan kesehatan. Itupun sedikit demi
sedikit sesuai kemampuan ibu. Pendidikan kesehatan yang diberikan misalnya
setelah melahirkan ibu boleh makan seperti biasa, setiap hari minum air putih
minimal 8 gelas, ibu diajari cara menyusui dan perawatan payudara, gizi ibu
nifas dan sebagainya. Diharapkan dengan memberikan promosi kesehatan pada ibu
nifas, ibu nifas dapat menghadapi masa nifas dengan baik dan normal.
Subscribe to:
Posts (Atom)