Showing posts with label Makalah. Show all posts
Showing posts with label Makalah. Show all posts

Thursday, September 19, 2013

Obesitas


Kata Pengantar
Rasa syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat-NYA makalah yang berjudul “Obesitas” dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
     Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas dari mata kuliah KESEHATAN REPRODUKSI  pada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Faathir Husada (Kelas Annisa). Selama penyusunan makalah ini penulis telah banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak dalam bentuk informasi, motivasi serta dorongan moral dan spiritual, sehingga makalah ini tersusun dan dapat diselesaikan sesuai dengan rencana.
     Disamping itu, penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna dan sudah barang tentu masih ada kesalahan-kesalahan yang luput dari pengamatan penulis. Oleh karena itu, tegur sapa dan kritik yang konstruktif dari pembaca untuk perbaikan dan penyempurnaan seperlunya sangat penulis harapkan.
     Pada akhirnya penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca.
            
                                    


Bogor, 2013

                                                                          Penulis




i
Daftar Isi
Kata Pengantar...........................................................................................................i
Daftar Isi.......................................................................................................................ii
BAB I Pendahuluan....................................................................................................1
BAB II Pembahasan...................................................................................................3
BAB III Penutup...........................................................................................................8
Referensi......................................................................................................................9















ii

BAB I
PENDAHULUAN
Kegemukan atau obesitas adalah suatu kondisi medis berupa kelebihan lemak tubuh yang terakumulasi sedemikian rupa sehingga menimbulkan dampak merugikan bagi kesehatan, yang kemudian menurunkan harapan hidup dan/atau meningkatkan masalah kesehatan.[1][2] Seseorang dianggap menderita kegemukan (obese) bila indeks massa tubuh (IMT), yaitu ukuran yang diperoleh dari hasil pembagian berat badan dalam kilogram dengan kuadrat tinggi badan dalam meter, lebih dari 30 kg/m2.[3]

Kegemukan meningkatkan peluang terjadinya berbagai macam penyakit, khususnya penyakit jantung, diabetes tipe 2, apnea tidur obstruktif, kanker tertentu, osteoartritis[2] dan asma[4][2][5]. Kegemukan sangat sering disebabkan oleh kombinasi antara asupan energi makanan yang berlebihan, kurangnya aktivitas fisik, dan kerentanan genetik, meskipun sebagian kecil kasus terutama disebabkan oleh gen, gangguan endokrin, obat-obatan atau penyakit psikiatri. Hanya sedikit bukti yang mendukung pandangan bahwa orang yang gemuk makan sedikit namun berat badannya bertambah karena metabolisme tubuh yang lambat; rata-rata orang gemuk mengeluarkan energi yang lebih besar dibandingkan orang yang kurus karena dibutuhkan energi untuk manjaga massa tubuh yang lebih besar.[6][7]

Pengaturan diet dan aktivitas fisik masih menjadi tata laksana utama kegemukan. Kualitas asupan dapat diperbaiki dengan mengurangi konsumsi makanan padat energi contohnya makanan yang tinggi lemak dan gula, serta dengan meningkatkan asupan serat. Obat-obatan anti-kegemukan dapat dikonsumsi untuk mengurangi selera makan atau menghambat penyerapan lemak, disertai dengan asupan diet yang tepat. Apabila diet, olahraga, dan obat-obatan belum efektif, maka balon lambung dapat membantu mengurangi berat badan, atau operasi dapat dilakukan untuk mengurangi volume lambung dan/atau panjang usus sehingga dapat memberikan rasa kenyang yang lebih dini dan menurunkan kemampuan penyerapan nutrisi dari makanan.[8][9]

Kegemukan adalah penyebab kematian yang dapat dicegah paling utama di dunia, dengan prevalensi pada orang dewasa dan anak yang semakin meningkat, sehingga pihak berwenang menganggap kegemukan sebagai salah satu masalah kesehatan masyarakat paling serius pada abad 21.[10] Kegemukan umumnya merupakan stigma di dunia modern (khususnya di Dunia barat), meskipun pada suatu waktu dalam sejarah, kegemukan secara luas dianggap sebagai simbol kekayaan dan kesuburan, dan masih dianggap demikian di beberapa bagian di dunia hingga sekarang.[2][11]




















BAB II
PEMBAHASAN

Overweight Sekarang, Menyesal di Kemudian Hari

 

Prevalensi remaja yang mengalami obesitas dan kegemukan di Indonesia semakin meningkat. Menurut Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat, tingkat obesitas pada remaja (usia 15-24 tahun) pada tahun 2007 bahkan mencapai 19.1%1. Bukan tidak mungkin angka ini terus meningkat. Padahal, kelebihan berat badan di usia remaja tidak hanya membuat kita mendapat “stigma” dari teman-teman, tetapi juga membuat kita lebih rentan terkena masalah serius di kemudian hari.
Gemuk Sekarang, Gemuk Nanti Juga.

Penelitian menunjukkan bahwa remaja yang mengalami kelebihan berat badan cenderung mengalami obesitas di usia dewasa2. Gawatnya, obesitas berkaitan erat dengan tingginya kadar lemak dan kolesterol dalam darah serta peningkatan resiko terkena diabetes, hipertensi, stroke, dan penyakit jantung yang berujung pada kematian dini2,3,4. That’s really bad!   Obesitas pun dapat mengakibatkan kesulitan bernafas saat tidur selain gangguan tulang dan sendi yang terjadi akibat kelebihan berat badan2. Tambahan lagi, penelitian menunjukkan bahwa orang dewasa yang mengalami obesitas cenderung menerima gaji yang lebih rendah dibandingkan rekan-rekan mereka yang tidak mengalami obesitas5!

Ternyata kelebihan berat badan di masa remaja tidak hanya memberikan kerugian di masa sekarang, tapi juga di masa dewasa nanti. Karena itu, sangatlah penting untuk mengatur pola makan dan berolahraga secara teratur.

Jaga Berat Tubuhnya Sekarang, Jaga Kesehatannya di Masa Depan

 

Memasuki masa remaja, metabolisme tubuh akan mengalami perubahan yang membuat penyimpanan lemak semakin meningkat1. Pada masa ini, berat badan harus dijaga. Apabila tidak, maka jumlah sel lemak akan terus meningkat tajam, sehingga meningkatkan risiko obesitas. Tentunya kamu  ngga mau tumbuh ke samping, kan?


Sel lemak yang terbentuk saat remaja juga akan terus terbawa sampai masa dewasa. Jadi, jika ketika remaja mengalami kegemukan, saat dewasa pun mereka lebih mudah mengalami risiko obesitas. Dengan terus menjaga berat badannya sejak remaja, maka kamu akan jauh dari risiko berbagai penyakit seperti diabetes dan jantung2. Perhatikan pola makan, aktivitas dan istirahat kamu. Konsumsi juga nutrisi yang terbaik, karena kamu adalah generasi masa depan yang bernilai.

Lose Sleep, Gain Weight

 

Sebagai remaja yang aktif, kita terkadang bergadang sampai tengah malam untuk mengerjakan tugas sekolah, menonton film yang seru, atau chatting dengan teman. Karena itu, kita harus lebih berhati-hati. Pasalnya, kurang tidur tidak hanya membuat kita mengantuk dan mudah lelah, tetapi juga dapat meningkatkan berat badan dan risiko obesitas!

Kebiasaan beraktivitas di malam hari membuat kita makan sambil bergadang. Akibatnya, konsumsi energi kita jadi berlebih. Apalagi, penelitian menunjukkan bahwa sewaktu bergadang kita cenderung makan makanan manis atau tinggi karbohidrat seperti mi instan, biskuit, coklat, bahkan fast food (1).

Selain itu, ketika kita kurang tidur, produksi hormon leptin dan ghrelin akan terganggu. Akibatnya, kita lebih cepat merasa lapar dan nafsu makan meningkat (1,2). Oke-oke aja kalau konsumsi buah-buahan kita meningkat. Tapi masalahnya, kurang tidur cenderung membuat kita cenderung lebih banyak makan makanan manis, tinggi karbohidrat, atau fast food. Berat badan pun meningkat. Tambahan lagi, gangguan terhadap produksi leptin dan ghrelin ini mengurangi sensitivitas terhadap insulin sehingga dapat memicu obesitas dan diabetes. Penelitian menunjukkan bahwa remaja yang tidur kurang dari 7 jam memiliki resiko lebih tinggi mengalami kelebihan berat badan dan obesitas (2).

Karena itu, sangatlah penting untuk mencukupi kebutuhan tidur. Dengan mencukupi kebutuhan tidur, kita dapat lebih fokus dan kinerja kita pun membaik. So, get enough sleep to stay alert!
Lack of Sleep and Obesity in Teen
 

Sibuk, sibuk.. Belajar buat ujian, bikin tugas sekolah, dan tentunya bergaul dengan teman-teman. Sebagai remaja dengan segudang aktivitas, seringkali waktu tidur kita kurang. Belum lagi, banyak godaan seperti browsing di internet atau chatting dengan teman yang membuat kita lupa dengan waktu tidur. Padahal, kurang tidur bisa berdampak negatif untuk kesehatan. Salah satunya, bisa bikin gemuk!


Mata Melek, Badan Melar
            Ternyata, berat badan berkaitan dengan waktu tidur. Penelitian yang melibatkan 723 anak remaja menunjukkan bahwa para remaja pria yang sering kurang tidur lebih rentan gemuk. Para remaja yang kurang tidur ini diketahui memiliki berat badan dan berat lemak yang lebih tinggi, dibandingkan dengan teman-temannya yang cukup tidur1.

Salah satu penyebabnya, pola makan kita berubah kalau kita kurang tidur. Kita cenderung makan lebih banyak, terutama makanan yang berlemak2. Perubahan pola makan ini diketahui berhubungan dengan peningkatan kadar hormon ghrelin. Hormon ghrelin dapat memicu rasa lapar sehingga kita jadi makan lebih banyak. Akibatnya, berat badan pun naik.

Kurang tidur juga bisa membuat kita lebih lemas sehingga kurang aktif. Padahal, aktif bergerak penting supaya kita gak gampang gemuk dan lebih sehat. Efek negatif lainnya, kita jadi sering ngantuk di kelas dan performa di sekolah pun jadi kurang optimal.

Sleep Tight
            Remaja disarankan untuk tidur malam sekitar 8,5-9,5 jam setiap harinya. Mungkin kita sering berpikir bahwa melakukan aktivitas lain itu lebih penting daripada tidur. Padahal, banyak hal yang terjadi tanpa kita sadari saat kita tidur yang penting untuk kesehatan dan perkembangan tubuh seperti perbaikan sel-sel tubuh, pembentukan otot dan tulang, serta perbaikan sistem kekebalan tubuh.

Kalau kamu sering susah tidur di malam hari, coba beberapa tips berikut:
1.      Biasakan untuk tidur dengan jadwal yang tetap setiap malamnya, dan mulailah bersiap-siap untuk tidur 10-30 menit sebelumnya
2.      Lakukan aktivitas yang ringan dan santai di malam hari
3.      Jauhkan diri dari hal-hal yang bisa membuat kamu batal tidur seperti main game, computer, atau handphone jika sudah dekat waktu tidur
4.      Suasana yang tenang dapat membantu agar kita mudah terlelap
5.      Mandi air hangat sebelum tidur yang juga dapat membantu menenangkan pikiran
6.      Selain tidur cukup, nutrisi yang seimbang juga penting untuk mendukung pola hidup remaja yang aktif dan sehat.

Dekat Dengan Kantin, Lebih Gemuk?
 

Di mana letak kelas kamu sekarang? Ternyata dapat kelas dekat dengan kantin bisa bikin kamu lebih gemuk lho! Nggak percaya?

Penelitian yang dimuat di Journal of Adolescent Health menunjukkan kalau mereka yang kelasnya dekat dengan kantin cenderung lebih gemuk dibandingkan dengan teman yang kelasnya lebih jauh dari kantin. Kalau dipikir-pikir, ada benarnya sih. Kelas lebih dekat kantin berarti kita lebih gampang dapat siomay Ibu Kantin yang enak itu. Selain itu, kita jadi semakin gampang jajan. Nggak heran, kita jadi lebih sering curi-curi beli es teh manis atau cemilan saat ganti jam pelajaran. Kalau begini terus, nggak cuma uang jajan cepat habis, kita jadi tumbuh ke samping!

Kalau sudah begini, berarti lebih beruntung teman kita yang kelasnya jauh dari kantin lho. Penelitian itu juga menunjukkan kalau remaja yang kelasnya lebih jauh dari kantin, berat badannya lebih ideal dan lebih sehat. Wajar saja, karena mereka perlu berjalan kaki agak jauh untuk sampai ke kantin. Kalau dihitung-hitung, kan lumayan juga untuk olahraga. Selain itu, teman yang kelasnya jauh pasti jadi lebih malas untuk jajan di sela-sela jam pelajaran. Nggak heran, mereka jadi lebih tahan godaan dan nggak makan berlebih.

Bagi kalian yang kelasnya jauh dari kantin, bersyukurlah! Kalian punya kesempatan lebih banyak untuk menjaga tubuh ideal kalian. Tapi jangan lantas karena kelasnya jauh kalian jadi menyetok jajanan lho. Ingat, asupan makanan perlu dikontrol supaya berat nggak terus naik.

Bagi kalian yang kelasnya dekat dari kantin, nggak perlu sampai minta pindah kelas biar tahan godaan. Kita siasati saja. Misalnya, kita jemput dulu teman atau gebetan yang kelasnya agak jauh sebelum makan bareng di kantin. Karena nggak terlalu lama di kantin, makan juga nggak nambah dong. Nah, untuk mengatasi godaan curi-curi jajan saat pergantian jam pelajaran, kamu bisa kok buka-buka bahan pelajaran selanjutnya. Siapa tahu ada kuis kecil. Dengan begini, godaan jajan bisa dihindari, nilai kamu pun bisa jadi lebih baik!





















BAB III
PENUTUP
Kegemukan atau obesitas adalah suatu kondisi medis berupa kelebihan lemak tubuh yang terakumulasi sedemikian rupa sehingga menimbulkan dampak merugikan bagi kesehatan, yang kemudian menurunkan harapan hidup dan/atau meningkatkan masalah kesehatan.[1][2] Seseorang dianggap menderita kegemukan (obese) bila indeks massa tubuh (IMT), yaitu ukuran yang diperoleh dari hasil pembagian berat badan dalam kilogram dengan kuadrat tinggi badan dalam meter, lebih dari 30 kg/m2.[3]
Prevalensi remaja yang mengalami obesitas dan kegemukan di Indonesia semakin meningkat. Menurut Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat, tingkat obesitas pada remaja (usia 15-24 tahun) pada tahun 2007 bahkan mencapai 19.1%1. Bukan tidak mungkin angka ini terus meningkat. Padahal, kelebihan berat badan di usia remaja tidak hanya membuat kita mendapat “stigma” dari teman-teman, tetapi juga membuat kita lebih rentan terkena masalah serius di kemudian hari.
Memasuki masa remaja, metabolisme tubuh akan mengalami perubahan yang membuat penyimpanan lemak semakin meningkat1. Pada masa ini, berat badan harus dijaga. Apabila tidak, maka jumlah sel lemak akan terus meningkat tajam, sehingga meningkatkan risiko obesitas.
Sebagai remaja yang aktif, kita terkadang bergadang sampai tengah malam untuk mengerjakan tugas sekolah, menonton film yang seru, atau chatting dengan teman. Karena itu, kita harus lebih berhati-hati. Pasalnya, kurang tidur tidak hanya membuat kita mengantuk dan mudah lelah, tetapi juga dapat meningkatkan berat badan dan risiko obesitas!
Sibuk, sibuk.. Belajar buat ujian, bikin tugas sekolah, dan tentunya bergaul dengan teman-teman. Sebagai remaja dengan segudang aktivitas, seringkali waktu tidur kita kurang. Belum lagi, banyak godaan seperti browsing di internet atau chatting dengan teman yang membuat kita lupa dengan waktu tidur. Padahal, kurang tidur bisa berdampak negatif untuk kesehatan. Salah satunya, bisa bikin gemuk!

Referensi
Detik News. “Angka Obesitas Remaja Indonesia Naik “. Selasa, 10 Oktober 2009. Accessed from http://www.detiknews.com/read/2009/02/10/142045/1082504/10/ angka-obesitas-remaja-indonesia-naik. Accessed 11 March 2010.
Adolescent Health Research Updates. 1998. Obesity in Adolescent. AHAC 7:1-8.
Ramos, Elisabete. 2007. Cardiovascular Risk Factors in Adolescence. Arquivos de Medicina 21(1): 25-35.
Gortmaker, S.L., et. al. 1993. “Social and Economic Consequences of Overweight in Adolescence and Young Adulthood.” New England Journal of Medicine 30: 1008-1012.
Mocan, H.N., and E. Tekin. 2009. Obesity, Self Esteem, and Wages. NBER Working Paper w15101. Availabel at SRRN: htpp://ssrn.com/abstract=1422979.
Grosvenor, M.B. dan Smolin, L.A. 2002. Nutrition: From Science To Life. Harcourt College Publishers, US.
 Am J Clin Nutr. 2009 Jan;89(1):90-6. Epub 2008 Dec 3
Nedeltcheva, A.V., J.M. Kilkus, J. Imperial, K. Kasza, D.A. Schoeller, and P.D. Penev. “Sleep Curtailment is Accompanied by Increased Intake of Calories from Snacks.” American Journal of Clinical Nutrition 89 (2009): 126-133.
Gangwisch, J.E., D. Malaspina, B.B. Albala, and S.B. Heymsfield. “Inadequate Sleep as a Risk Factor for Obesity: Analyses of the NHANES I.” Sleep 28 (2005): 1289-1296.
Meta-Analysis of Short Sleep Duration and Obesity in Children and Adults. Sleep. 2008. 31(5): 619-26.
 2. The association of sleep duration with adolescents’ fat and carbohydrate consumption. Sleep. 2010. 33(9):1201-9.
References:

Kapinos, K.A. and O. Yakusheva. 2010. Environmental Influences on Young Adult Weight Gain: Evidence from a Natural Experiment. Journal of Adolescent Health. Advanced Online Publication.

Masa Nifas


KATA PENGANTAR
    
 Rasa syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat-NYA makalah yang berjudul “Masa Nifas” dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
     Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas dari mata kuliah ASUHAN KEBIDANAN III  pada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Faathir Husada (Kelas Annisa). Selama penyusunan makalah ini penulis telah banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak dalam bentuk informasi, motivasi serta dorongan moral dan spiritual, sehingga makalah ini tersusun dan dapat diselesaikan sesuai dengan rencana.
     Disamping itu, penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna dan sudah barang tentu masih ada kesalahan-kesalahan yang luput dari pengamatan penulis. Oleh karena itu, tegur sapa dan kritik yang konstruktif dari pembaca untuk perbaikan dan penyempurnaan seperlunya sangat penulis harapkan.
     Pada akhirnya penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca.
            
                                    


Bogor, 2013

                                                                          Penulis



i
Daftar Isi
Kata Pengantar...........................................................................................................i
Daftar Isi.......................................................................................................................ii
Pendahuluan..............................................................................................................1
Pembahasan..............................................................................................................5
1.      Perubahan Fisiologis Masa Nifas Pada Sistem Pencernaan......................5
2.      Perubahan Fisiologis Masa Nifas Pada Sistem Perkemihan.......................6
3.      Diastasis Recti Abdominis...............................................................................8
Penutup.....................................................................................................................13
Daftar Pustaka..........................................................................................................14















ii
BAB I
PENDAHULUAN
Konsep Dasar Masa Nifas

Pengertian Masa Nifas
Masa nifas adalah masa dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai 6 minggu setelah melahirkan (Pusdiknakes, 2003:003).
Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil yang berlangsung kira-kira 6 minggu. (Abdul Bari,2000:122).
Masa nifas merupakan masa selama persalinan dan segera setelah kelahiran yang meliputi minggu-minggu berikutnya pada waktu saluran reproduksi kembali ke keadaan tidak hamil yang normal. (F.Gary cunningham,Mac Donald,1995:281).
Masa nifas adalah masa setelah seorang ibu melahirkan bayi yang dipergunakan untuk memulihkan kesehatannya kembali yang umumnya memerlukan waktu 6- 12 minggu. ( Ibrahim C, 1998).
Tujuan Asuhan Masa Nifas

Tujuan dari pemberian asuhan pada masa nifas untuk :
Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis.
Melaksanakan skrinning secara komprehensif, deteksi dini, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayi.
Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, KB, cara dan manfaat menyusui, pemberian imunisasi serta perawatan bayi sehari-hari.
Memberikan pelayanan keluarga berencana.
Mendapatkan kesehatan emosi.
Peran dan Tanggung Jawab Bidan dalam Masa Nifas

Bidan memiliki peranan yang sangat penting dalam pemberian asuhan post partum. Adapun peran dan tanggung jawab dalam masa nifas antara lain :
Memberikan dukungan secara berkesinambungan selama masa nifas sesuai dengan kebutuhan ibu untuk mengurangi ketegangan fisik dan psikologis selama masa nifas.
Sebagai promotor hubungan antara ibu dan bayi serta keluarga.
Mendorong ibu untuk menyusui bayinya dengan meningkatkan rasa nyaman.
Membuat kebijakan, perencana program kesehatan yang berkaitan ibu dan anak dan mampu melakukan kegiatan administrasi.
Mendeteksi komplikasi dan perlunya rujukan.
Memberikan konseling untuk ibu dan keluarganya mengenai cara mencegah perdarahan, mengenali tanda-tanda bahaya, menjaga gizi yang baik, serta mempraktekkan kebersihan yang aman.
Melakukan manajemen asuhan dengan cara mengumpulkan data, menetapkan diagnosa dan rencana tindakan serta melaksanakannya untuk mempercepat proses pemulihan, mencegah komplikasi dengan memenuhi kebutuhan ibu dan bayi selama priode nifas.
Memberikan asuhan secara professional.
Tahapan Masa Nifas

Masa nifas terbagi menjadi tiga tahapan, yaitu :
Puerperium dini
 Suatu masa kepulihan dimana ibu diperbolehkan untuk berdiri dan berjalan-jalan.
Puerperium intermedial
 Suatu masa dimana kepulihan dari organ-organ reproduksi selama kurang lebih enam minggu.
Remote puerperium
 Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat kembali dlam keadaan sempurna terutama ibu bila ibu selama hamil atau waktu persalinan mengalami komplikasi.
Kebijakan Program Nasional Masa Nifas

Kebijakan program nasional pada masa nifas yaitu paling sedikit empat kali melakukan kunjungan pada masa nifas, dengan tujuan untuk :
Menilai kondisi kesehatan ibu dan bayi.
Melakukan pencegahan terhadap kemungkinan-kemungkinan adanya gangguan kesehatan ibu nifas dan bayinya.
Mendeteksi adanya komplikasi atau masalah yang terjadi pada masa nifas.
Menangani komplikasi atau masalah yang timbul dan mengganggu kesehatan ibu nifas maupun bayinya.

Asuhan yang diberikan sewaktu melakukan kunjungan masa nifas:Kunjungan      Waktu            Asuhan
I           6-8 jam post partum          Mencegah perdarahan masa nifas oleh karena atonia uteri.
Mendeteksi dan perawatan penyebab lain perdarahan serta melakukan rujukan bila perdarahan berlanjut.
Memberikan konseling pada ibu dan keluarga tentang cara mencegah perdarahan yang disebabkan atonia uteri.
Pemberian ASI awal.
Mengajarkan cara mempererat hubungan antara ibu dan bayi baru lahir.
Menjaga bayi tetap sehat melalui pencegahan hipotermi.
Setelah bidan melakukan pertolongan persalinan, maka bidan harus menjaga ibu dan bayi untuk 2 jam pertama setelah kelahiran atau sampai keadaan ibu dan bayi baru lahir dalam keadaan baik.
II          6 hari post partum Memastikan involusi uterus barjalan dengan normal, uterus berkontraksi dengan baik, tinggi fundus uteri di bawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal.
Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi dan perdarahan.
Memastikan ibu mendapat istirahat yang cukup.
Memastikan ibu mendapat makanan yang bergizi dan cukup cairan.
Memastikan ibu menyusui dengan baik dan benar serta tidak ada tanda-tanda kesulitan menyusui.
Memberikan konseling tentang perawatan bayi baru lahir.
III         2 minggu post partum     Asuhan pada 2 minggu post partum sama dengan asuhan yang diberikan pada kunjungan 6 hari post partum.
IV        6 minggu post partum     Menanyakan penyulit-penyulit yang dialami ibu selama masa nifas.
Memberikan konseling KB secara dini.
















BAB II
PEMBAHASAN

1.   Perubahan Fisiologis Masa Nifas Pada Sistem Pencernaan

Sistem gastrointestinal selama kehamilan dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya tingginya kadar progesteron yang dapat mengganggu keseimbangan cairan tubuh, meningkatkan kolestrol darah, dan melambatkan kontraksi otot-otot polos. Pasca melahirkan, kadar progesteron juga mulai menurun. Namun demikian, faal usus memerlukan waktu 3-4 hari untuk kembali normal.

Beberapa hal yang berkaitan dengan perubahan pada sistem pencernaan, antara lain:
Nafsu makan.
Motilitas.
Pengosongan usus.
Nafsu Makan

Pasca melahirkan, biasanya ibu merasa lapar sehingga diperbolehkan untuk mengkonsumsi makanan. Pemulihan nafsu makan diperlukan waktu 3–4 hari sebelum faal usus kembali normal. Meskipun kadar progesteron menurun setelah melahirkan, asupan makanan juga mengalami penurunan selama satu atau dua hari.
Motilitas

Secara khas, penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap selama waktu yang singkat setelah bayi lahir. Kelebihan analgesia dan anastesia bisa memperlambat pengembalian tonus dan motilitas ke keadaan normal.
Pengosongan Usus

Pasca melahirkan, ibu sering mengalami konstipasi. Hal ini disebabkan tonus otot usus menurun selama proses persalinan dan awal masa pascapartum, diare sebelum persalinan, enema sebelum melahirkan, kurang makan, dehidrasi, hemoroid ataupun laserasi jalan lahir. Sistem pencernaan pada masa nifas membutuhkan waktu untuk kembali normal.

Beberapa cara agar ibu dapat buang air besar kembali teratur, antara lain:
Pemberian diet / makanan yang mengandung serat.
Pemberian cairan yang cukup.
Pengetahuan tentang pola eliminasi pasca melahirkan.
Pengetahuan tentang perawatan luka jalan lahir.
Bila usaha di atas tidak berhasil dapat dilakukan pemberian huknah atau obat yang lain.

2.   Perubahan Fisiologis Masa Nifas Pada Sistem Perkemihan

Pada masa hamil, perubahan hormonal yaitu kadar steroid tinggi yang berperan meningkatkan fungsi ginjal. Begitu sebaliknya, pada pasca melahirkan kadar steroid menurun sehingga menyebabkan penurunan fungsi ginjal. Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu satu bulan setelah wanita melahirkan. Urin dalam jumlah yang besar akan dihasilkan dalam waktu 12 – 36 jam sesudah melahirkan

Hal yang berkaitan dengan fungsi sistem perkemihan, antara lain:
Hemostatis internal.
Keseimbangan asam basa tubuh.
Pengeluaran sisa metabolisme.


Hemostatis internal.
Tubuh, terdiri dari air dan unsur-unsur yang larut di dalamnya, dan 70% dari cairan tubuh terletak di dalam sel-sel, yang disebut dengan cairan intraselular. Cairan ekstraselular terbagi dalam plasma darah, dan langsung diberikan untuk sel-sel yang disebut cairan interstisial. Beberapa hal yang berkaitan dengan cairan tubuh antara lain edema dan dehidrasi. Edema adalah tertimbunnya cairan dalam jaringan akibat gangguan keseimbangan cairan dalam tubuh. Dehidrasi adalah kekurangan cairan atau volume air yang terjadi pada tubuh karena pengeluaran berlebihan dan tidak diganti.

Keseimbangan asam basa tubuh.
 Keasaman dalam tubuh disebut PH. Batas normal PH cairan tubuh adalah 7,35-7,40. Bila PH >7,4 disebut alkalosis dan jika PH < 7,35 disebut asidosis.

Pengeluaran sisa metabolisme, racun dan zat toksin ginjal.
 Zat toksin ginjal mengekskresi hasil akhir dari metabolisme protein yang mengandung nitrogen terutama urea, asam urat dan kreatinin.

Ibu post partum dianjurkan segera buang air kecil, agar tidak mengganggu proses involusi uteri dan ibu merasa nyaman. Namun demikian, pasca melahirkan ibu merasa sulit buang air kecil.
 Hal yang menyebabkan kesulitan buang air kecil pada ibu post partum, antara lain:
Adanya odema trigonium yang menimbulkan obstruksi sehingga terjadi retensi urin.
Diaforesis yaitu mekanisme tubuh untuk mengurangi cairan yang teretansi dalam tubuh, terjadi selama 2 hari setelah melahirkan.
Depresi dari sfingter uretra oleh karena penekanan kepala janin dan spasme oleh iritasi muskulus sfingter ani selama persalinan, sehingga menyebabkan miksi.

Setelah plasenta dilahirkan, kadar hormon estrogen akan menurun, hilangnya peningkatan tekanan vena pada tingkat bawah, dan hilangnya peningkatan volume darah akibat kehamilan, hal ini merupakan mekanisme tubuh untuk mengatasi kelebihan cairan. Keadaan ini disebut dengan diuresis pasca partum. Ureter yang berdilatasi akan kembali normal dalam tempo 6 minggu.

Kehilangan cairan melalui keringat dan peningkatan jumlah urin menyebabkan penurunan berat badan sekitar 2,5 kg selama masa pasca partum. Pengeluaran kelebihan cairan yang tertimbun selama hamil kadang-kadang disebut kebalikan metabolisme air pada masa hamil (reversal of the water metabolisme of pregnancy).

Rortveit dkk (2003) menyatakan bahwa resiko inkontinensia urine pada pasien dengan persalinan pervaginam sekitar 70% lebih tinggi dibandingkan resiko serupa pada persalinan dengan Sectio Caesar. Sepuluh persen pasien pasca persalinan menderita inkontinensia (biasanya stres inkontinensia) yang kadang-kadang menetap sampai beberapa minggu pasca persalinan. Untuk mempercepat penyembuhan keadaan ini dapat dilakukan latihan pada otot dasar panggul.

Bila wanita pasca persalinan tidak dapat berkemih dalam waktu 4 jam pasca persalinan mungkin ada masalah dan sebaiknya segera dipasang dower kateter selama 24 jam. Bila kemudian keluhan tak dapat berkemih dalam waktu 4 jam, lakukan kateterisasi dan bila jumlah residu > 200 ml maka kemungkinan ada gangguan proses urinasinya. Maka kateter tetap terpasang dan dibuka 4 jam kemudian , bila volume urine < 200 ml, kateter dibuka dan pasien diharapkan dapat berkemih seperti biasa.

3. DIASTASIS RECTI ABDOMINIS

A.    Definisi
Diastasis rekti adalah pemisahan otot rektus abdominis lebih dari 2,5 cm pada tepat setinggi umbilikus (Noble, 1995) sebagai akibat pengaruh hormon terhadap linea alba serta akibat perenggangan mekanis dinding abdomen.

Diastasis recti abdominis umumnya terjadi di sekitar umbilikus, tetapi dapat terjadi di mana saja antara proses Xifoideus dan tulang kemaluan (pubis). Ini adalah hasil dari kelemahan peregangan otot perut dari perubahan hormon ibu dan ketegangan yang meningkat dengan membesarnya rahim. Diastasis recti abdominis dapat terjadi dalam berbagai derajat selama kehamilan dan tidak mungkin menyelesaikan secara spontan pada periode postpartum.

B.     Gejala diastasis recti abdominis
Diastasis recti abdominis tampak seperti punggung bukit, yang berjalan di tengah area perut. Ini membentang dari dasar proses Xifoideus ke tulang umbilicus dan kemaluan, dan dapat meningkat dengan adanya ketegangan otot.
Diastasis recti abdominis umumnya terjadi pada wanita yang memiliki kehamilan kembar yang menyebabkan peregangan oto yang berulang. Peregangan yang berlebihan pada kulit dan jaringan lunak di bagian depan dinding abdomen mungkin bisa jadi salah satu tanda kondisi diastasi recti abdominis yang tejadi pada awal kehamilan. Diastasis recti abdominis biasanya muncul pada trimester kedua. Insiden tertinggi terjadi pada trimester ketiga dan tetap tinggi pada periode pasca-melahirkan. Pada akhir kehamilan, bagian atas rahim (fundus uteri) sering terlihat menonjol keluar dari dinding abdomen. Garis bagian dari bayi yang belum lahir dapat dilihat dalam beberapa kasus yang parah. Fenomena ini lebih sering terjadi pada ibu dengan multiparitas, karena linea alba mengalami peregangan berulang. Diastasis recti abdominis lebih banyak terjadi pada wanita hamil yang tidak berolahraga dibandingkan dengan wanita hamil berolahraga.
Pemisahan otot recti abdominis dapat menyebabkan berbagai masalah. Tanpa adanya stabilisasi yang dinamis maka otot-otot perut akan membuat dinding perut menjadi lemah dan dapat membahayakan stabilitas batang dan mobilitas. Hal tesebut juga dapat mengakibatkan sakit punggung, disfungsi dasar panggul, hernia, cacat kosmetik dan pengiriman vagina. Jadi nyeri panggul adalah manifestasi paling umum dari diastasis recti abdominis. Sebuah studi retrospektif yang dilakukan pada tahun 2007 oleh Spitznagle et al meneliti prevalensi diastasis recti abdominis pada populasi pasien urogynecological dan ditemukan 66% dari semua pasien dengan diastasis recti abdominis memiliki dukungan yang berhubungan dengan disfungsi panggul (SPFD), diagnosa stres , inkontinensia urin, inkontinensia feses , dan organ panggul prolaps.

C.    Mendiagnosis diastasis recti abdominis
Ultrasonography (USG) merupakan metode yang akurat untuk mengukur diastasis rektus atas umbilikus dan di tingkat pusat. Namun karena ketebatasan alat kesehatan yg ada, penyedia layanan kesehatan dapat melakukan tes palpasi cepat untuk menilai diastasis recti abdominis. Diastasis recti abdominis sulit ditemukan pada perut dalam keadaan rileks. Sebuah pemeriksaan memerlukan kontraksi otot rektus abdominis, dan akan memungkinkan untuk penilaian diastasis recti abdominis. Sebuah pemisahan atau peregangan otot pada bagian tengah perut yang diukur setelah kehamilan umumnya memiliki lebar sekitar satu hingga dua jari dan tidak menjadi masalah. Tetapi jika lebar peregangan otot di garis tengah adalah  lebih dari dua setengah jari  dan lebarnya  tidak menyusut saat pasien mengencangkan otot perut nya serta terdapat gundukan kecil menonjol di garis tengah perut, maka pasien mungkin memiliki diastasis recti abdominis dan perlu mengambil tindakan pencegahan yang khusus untuk mengatasinya seperti dengan melakukan beberapa latihan dan kegiatan lainnya.
Diastasis recti abdominis terjadi jika dalam pemeriksaan tedapat peegangan otot atau pemisahan otot pada garis tengah perut hingga dua jari atau lebih atau ibu/pelayan kesehatan dapat memasukkan dua jari atau lebih ke dalam ruang unggul umbilikus. Pada kontraksi perut lanjut, pemisahan atau peregangan otot pada garis tengah perut harus menutup, namun jika masih ada peregangan yang lebarnya lebih besar dari 1 jari, itu merupakan diastasis recti abdominis positif. Seperti tes biasanya yang diberikan pada wanita postpartum untuk memeriksa integritas dari recti abdominis, dan harus ditekankan bahwa tes ini dapat dilakukan pada ibu pasca-caesar hanya setelah sayatan mereka sudah sembuh, sekitar 6-10 minggu setelah operasi.

D.    Pengelolaan
Manajemen konservatif, seperti latihan terapi spesifik yang diarahkan oleh fisioterapis, atau ahli kesehatan yang sangat paham mengenai diastasis recti abdominis, biasanya menjadi intervensi yg paling pertama. Latihan tersebut bertujuan untuk memperkuat otot inti yang mendalam, seperti abdominis transverses dan otot dasar panggul. Latihan perut yang buruk dapat menyebabkan peningkatan tekanan intra-abdomen, gaya ini dapat menyebabkan pemisahan recti lebih lanjut dan tonjolan yang menyertainya / hernia memburuk.
Oleh karena itu, penting untuk memantau diastasis recti abdominis (dan hernia jika ada) sebelum melakukan latihan pengencangan otot perut. Latihan perut tidak cocok meliputi sit up, kaki lurus menimbulkan, gerakan Pilates yaitu "100s" dan terutama kegiatan trunk rotasi, seperti berselang-seling sit up yang menargetkan obliques, dapat membuat peregangan otot perut yang berlebihan. Kelemahan pada otot inti memberikan kontribusi terhadap penutupan kekuatan yang cukup dari sendi sacroiliac yang menyebabkan ketidakstabilan panggul, yang akhirnya dapat mengakibatkan penurunan sakit punggung dan pinggul. Dalam keadaan yg buruk, pemisahan otot recti abdominis dapat mengakibatkan hernia. Oleh karena itu, saat pertama diastasis diidentifikasi, pasien diminta untuk membuat perjanjian awal dengan fisioterapis antara 2 sampai 3 minggu setelah melahirkan. Menindaklanjuti kunjungan berikutnya dilakukan pada 2, 3 atau dengan jarak 4 minggu setelahnya tergantung pada kondisi pasien yaitu kondisi otot perut pasien, kemampuan pasien untuk memahami program latihan, dan kepatuhan pasien untuk menindaklanjuti latihan.
Pada kunjungan awal, pasien diberikan petunjuk tentang mekanika tubuh yang benar, postur tubuh yang tepat, latihan yang tepat untuk mengaktifkan otot-otot perut, dan latihan yang tepat untuk kembali menguatkan otot recti abdominis tanpa meningkatkan tekanan intra-abdomen .
Pada setiap kunjungan berikutnya, pasien diajarkan untuk melatih kontrol konsentrik dan eksentrik dari otot-otot perut dan untuk mensimulasikan peran fungsional dari otot-otot perut dalam stabilisasi bagasi.
Rekomendasi kegiatan fisik dan olahraga di rumah dan masyarakat juga diberikan pada kunjungan berikutnya. Dukungan perut bantu / splints dapat direkomendasikan. Pasien dipulangkan saat diastasis recti abdominis sudah menutup.

E.     Prognosa
Pasien biasanya tidak dalam keadaan baik. Dalam kebanyakan kasus, diastasis recti abdominis biasanya sembuh sendiri selama periode postpartum 6 minggu sampai 3 bulan. Namun, diastasis recti abdominis juga dapat berlanjut lama. Intervensi lebih lanjut mungkin diperlukan jika pemulihan diastasis recti abdominis tidak terjadi. Latihan terapi spesifik dapat membantu meningkatkan kondisi. Hernia umbilikalis dapat terjadi dalam beberapa kasus. Jika nyeri hadir, operasi mungkin diperlukan. Secara umum, komplikasi hanya terjadi ketika hernia berkembang.

F.     Komplikasi diastasis recti abdominis
Hernia umbilikalis
Menurut Medline Ditambah Encyclopedia Medis, komplikasi paling serius diastasis recti adalah hernia umbilikalis. Sebuah hernia umbilikalis terjadi ketika pemisahan otot-otot perut memungkinkan bagian dari usus untuk menonjol.

Back Pain
Karena otot-otot perut Anda mendukung tulang belakang Anda, diastasis recti dapat menyebabkan nyeri kronis pada punggung bawah Anda. Rendah kembali sakit dapat menyebabkan sikap tubuh yang buruk.





BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Sistem gastrointestinal selama kehamilan dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya tingginya kadar progesteron yang dapat mengganggu keseimbangan cairan tubuh, meningkatkan kolestrol darah, dan melambatkan kontraksi otot-otot polos. Pasca melahirkan, kadar progesteron juga mulai menurun. Namun demikian, faal usus memerlukan waktu 3-4 hari untuk kembali normal.
Pada masa hamil, perubahan hormonal yaitu kadar steroid tinggi yang berperan meningkatkan fungsi ginjal. Begitu sebaliknya, pada pasca melahirkan kadar steroid menurun sehingga menyebabkan penurunan fungsi ginjal. Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu satu bulan setelah wanita melahirkan. Urin dalam jumlah yang besar akan dihasilkan dalam waktu 12 – 36 jam sesudah melahirkan
Wanita dengan diastasis recti abdominis lebih mungkin terjadi pada wanita yang usianya lebih tua dan dengan paritas tinggi, memiliki anak kembar, bayi yang lebih besar, dan kelahiran melalui operasi caesar. Studi menunjukkan bahwa pemulihan sebelumnya mungkin berhubungan dengan paritas rendah, kelahiran tunggal, penambahan berat badan di bawah 35 kilogram, berat lahir bayi <3,7 kg, tingkat peningkatan aktivitas sebelum, selama dan setelah kehamilan. Secara klinis, kepatuhan yang baik dengan program perawatan dan inisiasi awal pengobatan juga dapat meningkatkan pemulihan. Oleh karena itu, tindakan profilaksis, seperti pemeriksaan rutin / identifikasi diastasis recti abdominis dan diastasis manajemen recti abdominis berikutnya untuk semua ibu selama kehamilan dan periode pasca-melahirkan mungkin bermanfaat dalam jangka panjang.






DAFTAR PUSTAKA
Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia.
Anderson, DM. Mosby s Medical Dictionary. 6th ed. St Louis, Mo: Mosby; 2002.
Boissonnault J.S. & Blaschak MJ Insiden diastasis recti abdominis Selama Tahun subur.
Chiarello, C. M.  Penelitian Studi: Pengaruh Program Latihan di diastasis recti abdominis pada Wanita Hamil. Jurnal Terapi Kesehatan Fisik Wanita: 2005:29 (1), hlm 11-16.
Dessy, T., dkk. 2009. Perubahan Fisiologi Masa Nifas. Akademi Kebidanan Mamba’ul ‘Ulum Surakarta.
Ibrahim, Christin S, 1993, Perawatan Keebidanan (Perawatan Nifas), Bharata Niaga Media Jakarta
Marx J. Rosen Darurat Kedokteran: Konsep dan Praktek Klinis. 6th ed. St Louis, Mo: Mosby; 2006.
Mendes D.A. et al. Ultrasonografi untuk mengukur rektus abdominis diastasis otot. Acta Cir Bras. 2007:22 (3): p 182-6.
Pusdiknakes, 2003. Asuhan Kebidanan Post Partum. Jakarta: Pusdiknakes.
Saifudin, Abdul Bari Dkk, 2000, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Yayasan Bidan Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta
Saleha, 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika.
Spitznagle T.M., Leong F.C. dan Van Dillen L.R. Prevalensi diastasis recti abdominis pada populasi pasien urogynecological. International Journal Urogenikologi 2007: 18 (3), p 321-328, DOI: 10.1007/s00192-006-0143-5
 Suherni, 2008. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya.
Terapi Fisik Juli 1988vol. 68 (7), p 1.082-1.086
borneo-ufi.blog.friendster.com/2008/07/konsep-nifas-eklamsi-forceps/ diunduh 1 September 2009: 20.00 WIB.
Kuliahbidan. 2008. Perubahan dalam Masa Nifas. kuliahbidan.wordpress.com/2008/09/19/perubahan-dalam-masa-nifas/ diunduh 6 Feb 2010, 02:25 PM.
masanifas.blogspot.com/ diunduh 1 September 2009: 20.10 WIB.
scribd.com/doc/17226035/Post-Partum-Oke diunduh 8 Feb 2010, 11:46 PM.
 scribd.com/doc/24817163/Postpartum-Normal diunduh 12 Feb 2010, 04:46 PM.
Widjanarko, B. 2009. Masa Nifas. obfkumj.blogspot.com/ diunduh 9 Feb 2010, 04:07 PM.
yoana-widyasari.blogspot.com/2009/04/satuan-acara-pengajaran-s.html diunduh 1 September 2009: 20.05 WIB.
Zietraelmart. 2008. Perubahan Fisiologi Masa Nifas. zietraelmart.multiply.com/journal/item/22/PERUBAHAN_FISIOLOGIS_MASA_NIFAS diunduh 6 Feb 2010, 02:35 PM.
 Image, theasianparent.com


Health Education pada Ibu Nifas




1. Kebersihan diri atau personal hygiene.
Kebersihan diri ibu membantu mengurangi sumber infeksi dan meningkatkan perasaan nyaman pada ibu. Anjurkan ibu unutuk menjaga kebersihan diri dengan cara mandi yang teratur minimal 2 kali sehari, mengganti pakaian dan alas tempat tidur serta lingkungan dimana ibu tinggal. Ibu harus tetap bersih, segar dan wangi.
ü  a.Pakaian
Sebaiknya pakaian terbuat dari bahan yang mudah menyerap keringat karena produksi keringat menjadi banyak. Produksi keringat yang tinggi berguna untuk menghilangkan ekstra volume saat hamil. Sebaiknya, pakaian agak longgar di daerah dada sehingga payudara tidak tertekan dan kering.Demikian juga dengan pakaian dalam, agar tidak terjadi iritasi (lecet) pada daerah sekitarnya akibat lochea.

ü  b.Kebersihan rambut
Setelah bayi lahir, ibu mungkin akan mengalami kerontokan rambut akibat gangguan perubahan hormon sehingga keadaannya menjadi lebih tipis dibandingkan keadaan normal. Jumlah dan lamanya kerontokan berbeda-beda antara satu wanita dengan wanita yang lain. Meskipun demikian, kebanyakan akan pulih setelah beberapa bulan. Cuci rambut dengan conditioner yang cukup, lalu menggunakan sisir yang lembut.Hindari penggunaan pengering rambut.

ü  c.Kebersihan kulit
Setelah persalinan, ekstra cairan tubuh yang dibutuhkan saat hamil akan dikeluarkan kembali melalui air seni dan keringat untuk menghilangkan pembengkakan pada wajah, kaki, betis, dan tangan ibu. Oleh karena itu, dalam minggu-minggu pertama setelah melahirkan, ibu akan merasakan jumlah keringat yang lebih banyak dari biasanya. Usahakan mandi lebih sering dan jaga agar kulit tetap kering.

ü  d.Kebersihan vulva dan sekitarnya.
Mengajarkan ibu membersihkan daerah kelamin dengan cara membersihkan daerah di sekitar vulva terlebih dahulu, dari depan ke belakang, baru kemudian membersihkan daerah sekitar anus. Bersihkan vulva setiap kali buang air kecil atau besar.
Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut setidaknya dua kali sehari. Kain dapat digunakan ulang jika telah dicuci dengan baik dan dikeringkan di bawah matahari atau disetrika.
Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya.
Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, sarankan kepada ibu untuk menghindari menyentuh luka, cebok dengan air dingin atau cuci menggunakan sabun.
2. Perawatan Perineum
Merawat perineum dengan baik dengan menggunakan antiseptik (PK / Dethol) dan selalu diingat bahwa membersihkan perineum dari arah depan ke belakang. Jaga kebersihan diri secara keseluruhan untuk menghindari infeksi, baik pada luka jahitan maupun kulit.
Perawatan luka perineum bertujuan untuk mencegah infeksi, meningkatkan rasa nyaman dan mempercepat penyembuhan. Perawatan luka perineum dapat dilakukan dengan cara mencuci daerah genital dengan air dan sabun setiap kali habis BAK/BAB yang dimulai dengan mencuci bagian depan, baru kenudian daerah anus. Sebelum dan sesudahnya ibu dianjukan untuk mencuci tangan.Pembalut hendaknya diganti minimal 2 kali sehari.Bila pembalut yang dipakai ibu bukan pembalut habis pakai, pembalut dapat dipakai kembali dengan dicuci, dijemur dibawah sinar matahari dan disetrika.
DAFTAR PUSTAKA

Maulana, Heri.2009.Promosi Kesehatan. Jakarta : EGC

Notoatmojo,soekidjo.Prof,Dr.”Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni”.2007.Jakarta:PT.Rineka Cipta.

Notoatmojo,soekidjo.Prof,Dr.”Promosi Kesehatan dan ilmu Perilaku”.2007.Jakarta:PT.Rineka Cipta.

3. Nutrisi
Dalam masa nifas ibu membutuhkan gizi yang cukup. Gizi pada ibu menyusui sangat erat kaitannya dengan produksi air susu, yang sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang bayi. Kualitas dan jumlah makanan yang dikonsumsi ibu sangat berpengaruh pada jumlah ASI yang dihasilkan, ibu menyusui disarankan memperoleh tambahan zat makanan 800 Kkal yang digunakan untuk memproduksi ASI dan untuk aktifitas ibu itu sendiri.

Sebuah teori, maternal depletion syndrome menyatakan bahwa status gizi ibu setelah peristiwa kehamilan dan persalinan, kemudian diikuti masa laktasi, tidak segera pulih dan ditambah lagi pemenuhan gizi yang kurang, jumlah paritas yang banyak dengan jarak kehamilan yang pendek, akan menyebabkan ibu mengalami drainage gizi. Akibatnya ibu akan berada dalam status gizi yang kurang dengan akibat lebih lanjut pada ibu dan anaknya. Oleh karena itu, ibu yang menyusui anaknya harus diberikan pengetahuan tentang gizi.

Soal gizi ibu hamil maupun nifas, di mana bila gizi yang dibutuhkan, hampir mirip, tetap berpedoman pada 4 sehat 5 sempurna dengan menu seimbang. Kuantitas dan kualitas makanan ibu yang baik pada saat hamil maupun mana nifas akan mempengaruhi produksi ASI. Jika keadaan gizi ibu baik secara kuantitas, akan terproduksi ASI lebih banyak daripada ibu dengan gizi kurang. Sedangkan secara kualitas tidak banyak dipengaruhi kecuali lemak, vitamin dan mineral.

Pada dasarnya menu untuk ibu hamil dan menyusui porsi makan baik nasi maupun lauk pauknya lebih banyak daripada sebelum hamil dan menyusui. Pesan penting bagi ibu menyusui, antara lain:
a.       Banyak makan sayuran yang beragam dan banyak minum sedikitnya 8 gelas sehari,
b.      Pemakaian bumbu jangan terlalu merangsang, tidak pedas,
c.       Tetap memperhatikan kecukupan gizi rata-rata dianjurkan (2900 k.kal.)

Ibu menyusui harus :

a.       Mengkomsumsi tambahan 500 kalori setiap hari
b.      Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan vitamin yang cukup
c.      minum sedikitnya 3 liter air setiap hari (anjurkan ibu minum setiap kali menyusui)
d.      Pil zat besi (sulfas/glukonas ferrosus) harus diminum untuk menambah xat gizi setidaknya selama 40 haro pasca bersalin (setelah melahirkan)
e.       Minum kapsul vitamin A (200.000 unit) agar bisa memberikan vitamin A kepada anaknya melalui ASI (Air Susu Ibu)-nya.
Lingkup promosi kesehatan terhadap ibu nifas meliputi nutrisi dan cairan, ambulasi, eliminasi, kebersihan diri dan bayi, istirahat, sexual, latihan/senam nifas, tanda bahaya, keluarga Berencana dan pemberian ASI.
Bidan tetap mendampingi ibu selama 2 jam setelah pesalinan. Dalam masa nifas bidan dianjurkan untuk menanyakan tentang perasaan ibu. Biasanya ibu merasa capek dan lemas. Ibu dan bayi diberikan kesempatan untuk beristirahat. Saat ibu masih merasa lemas, promosi kesehatan dapat diberikan melalui keluarga ibu nifas, misanya keluarga pasien diberitahukan bawa ibu boleh minum dan makan ringan setiap waktu, bangun bila mau kencing dan sebagainya.
Baru setelah ibu merasa lebih baik dan bersedia diberikan pendidikan kesehatan, bidan diperkenankan untuk memberikan pendidikan kesehatan. Itupun sedikit demi sedikit sesuai kemampuan ibu. Pendidikan kesehatan yang diberikan misalnya setelah melahirkan ibu boleh makan seperti biasa, setiap hari minum air putih minimal 8 gelas, ibu diajari cara menyusui dan perawatan payudara, gizi ibu nifas dan sebagainya. Diharapkan dengan memberikan promosi kesehatan pada ibu nifas, ibu nifas dapat menghadapi masa nifas dengan baik dan normal.