Thursday, September 19, 2013

Jumlah Kotiledon dan Penyebab Perdarahan Post Partum


Plasenta
     
Struktur Plasenta

Plasenta merupakan organ penting bagi janin, karena sebagai alat pertukaran zat antara ibu dan bayi atau sebaliknya. Plasenta berbentuk bundar atau hampir bundar dengan diameter 15-20 cm dan tebal ± 2,5 cm, berat rata-rata 500 gram. Umumnya plasenta terbentuk lengkap pada kehamilan kurang dari 16 minggu dengan ruang amnion telah mengisi seluruh kavum uteri.

Plasenta terletak di depan atau di belakang dinding uterus, agak ke atas kearah fundus uteri, dikarenakan alasan fisiologis, permukaan bagian atas korpus uteri lebih luas, sehingga lebih banyak tempat untuk berimplementasi. Plasenta berasal dari sebagian besar dari bagian janin, yaitu villi koriales atau jonjot chorion dan sebagian kecil dari bagian ibu yang berasal dari desidua basalis.

Plasenta mempunyai dua permukaan, yaitu permukaan fetal dan maternal. Permukaan fetal adalah permukaan yang menghadap ke janin, warnanya keputih-putihan dan licin. Hal ini disebabkan karena permukaan fetal tertutup oleh amnion, di bawah nampak pembuluh-pembuluh darah. Permukaan maternal adalah permukaan yang menghadap dinding rahim, berwarna merah dan terbagi oleh celah-celah yang berasal dari jaringan ibu. Jumlah celah pada plasenta dibagi menjadi 16-20 kotiledon.
Gambar 1. Permukaan plasenta

Penampang plasenta terbagi menjadi dua bagian yang terbentuk oleh jaringan anak dan jaringan ibu. Bagian yang terdiri dari jaringan anak disebut membrana chorii, yang dibentuk oleh amnion, pembuluh darah janin, korion dan villi. Bagian dari jaringan ibu disebut piring desidua atau piring basal yang terdiri dari desidua compacta dan desidua spongiosa.
Gambar 2. Struktur plasenta
Pembentukan Plasenta

Perkembangan trofoblas berlangsung cepat pada hari ke 8-9, dari selapis sel tumbuh menjadi berlapis-lapis. Terbentuk rongga-rongga vakuola yang banyak pada lapisan sinsitiotrofoblas (selanjutnya disebut sinsitium) yang akhirnya saling berhubungan. Stadium ini disebut stadium berongga (lacunar stage).

Pertumbuhan sinsitium ke dalam stroma endometrium makin dalam kemudian terjadi perusakan endotel kapiler di sekitarnya, sehingga rongga-rongga sinsitium (sistem lakuna) tersebut dialiri masuk oleh darah ibu, membentuk sinusoid-sinusoid. Peristiwa ini menjadi awal terbentuknya sistem sirkulasi uteroplasenta/sistem sirkulasi feto-maternal.

Antara lapisan dalam sitotrofoblas dengan selapis sel selaput Heuser, terbentuk sekelompok sel baru yang berasal dari trofoblas dan membentuk jaringan penyambung yang lembut, yang disebut mesoderm ekstraembrional. Bagian yang berbatasan dengan sitotrofoblas disebut mesoderm ekstraembrional somatopleural, kemudian akan menjadi selaput korion (chorionic plate).

Bagian yang berbatasan dengan selaput Heuser dan menutupi bakal yolk sac disebut mesoderm ekstraembrional splanknopleural. Menjelang akhir minggu kedua (hari 13-14), seluruh lingkaran blastokista telah terbenam dalam uterus dan diliputi pertumbuhan trofoblas yang telah dialiri darah ibu. Meski demikian, hanya sistem trofoblas di daerah dekat embrioblas saja yang berkembang lebih aktif dibandingkan daerah lainnya.

Di dalam lapisan mesoderm ekstraembrional juga terbentuk celah-celah yang makin lama makin besar dan bersatu, sehingga terjadilah rongga yang memisahkan kandung kuning telur makin jauh dari sitotrofoblas. Rongga ini disebut rongga selom ekstraembrional (extraembryonal coelomic space) atau rongga korion (chorionic space).

Di sisi embrioblas (kutub embrional), tampak sel-sel kuboid lapisan sitotrofoblas mengadakan invasi ke arah lapisan sinsitium, membentuk sekelompok sel yang dikelilingi sinsitium disebut jonjot-jonjot primer (primary stem villi). Jonjot ini memanjang sampai bertemu dengan aliran darah ibu.

Pada awal minggu ketiga, mesoderm ekstraembrional somatopleural yang terdapat di bawah jonjot-jonjot primer (bagian dari selaput korion di daerah kutub embrional), ikut menginvasi ke dalam jonjot sehingga membentuk jonjot sekunder (secondary stem villi) yang terdiri dari inti mesoderm dilapisi selapis sel sitotrofoblas dan sinsitiotrofoblas.

Menjelang akhir minggu ketiga, dengan karakteristik angiogenik yang dimilikinya, mesoderm dalam jonjot tersebut berdiferensiasi menjadi sel darah dan pembuluh kapiler, sehingga jonjot yang tadinya hanya selular kemudian menjadi suatu jaringan vaskular (disebut jonjot tersier/tertiary stem villi).

Selom ekstraembrional/rongga korion makin lama makin luas, sehingga jaringan embrional makin terpisah dari sitotrofoblas/selaput korion, hanya dihubungkan oleh sedikit jaringan mesoderm yang kemudian menjadi tangkai penghubung (connecting stalk). Mesoderm connecting stalk yang juga memiliki kemampuan angiogenik, kemudian akan berkembang menjadi pembuluh darah dan connecting stalk tersebut akan menjadi tali pusat.

Setelah infiltrasi pembuluh darah trofoblas ke dalam sirkulasi uterus, seiring dengan perkembangan trofoblas menjadi plasenta dewasa, terbentuklah komponen sirkulasi utero-plasenta. Melalui pembuluh darah tali pusat, sirkulasi utero-plasenta dihubungkan dengan sirkulasi janin. Meskipun demikian, darah ibu dan darah janin tetap tidak bercampur menjadi satu (disebut sistem hemochorial), tetap terpisah oleh dinding pembuluh darah janin dan lapisan korion.

Dengan demikian, komponen sirkulasi dari ibu (maternal) berhubungan dengan komponen sirkulasi dari janin (fetal) melalui plasenta dan tali pusat. Sistem tersebut dinamakan sirkulasi feto-maternal.
Fungsi Plasenta

Fungsi dari plasenta adalah:
Nutrisi: tempat pertukaran zat dan pengambilan bahan nutrisi untuk tumbuh kembang janin
Respirasi: memberikan O2 dan mengeluarkan CO2 janin
Ekskresi: mengeluarkan sisa metabolisme janin
Endokrin: sebagai penghasil hormon-hormon kehamilan seperti HCG, HPL, esterogen, progesteron
Imunologi: menyalurkan berbagai komponen antibodi ke janin
Farmakologi: menyalurkan obat-obatan yang diperlukan janin, diberikan melalui ibu
Proteksi: barier terhadap infeksi bakteri dan virus, zat toksik
Tipe-Tipe Plasenta

Menurut bentuknya, plasenta terbagi menjadi:
Plasenta normal
Plasenta membranasea (tipis)
Plasenta suksenturiati (satu lobus terpisah)
Plasenta spuria
Plasenta bilobus (2 lobus)
Plasenta trilobus 3 lobus)

Menurut perlekatan pada dinding rahim, adalah sebagai berikut:
Plasenta adhesiva (lebih melekat)
Plasenta akreta (lebih melekat)
Plasenta inkreta (sampai ke otot polos)
Plasenta perkreta (sampai ke serosa)
Sirkulasi Darah Plasenta

Darah ibu yang berada di ruang interviller berasal dari spiral arteries yang berada di desidua basalis. Pada sistosel darah disemprotkan dengan tekanan 70-80 mmHg seperti air mancur ke dalam ruang interviler sampai mencapai chorionic plate, pangkal kotiledon-kotiledon janin. Darah tersebut membasahi semua villi koriales dan kembali perlahan-lahan dengan tekanan 80 mmHg menuju ke vena-vena di desidua.

Di tempat-tempat tertentu ada implantasi plasenta terdapat vena-vena yang lebar (sinus) untuk menampung darah kembali. Pada pinggir plasenta di beberapa tempat terdapat pula suatu rung vena yang luas untuk menampung darah yang berasal dari ruang interviller diatas. Ruang ini disebut sinus marginalis.

Darah ibu yang mengalir di seluruh plasenta diperkirakan naik dari 300 ml tiap menit pada kehamilan 20 minggu sampai 600 ml tiap menit pada kehamilan 40 minggu. Seluruh ruang interviller tanpa villi koriales mempunyai volume lebih kurang 150-250 ml. Permukaan semua villi koriales diperkirakan seluas lebih kurang 11 m2. Dengan demikian pertukaran zat-zat makanan terjamin benar.

Perubahan-perubahan terjadi pula pada jonjot-jonjot selama kehamilan berlangsung. Pada kehamilan 24 minggu lapisan sinsitium dari villi tidak berubah, akan tetapi dari lapisan sititrofoblas sel-sel berkurangdan hanya ditemukan sebagai kelompok sel-sel, stroma jonjot menjadi lebih padat, mengandung fagosit-fagosit, dan pembuluh-pembuluh darahnya menjadi lebih besar dan lebih mendekati lapisan trofoblas.

Pada kehamilan 36 minggu sebagian besar sel-sel sitotrofoblas tak ada lagi, akan tetapi antara sirkulasi ibu dan janin selalu ada lapisan trofoblas. Terjadi klasifikasi pembuluh-pembuluh darah dalam jonjot dan pembentukan fibrin di permukaan beberapa jonjot. Kedua hal terakhir ini mengakibatkan pertukaran zat-zat makanan, zat asam, dan sebagainya antara ibu dan janin mulai terganggu.

Deposit fibrin ini dapat terjadi sepanjang masa kehamilan sedangkan banyaknya juga berbeda-beda. Jika banyak, maka deposit ini dapat menutup villi dan villi itu kehilangan hubungan dengan darah ibu lalu berdegenerasi, timbullah infark.
Referensi

bidanshop.blogspot.com/2010/01/pentingnya-plasenta-ari-ari.html html unduh 25 maret 2011, 08:29 AM
 Depkes RI. 1993. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Dalam Konteks Keluarga. Cetakan Ke III. Jakarta.
 Kusmiyati, Y. 2010. Perawatan Ibu Hamil. Cetakan ke VI. Yogyakarta: Fitramaya.
 mitanadeki.blogspot.com/2011/01/struktur-fungsi-dan-sirkulasi-plasenta.html unduh 22 maret 2011, 01:29 AM
 Mochtar, R. 1998. Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi-Obstetri Patologi. Edisi 2. Jakarta: EGC
 Neil, W.R. 2001. Panduan Lengkap Perawatan Kehamilan. Jakarta: Dian Rakyat.
 restikikilestari.blogspot.com/2011/02/plasenta-dan-tali-pusat.html unduh 24 maret 2011, 04:20 AM
 Salmah, dkk. 2006. Asuhan Kebidanan Antenatal. Jakarta: EGC.
 Sulistyawati, A. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Kehamilan. Jakarta: Salemba Medika

Perdarahan Post Partum (Perdarahan Pasca Persalinan)
         

Perdarahan post partum atau perdarahan pasca persalinan adalah salah satu penyebab kematian ibu melahirkan. Tiga faktor utama penyebab kematian ibu melahirkan adalah perdarahan post partum atau perdarahan pasca persalinan, hipertensi saat hamil atau pre eklamasi dan infeksi. Perdarahan menempati prosentase tertinggi penyebab kematian ibu (28%). Di berbagai negara paling sedikit seperempat dari seluruh kematian ibu disebabkan oleh perdarahan, proporsinya berkisar antara kurang dari 10-60 %. Walaupun seorang perempuan bertahan hidup setelah mengalami pendarahan pasca persalinan, namun selanjutnya akan mengalami kekurangan darah yang berat (anemia berat) dan akan mengalami masalah kesehatan yang berkepanjangan (WHO).
Definisi Perdarahan Post Partum

Perdarahan pasca persalinan atau perdarahan post partum adalah perdarahan melebihi 500 ml yang terjadi setelah bayi lahir.

Kehilangan darah pasca persalinan seringkali diperhitungkan secara lebih rendah dengan perbedaan 30-50%. Kehilangan darah setelah persalinan per vaginam rata-rata 500 ml, dengan 5% ibu mengalami perdarahan > 1000 ml. Sedangkan kehilangan darah pasca persalinan dengan bedah sesar rata-rata 1000 ml.

Perkembangan terkini, perdarahan pasca persalinan didefinisikan sebagai 10% penurunan hematokrit sejak masuk atau perdarahan yang memerlukan transfusi darah.
Kejadian Perdarahan Post Partum

Kejadian perdarahan pasca persalinan atau perdarahan post partum sekitar 10-15% (4% pasca persalinan per vaginam dan 6-8% pasca persalinan bedah sesar).
Klasifikasi Perdarahan Post Partum
Perdarahan post partum dini (early postpartum hemorrhage) adalah perdarahan yang terjadi setelah bayi lahir dalam 24 jam pertama persalinan.
Perdarahan post partum sekunder (late postpartum hemorrhage) adalah perdarahan yang terjadi setelah 24 jam persalinan, kurang dari 6 minggu pasca persalinan.
Penyebab Perdarahan Post Partum

Perdarahan post partum dapat disebabkan oleh atonia uteri, robekan jalan lahir, retensio plasenta, sisa plasenta, inversio uteri dan kelainan pembekuan darah.
Gejala Klinik Perdarahan Post Partum

Lemah, limbung, keringat dingin, menggigil, hiperpnea, sistolik < 90 mmHG, nadi > 100x/m, Hb < 8 g%.
Diagnosis Perdarahan Post Partum

Atonia uteri

Faktor resiko: over distensi uterus oleh karena polihidramnion, hamil kembar, makrosomia janin; multi paritas, persalinan cepat atau lama, infeksi, riwayat atonia uteri, pemakaian obat relaksasi uterus.

Gejala: uterus tidak berkontraksi dan lembek, perdarahan segera setelah anak lahir.

Penyulit: syok, bekuan darah pada serviks atau posisi terlentang akan menghambat aliran darah keluar.
Robekan jalan lahir

Faktor resiko: persalinan per vaginam dengan tindakan, makrosomia janin, tindakan episiotomi.

Gejala: darah segar yang mengalir segera setelah bayi lahir, uterus berkontraksi keras dan plasenta lengkap.

Penyulit: pucat, lemah dan menggigil.
Retensio plasenta

Gejala : plasenta belum lahir setelah 30 menit, perdarahan segera, uterus berkontraksi dan keras.

Penyulit: tali pusat putus akibat traksi berlebihan, inversio uteri akibat tarikan, perdarahan lanjutan.
Retensio sisa plasenta atau ketuban

Gejala: plasenta atau sebagian selaput (mengandung pembuluh darah) tidak lengkap, perdarahan segera.

Penyulit: uterus berkontraksi tetapi tinggi fundus tidak kurang.
Inversio uteri

Insidensi : 1 dari 2500 kelahiran

Faktor resiko: atonia uteri, traksi tali pusat berlebihan, manual plasenta, plasentasi abnormal, kelainan uterus dan plasentasi pada fundus.

Gejala: uterus tidak teraba, lumen vagina terisi massa, tampak tali pusat, nyeri perut akut dan syok (30%).

Penyulit: neurogenik syok, pucat dan limbung.
Ruptur uteri

Insidensi: 1 dari 2000 kelahiran.

Faktor resiko: riwayat pembedahan uterus sebelumnya, persalinan terhambat, pemakaian oksitosin berlebihan, posisi janin abnormal, manipulasi uterus dalam persalinan.
Plasentasi abnormal

Paling sering adalah plasenta akreta.

Faktor resiko: riwayat pembedahan uterus sebelumnya, plasenta previa, kebiasaan merokok, multi grande para.
Koagulopati

Koagulopati kongenital dapat menjadi komplikasi pada 1-2 per 10.000 kehamilan.

Penyebab: terapi antikoagulan dan koagulan konsumtif yang disebabkan oleh komplikasi obstetrik.
Endometritis atau sisa fragmen plasenta

Gejala: sub involusi uterus, nyeri tekan perut bawah dan pada uterus, perdarahan, lokia mukopurulen dan berbau bila disertai infeksi.

Penyulit: anemia dan demam.
Penanganan Umum Perdarahan Post Partum
Selalu siap dengan tindakan gawat darurat.
Penatalaksanaan manajemen aktif kala III persalinan.
Meminta bantuan/pertolongan kepada petugas kesehatan lain.
Melakukan penilaian cepat keadaan umum ibu meliputi kesadaran nadi, tekanan darah, pernafasan dan suhu.
Penanganan syok apabila terjadi.
Pemeriksaan kandung kemih, apabila penuh segera kosongkan.
Mencari penyebab perdarahan dan melakukan pemeriksaan untuk menentukan penyebab perdarahan.
Referensi

Ambarwati, E. 2008. Asuhan Kebidanan (Nifas). Yogyakarta: Mitra Cendekia Press.
 Errol, N. 2008. At a Glance Obstetri dan Ginekologi. Edisi Kedua. Jakarta: Erlangga.
 Irmansyah, F. Perdarahan Post Partum dan Syok. freeppts.net/get.php?fid=35879  diunduh 6 September 2011. 03:05 AM
 Mochtar, R. 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC.
 The Asian Parent. Postpartum Haemorrhage. id.theasianparent.com/articles/postpartum_haemorrhage  diunduh 6 September 2011. 09:36 AM
Angka Kematian Ibu Melahirkan (AKI). menegpp.go.id..Diunduh 8 September 2011. 10:57 PM
Perdarahan Post Partum. scribd.com/doc/6502612/Perdarahan-Postpartum  diunduh 6 September 2011. 10.30 AM



Masa Nifas


KATA PENGANTAR
    
 Rasa syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat-NYA makalah yang berjudul “Masa Nifas” dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
     Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas dari mata kuliah ASUHAN KEBIDANAN III  pada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Faathir Husada (Kelas Annisa). Selama penyusunan makalah ini penulis telah banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak dalam bentuk informasi, motivasi serta dorongan moral dan spiritual, sehingga makalah ini tersusun dan dapat diselesaikan sesuai dengan rencana.
     Disamping itu, penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna dan sudah barang tentu masih ada kesalahan-kesalahan yang luput dari pengamatan penulis. Oleh karena itu, tegur sapa dan kritik yang konstruktif dari pembaca untuk perbaikan dan penyempurnaan seperlunya sangat penulis harapkan.
     Pada akhirnya penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca.
            
                                    


Bogor, 2013

                                                                          Penulis



i
Daftar Isi
Kata Pengantar...........................................................................................................i
Daftar Isi.......................................................................................................................ii
Pendahuluan..............................................................................................................1
Pembahasan..............................................................................................................5
1.      Perubahan Fisiologis Masa Nifas Pada Sistem Pencernaan......................5
2.      Perubahan Fisiologis Masa Nifas Pada Sistem Perkemihan.......................6
3.      Diastasis Recti Abdominis...............................................................................8
Penutup.....................................................................................................................13
Daftar Pustaka..........................................................................................................14















ii
BAB I
PENDAHULUAN
Konsep Dasar Masa Nifas

Pengertian Masa Nifas
Masa nifas adalah masa dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai 6 minggu setelah melahirkan (Pusdiknakes, 2003:003).
Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil yang berlangsung kira-kira 6 minggu. (Abdul Bari,2000:122).
Masa nifas merupakan masa selama persalinan dan segera setelah kelahiran yang meliputi minggu-minggu berikutnya pada waktu saluran reproduksi kembali ke keadaan tidak hamil yang normal. (F.Gary cunningham,Mac Donald,1995:281).
Masa nifas adalah masa setelah seorang ibu melahirkan bayi yang dipergunakan untuk memulihkan kesehatannya kembali yang umumnya memerlukan waktu 6- 12 minggu. ( Ibrahim C, 1998).
Tujuan Asuhan Masa Nifas

Tujuan dari pemberian asuhan pada masa nifas untuk :
Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis.
Melaksanakan skrinning secara komprehensif, deteksi dini, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayi.
Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, KB, cara dan manfaat menyusui, pemberian imunisasi serta perawatan bayi sehari-hari.
Memberikan pelayanan keluarga berencana.
Mendapatkan kesehatan emosi.
Peran dan Tanggung Jawab Bidan dalam Masa Nifas

Bidan memiliki peranan yang sangat penting dalam pemberian asuhan post partum. Adapun peran dan tanggung jawab dalam masa nifas antara lain :
Memberikan dukungan secara berkesinambungan selama masa nifas sesuai dengan kebutuhan ibu untuk mengurangi ketegangan fisik dan psikologis selama masa nifas.
Sebagai promotor hubungan antara ibu dan bayi serta keluarga.
Mendorong ibu untuk menyusui bayinya dengan meningkatkan rasa nyaman.
Membuat kebijakan, perencana program kesehatan yang berkaitan ibu dan anak dan mampu melakukan kegiatan administrasi.
Mendeteksi komplikasi dan perlunya rujukan.
Memberikan konseling untuk ibu dan keluarganya mengenai cara mencegah perdarahan, mengenali tanda-tanda bahaya, menjaga gizi yang baik, serta mempraktekkan kebersihan yang aman.
Melakukan manajemen asuhan dengan cara mengumpulkan data, menetapkan diagnosa dan rencana tindakan serta melaksanakannya untuk mempercepat proses pemulihan, mencegah komplikasi dengan memenuhi kebutuhan ibu dan bayi selama priode nifas.
Memberikan asuhan secara professional.
Tahapan Masa Nifas

Masa nifas terbagi menjadi tiga tahapan, yaitu :
Puerperium dini
 Suatu masa kepulihan dimana ibu diperbolehkan untuk berdiri dan berjalan-jalan.
Puerperium intermedial
 Suatu masa dimana kepulihan dari organ-organ reproduksi selama kurang lebih enam minggu.
Remote puerperium
 Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat kembali dlam keadaan sempurna terutama ibu bila ibu selama hamil atau waktu persalinan mengalami komplikasi.
Kebijakan Program Nasional Masa Nifas

Kebijakan program nasional pada masa nifas yaitu paling sedikit empat kali melakukan kunjungan pada masa nifas, dengan tujuan untuk :
Menilai kondisi kesehatan ibu dan bayi.
Melakukan pencegahan terhadap kemungkinan-kemungkinan adanya gangguan kesehatan ibu nifas dan bayinya.
Mendeteksi adanya komplikasi atau masalah yang terjadi pada masa nifas.
Menangani komplikasi atau masalah yang timbul dan mengganggu kesehatan ibu nifas maupun bayinya.

Asuhan yang diberikan sewaktu melakukan kunjungan masa nifas:Kunjungan      Waktu            Asuhan
I           6-8 jam post partum          Mencegah perdarahan masa nifas oleh karena atonia uteri.
Mendeteksi dan perawatan penyebab lain perdarahan serta melakukan rujukan bila perdarahan berlanjut.
Memberikan konseling pada ibu dan keluarga tentang cara mencegah perdarahan yang disebabkan atonia uteri.
Pemberian ASI awal.
Mengajarkan cara mempererat hubungan antara ibu dan bayi baru lahir.
Menjaga bayi tetap sehat melalui pencegahan hipotermi.
Setelah bidan melakukan pertolongan persalinan, maka bidan harus menjaga ibu dan bayi untuk 2 jam pertama setelah kelahiran atau sampai keadaan ibu dan bayi baru lahir dalam keadaan baik.
II          6 hari post partum Memastikan involusi uterus barjalan dengan normal, uterus berkontraksi dengan baik, tinggi fundus uteri di bawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal.
Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi dan perdarahan.
Memastikan ibu mendapat istirahat yang cukup.
Memastikan ibu mendapat makanan yang bergizi dan cukup cairan.
Memastikan ibu menyusui dengan baik dan benar serta tidak ada tanda-tanda kesulitan menyusui.
Memberikan konseling tentang perawatan bayi baru lahir.
III         2 minggu post partum     Asuhan pada 2 minggu post partum sama dengan asuhan yang diberikan pada kunjungan 6 hari post partum.
IV        6 minggu post partum     Menanyakan penyulit-penyulit yang dialami ibu selama masa nifas.
Memberikan konseling KB secara dini.
















BAB II
PEMBAHASAN

1.   Perubahan Fisiologis Masa Nifas Pada Sistem Pencernaan

Sistem gastrointestinal selama kehamilan dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya tingginya kadar progesteron yang dapat mengganggu keseimbangan cairan tubuh, meningkatkan kolestrol darah, dan melambatkan kontraksi otot-otot polos. Pasca melahirkan, kadar progesteron juga mulai menurun. Namun demikian, faal usus memerlukan waktu 3-4 hari untuk kembali normal.

Beberapa hal yang berkaitan dengan perubahan pada sistem pencernaan, antara lain:
Nafsu makan.
Motilitas.
Pengosongan usus.
Nafsu Makan

Pasca melahirkan, biasanya ibu merasa lapar sehingga diperbolehkan untuk mengkonsumsi makanan. Pemulihan nafsu makan diperlukan waktu 3–4 hari sebelum faal usus kembali normal. Meskipun kadar progesteron menurun setelah melahirkan, asupan makanan juga mengalami penurunan selama satu atau dua hari.
Motilitas

Secara khas, penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap selama waktu yang singkat setelah bayi lahir. Kelebihan analgesia dan anastesia bisa memperlambat pengembalian tonus dan motilitas ke keadaan normal.
Pengosongan Usus

Pasca melahirkan, ibu sering mengalami konstipasi. Hal ini disebabkan tonus otot usus menurun selama proses persalinan dan awal masa pascapartum, diare sebelum persalinan, enema sebelum melahirkan, kurang makan, dehidrasi, hemoroid ataupun laserasi jalan lahir. Sistem pencernaan pada masa nifas membutuhkan waktu untuk kembali normal.

Beberapa cara agar ibu dapat buang air besar kembali teratur, antara lain:
Pemberian diet / makanan yang mengandung serat.
Pemberian cairan yang cukup.
Pengetahuan tentang pola eliminasi pasca melahirkan.
Pengetahuan tentang perawatan luka jalan lahir.
Bila usaha di atas tidak berhasil dapat dilakukan pemberian huknah atau obat yang lain.

2.   Perubahan Fisiologis Masa Nifas Pada Sistem Perkemihan

Pada masa hamil, perubahan hormonal yaitu kadar steroid tinggi yang berperan meningkatkan fungsi ginjal. Begitu sebaliknya, pada pasca melahirkan kadar steroid menurun sehingga menyebabkan penurunan fungsi ginjal. Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu satu bulan setelah wanita melahirkan. Urin dalam jumlah yang besar akan dihasilkan dalam waktu 12 – 36 jam sesudah melahirkan

Hal yang berkaitan dengan fungsi sistem perkemihan, antara lain:
Hemostatis internal.
Keseimbangan asam basa tubuh.
Pengeluaran sisa metabolisme.


Hemostatis internal.
Tubuh, terdiri dari air dan unsur-unsur yang larut di dalamnya, dan 70% dari cairan tubuh terletak di dalam sel-sel, yang disebut dengan cairan intraselular. Cairan ekstraselular terbagi dalam plasma darah, dan langsung diberikan untuk sel-sel yang disebut cairan interstisial. Beberapa hal yang berkaitan dengan cairan tubuh antara lain edema dan dehidrasi. Edema adalah tertimbunnya cairan dalam jaringan akibat gangguan keseimbangan cairan dalam tubuh. Dehidrasi adalah kekurangan cairan atau volume air yang terjadi pada tubuh karena pengeluaran berlebihan dan tidak diganti.

Keseimbangan asam basa tubuh.
 Keasaman dalam tubuh disebut PH. Batas normal PH cairan tubuh adalah 7,35-7,40. Bila PH >7,4 disebut alkalosis dan jika PH < 7,35 disebut asidosis.

Pengeluaran sisa metabolisme, racun dan zat toksin ginjal.
 Zat toksin ginjal mengekskresi hasil akhir dari metabolisme protein yang mengandung nitrogen terutama urea, asam urat dan kreatinin.

Ibu post partum dianjurkan segera buang air kecil, agar tidak mengganggu proses involusi uteri dan ibu merasa nyaman. Namun demikian, pasca melahirkan ibu merasa sulit buang air kecil.
 Hal yang menyebabkan kesulitan buang air kecil pada ibu post partum, antara lain:
Adanya odema trigonium yang menimbulkan obstruksi sehingga terjadi retensi urin.
Diaforesis yaitu mekanisme tubuh untuk mengurangi cairan yang teretansi dalam tubuh, terjadi selama 2 hari setelah melahirkan.
Depresi dari sfingter uretra oleh karena penekanan kepala janin dan spasme oleh iritasi muskulus sfingter ani selama persalinan, sehingga menyebabkan miksi.

Setelah plasenta dilahirkan, kadar hormon estrogen akan menurun, hilangnya peningkatan tekanan vena pada tingkat bawah, dan hilangnya peningkatan volume darah akibat kehamilan, hal ini merupakan mekanisme tubuh untuk mengatasi kelebihan cairan. Keadaan ini disebut dengan diuresis pasca partum. Ureter yang berdilatasi akan kembali normal dalam tempo 6 minggu.

Kehilangan cairan melalui keringat dan peningkatan jumlah urin menyebabkan penurunan berat badan sekitar 2,5 kg selama masa pasca partum. Pengeluaran kelebihan cairan yang tertimbun selama hamil kadang-kadang disebut kebalikan metabolisme air pada masa hamil (reversal of the water metabolisme of pregnancy).

Rortveit dkk (2003) menyatakan bahwa resiko inkontinensia urine pada pasien dengan persalinan pervaginam sekitar 70% lebih tinggi dibandingkan resiko serupa pada persalinan dengan Sectio Caesar. Sepuluh persen pasien pasca persalinan menderita inkontinensia (biasanya stres inkontinensia) yang kadang-kadang menetap sampai beberapa minggu pasca persalinan. Untuk mempercepat penyembuhan keadaan ini dapat dilakukan latihan pada otot dasar panggul.

Bila wanita pasca persalinan tidak dapat berkemih dalam waktu 4 jam pasca persalinan mungkin ada masalah dan sebaiknya segera dipasang dower kateter selama 24 jam. Bila kemudian keluhan tak dapat berkemih dalam waktu 4 jam, lakukan kateterisasi dan bila jumlah residu > 200 ml maka kemungkinan ada gangguan proses urinasinya. Maka kateter tetap terpasang dan dibuka 4 jam kemudian , bila volume urine < 200 ml, kateter dibuka dan pasien diharapkan dapat berkemih seperti biasa.

3. DIASTASIS RECTI ABDOMINIS

A.    Definisi
Diastasis rekti adalah pemisahan otot rektus abdominis lebih dari 2,5 cm pada tepat setinggi umbilikus (Noble, 1995) sebagai akibat pengaruh hormon terhadap linea alba serta akibat perenggangan mekanis dinding abdomen.

Diastasis recti abdominis umumnya terjadi di sekitar umbilikus, tetapi dapat terjadi di mana saja antara proses Xifoideus dan tulang kemaluan (pubis). Ini adalah hasil dari kelemahan peregangan otot perut dari perubahan hormon ibu dan ketegangan yang meningkat dengan membesarnya rahim. Diastasis recti abdominis dapat terjadi dalam berbagai derajat selama kehamilan dan tidak mungkin menyelesaikan secara spontan pada periode postpartum.

B.     Gejala diastasis recti abdominis
Diastasis recti abdominis tampak seperti punggung bukit, yang berjalan di tengah area perut. Ini membentang dari dasar proses Xifoideus ke tulang umbilicus dan kemaluan, dan dapat meningkat dengan adanya ketegangan otot.
Diastasis recti abdominis umumnya terjadi pada wanita yang memiliki kehamilan kembar yang menyebabkan peregangan oto yang berulang. Peregangan yang berlebihan pada kulit dan jaringan lunak di bagian depan dinding abdomen mungkin bisa jadi salah satu tanda kondisi diastasi recti abdominis yang tejadi pada awal kehamilan. Diastasis recti abdominis biasanya muncul pada trimester kedua. Insiden tertinggi terjadi pada trimester ketiga dan tetap tinggi pada periode pasca-melahirkan. Pada akhir kehamilan, bagian atas rahim (fundus uteri) sering terlihat menonjol keluar dari dinding abdomen. Garis bagian dari bayi yang belum lahir dapat dilihat dalam beberapa kasus yang parah. Fenomena ini lebih sering terjadi pada ibu dengan multiparitas, karena linea alba mengalami peregangan berulang. Diastasis recti abdominis lebih banyak terjadi pada wanita hamil yang tidak berolahraga dibandingkan dengan wanita hamil berolahraga.
Pemisahan otot recti abdominis dapat menyebabkan berbagai masalah. Tanpa adanya stabilisasi yang dinamis maka otot-otot perut akan membuat dinding perut menjadi lemah dan dapat membahayakan stabilitas batang dan mobilitas. Hal tesebut juga dapat mengakibatkan sakit punggung, disfungsi dasar panggul, hernia, cacat kosmetik dan pengiriman vagina. Jadi nyeri panggul adalah manifestasi paling umum dari diastasis recti abdominis. Sebuah studi retrospektif yang dilakukan pada tahun 2007 oleh Spitznagle et al meneliti prevalensi diastasis recti abdominis pada populasi pasien urogynecological dan ditemukan 66% dari semua pasien dengan diastasis recti abdominis memiliki dukungan yang berhubungan dengan disfungsi panggul (SPFD), diagnosa stres , inkontinensia urin, inkontinensia feses , dan organ panggul prolaps.

C.    Mendiagnosis diastasis recti abdominis
Ultrasonography (USG) merupakan metode yang akurat untuk mengukur diastasis rektus atas umbilikus dan di tingkat pusat. Namun karena ketebatasan alat kesehatan yg ada, penyedia layanan kesehatan dapat melakukan tes palpasi cepat untuk menilai diastasis recti abdominis. Diastasis recti abdominis sulit ditemukan pada perut dalam keadaan rileks. Sebuah pemeriksaan memerlukan kontraksi otot rektus abdominis, dan akan memungkinkan untuk penilaian diastasis recti abdominis. Sebuah pemisahan atau peregangan otot pada bagian tengah perut yang diukur setelah kehamilan umumnya memiliki lebar sekitar satu hingga dua jari dan tidak menjadi masalah. Tetapi jika lebar peregangan otot di garis tengah adalah  lebih dari dua setengah jari  dan lebarnya  tidak menyusut saat pasien mengencangkan otot perut nya serta terdapat gundukan kecil menonjol di garis tengah perut, maka pasien mungkin memiliki diastasis recti abdominis dan perlu mengambil tindakan pencegahan yang khusus untuk mengatasinya seperti dengan melakukan beberapa latihan dan kegiatan lainnya.
Diastasis recti abdominis terjadi jika dalam pemeriksaan tedapat peegangan otot atau pemisahan otot pada garis tengah perut hingga dua jari atau lebih atau ibu/pelayan kesehatan dapat memasukkan dua jari atau lebih ke dalam ruang unggul umbilikus. Pada kontraksi perut lanjut, pemisahan atau peregangan otot pada garis tengah perut harus menutup, namun jika masih ada peregangan yang lebarnya lebih besar dari 1 jari, itu merupakan diastasis recti abdominis positif. Seperti tes biasanya yang diberikan pada wanita postpartum untuk memeriksa integritas dari recti abdominis, dan harus ditekankan bahwa tes ini dapat dilakukan pada ibu pasca-caesar hanya setelah sayatan mereka sudah sembuh, sekitar 6-10 minggu setelah operasi.

D.    Pengelolaan
Manajemen konservatif, seperti latihan terapi spesifik yang diarahkan oleh fisioterapis, atau ahli kesehatan yang sangat paham mengenai diastasis recti abdominis, biasanya menjadi intervensi yg paling pertama. Latihan tersebut bertujuan untuk memperkuat otot inti yang mendalam, seperti abdominis transverses dan otot dasar panggul. Latihan perut yang buruk dapat menyebabkan peningkatan tekanan intra-abdomen, gaya ini dapat menyebabkan pemisahan recti lebih lanjut dan tonjolan yang menyertainya / hernia memburuk.
Oleh karena itu, penting untuk memantau diastasis recti abdominis (dan hernia jika ada) sebelum melakukan latihan pengencangan otot perut. Latihan perut tidak cocok meliputi sit up, kaki lurus menimbulkan, gerakan Pilates yaitu "100s" dan terutama kegiatan trunk rotasi, seperti berselang-seling sit up yang menargetkan obliques, dapat membuat peregangan otot perut yang berlebihan. Kelemahan pada otot inti memberikan kontribusi terhadap penutupan kekuatan yang cukup dari sendi sacroiliac yang menyebabkan ketidakstabilan panggul, yang akhirnya dapat mengakibatkan penurunan sakit punggung dan pinggul. Dalam keadaan yg buruk, pemisahan otot recti abdominis dapat mengakibatkan hernia. Oleh karena itu, saat pertama diastasis diidentifikasi, pasien diminta untuk membuat perjanjian awal dengan fisioterapis antara 2 sampai 3 minggu setelah melahirkan. Menindaklanjuti kunjungan berikutnya dilakukan pada 2, 3 atau dengan jarak 4 minggu setelahnya tergantung pada kondisi pasien yaitu kondisi otot perut pasien, kemampuan pasien untuk memahami program latihan, dan kepatuhan pasien untuk menindaklanjuti latihan.
Pada kunjungan awal, pasien diberikan petunjuk tentang mekanika tubuh yang benar, postur tubuh yang tepat, latihan yang tepat untuk mengaktifkan otot-otot perut, dan latihan yang tepat untuk kembali menguatkan otot recti abdominis tanpa meningkatkan tekanan intra-abdomen .
Pada setiap kunjungan berikutnya, pasien diajarkan untuk melatih kontrol konsentrik dan eksentrik dari otot-otot perut dan untuk mensimulasikan peran fungsional dari otot-otot perut dalam stabilisasi bagasi.
Rekomendasi kegiatan fisik dan olahraga di rumah dan masyarakat juga diberikan pada kunjungan berikutnya. Dukungan perut bantu / splints dapat direkomendasikan. Pasien dipulangkan saat diastasis recti abdominis sudah menutup.

E.     Prognosa
Pasien biasanya tidak dalam keadaan baik. Dalam kebanyakan kasus, diastasis recti abdominis biasanya sembuh sendiri selama periode postpartum 6 minggu sampai 3 bulan. Namun, diastasis recti abdominis juga dapat berlanjut lama. Intervensi lebih lanjut mungkin diperlukan jika pemulihan diastasis recti abdominis tidak terjadi. Latihan terapi spesifik dapat membantu meningkatkan kondisi. Hernia umbilikalis dapat terjadi dalam beberapa kasus. Jika nyeri hadir, operasi mungkin diperlukan. Secara umum, komplikasi hanya terjadi ketika hernia berkembang.

F.     Komplikasi diastasis recti abdominis
Hernia umbilikalis
Menurut Medline Ditambah Encyclopedia Medis, komplikasi paling serius diastasis recti adalah hernia umbilikalis. Sebuah hernia umbilikalis terjadi ketika pemisahan otot-otot perut memungkinkan bagian dari usus untuk menonjol.

Back Pain
Karena otot-otot perut Anda mendukung tulang belakang Anda, diastasis recti dapat menyebabkan nyeri kronis pada punggung bawah Anda. Rendah kembali sakit dapat menyebabkan sikap tubuh yang buruk.





BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Sistem gastrointestinal selama kehamilan dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya tingginya kadar progesteron yang dapat mengganggu keseimbangan cairan tubuh, meningkatkan kolestrol darah, dan melambatkan kontraksi otot-otot polos. Pasca melahirkan, kadar progesteron juga mulai menurun. Namun demikian, faal usus memerlukan waktu 3-4 hari untuk kembali normal.
Pada masa hamil, perubahan hormonal yaitu kadar steroid tinggi yang berperan meningkatkan fungsi ginjal. Begitu sebaliknya, pada pasca melahirkan kadar steroid menurun sehingga menyebabkan penurunan fungsi ginjal. Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu satu bulan setelah wanita melahirkan. Urin dalam jumlah yang besar akan dihasilkan dalam waktu 12 – 36 jam sesudah melahirkan
Wanita dengan diastasis recti abdominis lebih mungkin terjadi pada wanita yang usianya lebih tua dan dengan paritas tinggi, memiliki anak kembar, bayi yang lebih besar, dan kelahiran melalui operasi caesar. Studi menunjukkan bahwa pemulihan sebelumnya mungkin berhubungan dengan paritas rendah, kelahiran tunggal, penambahan berat badan di bawah 35 kilogram, berat lahir bayi <3,7 kg, tingkat peningkatan aktivitas sebelum, selama dan setelah kehamilan. Secara klinis, kepatuhan yang baik dengan program perawatan dan inisiasi awal pengobatan juga dapat meningkatkan pemulihan. Oleh karena itu, tindakan profilaksis, seperti pemeriksaan rutin / identifikasi diastasis recti abdominis dan diastasis manajemen recti abdominis berikutnya untuk semua ibu selama kehamilan dan periode pasca-melahirkan mungkin bermanfaat dalam jangka panjang.






DAFTAR PUSTAKA
Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia.
Anderson, DM. Mosby s Medical Dictionary. 6th ed. St Louis, Mo: Mosby; 2002.
Boissonnault J.S. & Blaschak MJ Insiden diastasis recti abdominis Selama Tahun subur.
Chiarello, C. M.  Penelitian Studi: Pengaruh Program Latihan di diastasis recti abdominis pada Wanita Hamil. Jurnal Terapi Kesehatan Fisik Wanita: 2005:29 (1), hlm 11-16.
Dessy, T., dkk. 2009. Perubahan Fisiologi Masa Nifas. Akademi Kebidanan Mamba’ul ‘Ulum Surakarta.
Ibrahim, Christin S, 1993, Perawatan Keebidanan (Perawatan Nifas), Bharata Niaga Media Jakarta
Marx J. Rosen Darurat Kedokteran: Konsep dan Praktek Klinis. 6th ed. St Louis, Mo: Mosby; 2006.
Mendes D.A. et al. Ultrasonografi untuk mengukur rektus abdominis diastasis otot. Acta Cir Bras. 2007:22 (3): p 182-6.
Pusdiknakes, 2003. Asuhan Kebidanan Post Partum. Jakarta: Pusdiknakes.
Saifudin, Abdul Bari Dkk, 2000, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Yayasan Bidan Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta
Saleha, 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika.
Spitznagle T.M., Leong F.C. dan Van Dillen L.R. Prevalensi diastasis recti abdominis pada populasi pasien urogynecological. International Journal Urogenikologi 2007: 18 (3), p 321-328, DOI: 10.1007/s00192-006-0143-5
 Suherni, 2008. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya.
Terapi Fisik Juli 1988vol. 68 (7), p 1.082-1.086
borneo-ufi.blog.friendster.com/2008/07/konsep-nifas-eklamsi-forceps/ diunduh 1 September 2009: 20.00 WIB.
Kuliahbidan. 2008. Perubahan dalam Masa Nifas. kuliahbidan.wordpress.com/2008/09/19/perubahan-dalam-masa-nifas/ diunduh 6 Feb 2010, 02:25 PM.
masanifas.blogspot.com/ diunduh 1 September 2009: 20.10 WIB.
scribd.com/doc/17226035/Post-Partum-Oke diunduh 8 Feb 2010, 11:46 PM.
 scribd.com/doc/24817163/Postpartum-Normal diunduh 12 Feb 2010, 04:46 PM.
Widjanarko, B. 2009. Masa Nifas. obfkumj.blogspot.com/ diunduh 9 Feb 2010, 04:07 PM.
yoana-widyasari.blogspot.com/2009/04/satuan-acara-pengajaran-s.html diunduh 1 September 2009: 20.05 WIB.
Zietraelmart. 2008. Perubahan Fisiologi Masa Nifas. zietraelmart.multiply.com/journal/item/22/PERUBAHAN_FISIOLOGIS_MASA_NIFAS diunduh 6 Feb 2010, 02:35 PM.
 Image, theasianparent.com


Health Education pada Ibu Nifas




1. Kebersihan diri atau personal hygiene.
Kebersihan diri ibu membantu mengurangi sumber infeksi dan meningkatkan perasaan nyaman pada ibu. Anjurkan ibu unutuk menjaga kebersihan diri dengan cara mandi yang teratur minimal 2 kali sehari, mengganti pakaian dan alas tempat tidur serta lingkungan dimana ibu tinggal. Ibu harus tetap bersih, segar dan wangi.
ü  a.Pakaian
Sebaiknya pakaian terbuat dari bahan yang mudah menyerap keringat karena produksi keringat menjadi banyak. Produksi keringat yang tinggi berguna untuk menghilangkan ekstra volume saat hamil. Sebaiknya, pakaian agak longgar di daerah dada sehingga payudara tidak tertekan dan kering.Demikian juga dengan pakaian dalam, agar tidak terjadi iritasi (lecet) pada daerah sekitarnya akibat lochea.

ü  b.Kebersihan rambut
Setelah bayi lahir, ibu mungkin akan mengalami kerontokan rambut akibat gangguan perubahan hormon sehingga keadaannya menjadi lebih tipis dibandingkan keadaan normal. Jumlah dan lamanya kerontokan berbeda-beda antara satu wanita dengan wanita yang lain. Meskipun demikian, kebanyakan akan pulih setelah beberapa bulan. Cuci rambut dengan conditioner yang cukup, lalu menggunakan sisir yang lembut.Hindari penggunaan pengering rambut.

ü  c.Kebersihan kulit
Setelah persalinan, ekstra cairan tubuh yang dibutuhkan saat hamil akan dikeluarkan kembali melalui air seni dan keringat untuk menghilangkan pembengkakan pada wajah, kaki, betis, dan tangan ibu. Oleh karena itu, dalam minggu-minggu pertama setelah melahirkan, ibu akan merasakan jumlah keringat yang lebih banyak dari biasanya. Usahakan mandi lebih sering dan jaga agar kulit tetap kering.

ü  d.Kebersihan vulva dan sekitarnya.
Mengajarkan ibu membersihkan daerah kelamin dengan cara membersihkan daerah di sekitar vulva terlebih dahulu, dari depan ke belakang, baru kemudian membersihkan daerah sekitar anus. Bersihkan vulva setiap kali buang air kecil atau besar.
Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut setidaknya dua kali sehari. Kain dapat digunakan ulang jika telah dicuci dengan baik dan dikeringkan di bawah matahari atau disetrika.
Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya.
Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, sarankan kepada ibu untuk menghindari menyentuh luka, cebok dengan air dingin atau cuci menggunakan sabun.
2. Perawatan Perineum
Merawat perineum dengan baik dengan menggunakan antiseptik (PK / Dethol) dan selalu diingat bahwa membersihkan perineum dari arah depan ke belakang. Jaga kebersihan diri secara keseluruhan untuk menghindari infeksi, baik pada luka jahitan maupun kulit.
Perawatan luka perineum bertujuan untuk mencegah infeksi, meningkatkan rasa nyaman dan mempercepat penyembuhan. Perawatan luka perineum dapat dilakukan dengan cara mencuci daerah genital dengan air dan sabun setiap kali habis BAK/BAB yang dimulai dengan mencuci bagian depan, baru kenudian daerah anus. Sebelum dan sesudahnya ibu dianjukan untuk mencuci tangan.Pembalut hendaknya diganti minimal 2 kali sehari.Bila pembalut yang dipakai ibu bukan pembalut habis pakai, pembalut dapat dipakai kembali dengan dicuci, dijemur dibawah sinar matahari dan disetrika.
DAFTAR PUSTAKA

Maulana, Heri.2009.Promosi Kesehatan. Jakarta : EGC

Notoatmojo,soekidjo.Prof,Dr.”Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni”.2007.Jakarta:PT.Rineka Cipta.

Notoatmojo,soekidjo.Prof,Dr.”Promosi Kesehatan dan ilmu Perilaku”.2007.Jakarta:PT.Rineka Cipta.

3. Nutrisi
Dalam masa nifas ibu membutuhkan gizi yang cukup. Gizi pada ibu menyusui sangat erat kaitannya dengan produksi air susu, yang sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang bayi. Kualitas dan jumlah makanan yang dikonsumsi ibu sangat berpengaruh pada jumlah ASI yang dihasilkan, ibu menyusui disarankan memperoleh tambahan zat makanan 800 Kkal yang digunakan untuk memproduksi ASI dan untuk aktifitas ibu itu sendiri.

Sebuah teori, maternal depletion syndrome menyatakan bahwa status gizi ibu setelah peristiwa kehamilan dan persalinan, kemudian diikuti masa laktasi, tidak segera pulih dan ditambah lagi pemenuhan gizi yang kurang, jumlah paritas yang banyak dengan jarak kehamilan yang pendek, akan menyebabkan ibu mengalami drainage gizi. Akibatnya ibu akan berada dalam status gizi yang kurang dengan akibat lebih lanjut pada ibu dan anaknya. Oleh karena itu, ibu yang menyusui anaknya harus diberikan pengetahuan tentang gizi.

Soal gizi ibu hamil maupun nifas, di mana bila gizi yang dibutuhkan, hampir mirip, tetap berpedoman pada 4 sehat 5 sempurna dengan menu seimbang. Kuantitas dan kualitas makanan ibu yang baik pada saat hamil maupun mana nifas akan mempengaruhi produksi ASI. Jika keadaan gizi ibu baik secara kuantitas, akan terproduksi ASI lebih banyak daripada ibu dengan gizi kurang. Sedangkan secara kualitas tidak banyak dipengaruhi kecuali lemak, vitamin dan mineral.

Pada dasarnya menu untuk ibu hamil dan menyusui porsi makan baik nasi maupun lauk pauknya lebih banyak daripada sebelum hamil dan menyusui. Pesan penting bagi ibu menyusui, antara lain:
a.       Banyak makan sayuran yang beragam dan banyak minum sedikitnya 8 gelas sehari,
b.      Pemakaian bumbu jangan terlalu merangsang, tidak pedas,
c.       Tetap memperhatikan kecukupan gizi rata-rata dianjurkan (2900 k.kal.)

Ibu menyusui harus :

a.       Mengkomsumsi tambahan 500 kalori setiap hari
b.      Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan vitamin yang cukup
c.      minum sedikitnya 3 liter air setiap hari (anjurkan ibu minum setiap kali menyusui)
d.      Pil zat besi (sulfas/glukonas ferrosus) harus diminum untuk menambah xat gizi setidaknya selama 40 haro pasca bersalin (setelah melahirkan)
e.       Minum kapsul vitamin A (200.000 unit) agar bisa memberikan vitamin A kepada anaknya melalui ASI (Air Susu Ibu)-nya.
Lingkup promosi kesehatan terhadap ibu nifas meliputi nutrisi dan cairan, ambulasi, eliminasi, kebersihan diri dan bayi, istirahat, sexual, latihan/senam nifas, tanda bahaya, keluarga Berencana dan pemberian ASI.
Bidan tetap mendampingi ibu selama 2 jam setelah pesalinan. Dalam masa nifas bidan dianjurkan untuk menanyakan tentang perasaan ibu. Biasanya ibu merasa capek dan lemas. Ibu dan bayi diberikan kesempatan untuk beristirahat. Saat ibu masih merasa lemas, promosi kesehatan dapat diberikan melalui keluarga ibu nifas, misanya keluarga pasien diberitahukan bawa ibu boleh minum dan makan ringan setiap waktu, bangun bila mau kencing dan sebagainya.
Baru setelah ibu merasa lebih baik dan bersedia diberikan pendidikan kesehatan, bidan diperkenankan untuk memberikan pendidikan kesehatan. Itupun sedikit demi sedikit sesuai kemampuan ibu. Pendidikan kesehatan yang diberikan misalnya setelah melahirkan ibu boleh makan seperti biasa, setiap hari minum air putih minimal 8 gelas, ibu diajari cara menyusui dan perawatan payudara, gizi ibu nifas dan sebagainya. Diharapkan dengan memberikan promosi kesehatan pada ibu nifas, ibu nifas dapat menghadapi masa nifas dengan baik dan normal.

Penyakit yang Disebabkan oleh Virus: Campak


Virus Campak pada Bayi dan Ibu Hamil



“Eh anakku sudah bisa berdiri sendiri.”. Apakah Bunda masih ingat dengan kalimat itu? Ya, itu adalah iklan layanan masyarakat yang sangat populer sekitar dua puluh tahun yang lalu yang berisi himbauan dari pemerintah tentang pentingnya imunisasi Campak.
Campak yang biasa dikenal dengan istilah tampek ini adalah penyakit infeksi yang menyerang balita yang disebabkan oleh virus Morbili. Gejala yang tampak sangat mirip dengan influenza, seperti panas tinggi (bisa mencapai 40° Celcius) batuk dan pilek. Tak heran gejala ini sering membuat para Bunda kebingungan. Perhatikan saja! Pada Campak gejala tersebut diikuti juga dengan keluarnya bintik-bintik merah, bintik putih kecil di mulut bagian dalam, mata merah dan berair, sariawan serta diare selama 3-5 hari. Bila suhu tubuh anak terlalu tinggi bisa terjadi kejang atau stuip. Campak juga membuat anak menjadi malas makan sehingga berat badannya bisa menurun. Penyakit ini menular melalui air ludah. Maka dari itu sebaiknya gunakan wadah yang berbeda untuk setiap anak.

 Pencegahan & Pengobatan           

Sebagai upaya pencegahan, pemerintah mencanangkan pemberian vaksinasi atau imunisasi Campak yang dikenal dengan vaksin MMR (Mumps, Measles dan Rubella).

Imunisasi Campak diberikan dengan tujuan untuk melemahkan virus Campak terutama pada bayi. Meskipun bayi telah mendapat kekebalan Campak pada saat di kandungan, tetapi pada usia 6-9 bulan, kekebalan itu akan menurun dan saat itulah imunisasi Campak  bisa diberikan. Imunisasi ini sangat penting supaya tubuh bayi dapat melawan virus Campak yang menyerangnya. Pemberian imunisasi Campak atau MMR ini harus diulang.

Tidak ada pengobatan yang khusus untuk melawan Campak. Balita hanya perlu beristirahat yang banyak. Untuk menurunkan demamnya biasanya dokter akan memberikan asetaminofen atau ibuprofen. Bila terjadi infeksi bakteri maka anak akan diberikan antibiotik.

 Campak pada Ibu Hamil

Campak juga bisa menjangkit ibu hamil yang belum kebal terhadap virus Rubella. Bila Bunda terserang Campak pada trimester pertama kehamilan, janin beresiko mengalami berbagai cacat berat. Virus Rubella juga meningkatkan resiko keguguran. Biasanya begitu hamil, dokter akan memberikan anjuran untuk mendeteksi virus TORCH (Toksoplasma, Rubella, Cytomegalo Virus dan Herpes). Tetapi akan lebih baik bila Bunda melakukannya sebelum hamil, sehingga dapat dilakukan tindakan lebih dini.



Notes:

- Bila seseorang pernah terkena Campak, maka seumur hidupnya ia akan kebal terhadap penyakit ini.

- Saat anak panas tinggi, jangan memberikannya pakaian yang terlalu tebal atau menyelimutinya rapat-rapat. Hal ini membuat panasnya sulit keluar sehingga beresiko terjadi kejang.

- Tidak ada korelasi antara imunisasi Campak dengan Autisme.