Thursday, September 19, 2013

Obesitas


Kata Pengantar
Rasa syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat-NYA makalah yang berjudul “Obesitas” dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
     Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas dari mata kuliah KESEHATAN REPRODUKSI  pada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Faathir Husada (Kelas Annisa). Selama penyusunan makalah ini penulis telah banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak dalam bentuk informasi, motivasi serta dorongan moral dan spiritual, sehingga makalah ini tersusun dan dapat diselesaikan sesuai dengan rencana.
     Disamping itu, penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna dan sudah barang tentu masih ada kesalahan-kesalahan yang luput dari pengamatan penulis. Oleh karena itu, tegur sapa dan kritik yang konstruktif dari pembaca untuk perbaikan dan penyempurnaan seperlunya sangat penulis harapkan.
     Pada akhirnya penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca.
            
                                    


Bogor, 2013

                                                                          Penulis




i
Daftar Isi
Kata Pengantar...........................................................................................................i
Daftar Isi.......................................................................................................................ii
BAB I Pendahuluan....................................................................................................1
BAB II Pembahasan...................................................................................................3
BAB III Penutup...........................................................................................................8
Referensi......................................................................................................................9















ii

BAB I
PENDAHULUAN
Kegemukan atau obesitas adalah suatu kondisi medis berupa kelebihan lemak tubuh yang terakumulasi sedemikian rupa sehingga menimbulkan dampak merugikan bagi kesehatan, yang kemudian menurunkan harapan hidup dan/atau meningkatkan masalah kesehatan.[1][2] Seseorang dianggap menderita kegemukan (obese) bila indeks massa tubuh (IMT), yaitu ukuran yang diperoleh dari hasil pembagian berat badan dalam kilogram dengan kuadrat tinggi badan dalam meter, lebih dari 30 kg/m2.[3]

Kegemukan meningkatkan peluang terjadinya berbagai macam penyakit, khususnya penyakit jantung, diabetes tipe 2, apnea tidur obstruktif, kanker tertentu, osteoartritis[2] dan asma[4][2][5]. Kegemukan sangat sering disebabkan oleh kombinasi antara asupan energi makanan yang berlebihan, kurangnya aktivitas fisik, dan kerentanan genetik, meskipun sebagian kecil kasus terutama disebabkan oleh gen, gangguan endokrin, obat-obatan atau penyakit psikiatri. Hanya sedikit bukti yang mendukung pandangan bahwa orang yang gemuk makan sedikit namun berat badannya bertambah karena metabolisme tubuh yang lambat; rata-rata orang gemuk mengeluarkan energi yang lebih besar dibandingkan orang yang kurus karena dibutuhkan energi untuk manjaga massa tubuh yang lebih besar.[6][7]

Pengaturan diet dan aktivitas fisik masih menjadi tata laksana utama kegemukan. Kualitas asupan dapat diperbaiki dengan mengurangi konsumsi makanan padat energi contohnya makanan yang tinggi lemak dan gula, serta dengan meningkatkan asupan serat. Obat-obatan anti-kegemukan dapat dikonsumsi untuk mengurangi selera makan atau menghambat penyerapan lemak, disertai dengan asupan diet yang tepat. Apabila diet, olahraga, dan obat-obatan belum efektif, maka balon lambung dapat membantu mengurangi berat badan, atau operasi dapat dilakukan untuk mengurangi volume lambung dan/atau panjang usus sehingga dapat memberikan rasa kenyang yang lebih dini dan menurunkan kemampuan penyerapan nutrisi dari makanan.[8][9]

Kegemukan adalah penyebab kematian yang dapat dicegah paling utama di dunia, dengan prevalensi pada orang dewasa dan anak yang semakin meningkat, sehingga pihak berwenang menganggap kegemukan sebagai salah satu masalah kesehatan masyarakat paling serius pada abad 21.[10] Kegemukan umumnya merupakan stigma di dunia modern (khususnya di Dunia barat), meskipun pada suatu waktu dalam sejarah, kegemukan secara luas dianggap sebagai simbol kekayaan dan kesuburan, dan masih dianggap demikian di beberapa bagian di dunia hingga sekarang.[2][11]




















BAB II
PEMBAHASAN

Overweight Sekarang, Menyesal di Kemudian Hari

 

Prevalensi remaja yang mengalami obesitas dan kegemukan di Indonesia semakin meningkat. Menurut Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat, tingkat obesitas pada remaja (usia 15-24 tahun) pada tahun 2007 bahkan mencapai 19.1%1. Bukan tidak mungkin angka ini terus meningkat. Padahal, kelebihan berat badan di usia remaja tidak hanya membuat kita mendapat “stigma” dari teman-teman, tetapi juga membuat kita lebih rentan terkena masalah serius di kemudian hari.
Gemuk Sekarang, Gemuk Nanti Juga.

Penelitian menunjukkan bahwa remaja yang mengalami kelebihan berat badan cenderung mengalami obesitas di usia dewasa2. Gawatnya, obesitas berkaitan erat dengan tingginya kadar lemak dan kolesterol dalam darah serta peningkatan resiko terkena diabetes, hipertensi, stroke, dan penyakit jantung yang berujung pada kematian dini2,3,4. That’s really bad!   Obesitas pun dapat mengakibatkan kesulitan bernafas saat tidur selain gangguan tulang dan sendi yang terjadi akibat kelebihan berat badan2. Tambahan lagi, penelitian menunjukkan bahwa orang dewasa yang mengalami obesitas cenderung menerima gaji yang lebih rendah dibandingkan rekan-rekan mereka yang tidak mengalami obesitas5!

Ternyata kelebihan berat badan di masa remaja tidak hanya memberikan kerugian di masa sekarang, tapi juga di masa dewasa nanti. Karena itu, sangatlah penting untuk mengatur pola makan dan berolahraga secara teratur.

Jaga Berat Tubuhnya Sekarang, Jaga Kesehatannya di Masa Depan

 

Memasuki masa remaja, metabolisme tubuh akan mengalami perubahan yang membuat penyimpanan lemak semakin meningkat1. Pada masa ini, berat badan harus dijaga. Apabila tidak, maka jumlah sel lemak akan terus meningkat tajam, sehingga meningkatkan risiko obesitas. Tentunya kamu  ngga mau tumbuh ke samping, kan?


Sel lemak yang terbentuk saat remaja juga akan terus terbawa sampai masa dewasa. Jadi, jika ketika remaja mengalami kegemukan, saat dewasa pun mereka lebih mudah mengalami risiko obesitas. Dengan terus menjaga berat badannya sejak remaja, maka kamu akan jauh dari risiko berbagai penyakit seperti diabetes dan jantung2. Perhatikan pola makan, aktivitas dan istirahat kamu. Konsumsi juga nutrisi yang terbaik, karena kamu adalah generasi masa depan yang bernilai.

Lose Sleep, Gain Weight

 

Sebagai remaja yang aktif, kita terkadang bergadang sampai tengah malam untuk mengerjakan tugas sekolah, menonton film yang seru, atau chatting dengan teman. Karena itu, kita harus lebih berhati-hati. Pasalnya, kurang tidur tidak hanya membuat kita mengantuk dan mudah lelah, tetapi juga dapat meningkatkan berat badan dan risiko obesitas!

Kebiasaan beraktivitas di malam hari membuat kita makan sambil bergadang. Akibatnya, konsumsi energi kita jadi berlebih. Apalagi, penelitian menunjukkan bahwa sewaktu bergadang kita cenderung makan makanan manis atau tinggi karbohidrat seperti mi instan, biskuit, coklat, bahkan fast food (1).

Selain itu, ketika kita kurang tidur, produksi hormon leptin dan ghrelin akan terganggu. Akibatnya, kita lebih cepat merasa lapar dan nafsu makan meningkat (1,2). Oke-oke aja kalau konsumsi buah-buahan kita meningkat. Tapi masalahnya, kurang tidur cenderung membuat kita cenderung lebih banyak makan makanan manis, tinggi karbohidrat, atau fast food. Berat badan pun meningkat. Tambahan lagi, gangguan terhadap produksi leptin dan ghrelin ini mengurangi sensitivitas terhadap insulin sehingga dapat memicu obesitas dan diabetes. Penelitian menunjukkan bahwa remaja yang tidur kurang dari 7 jam memiliki resiko lebih tinggi mengalami kelebihan berat badan dan obesitas (2).

Karena itu, sangatlah penting untuk mencukupi kebutuhan tidur. Dengan mencukupi kebutuhan tidur, kita dapat lebih fokus dan kinerja kita pun membaik. So, get enough sleep to stay alert!
Lack of Sleep and Obesity in Teen
 

Sibuk, sibuk.. Belajar buat ujian, bikin tugas sekolah, dan tentunya bergaul dengan teman-teman. Sebagai remaja dengan segudang aktivitas, seringkali waktu tidur kita kurang. Belum lagi, banyak godaan seperti browsing di internet atau chatting dengan teman yang membuat kita lupa dengan waktu tidur. Padahal, kurang tidur bisa berdampak negatif untuk kesehatan. Salah satunya, bisa bikin gemuk!


Mata Melek, Badan Melar
            Ternyata, berat badan berkaitan dengan waktu tidur. Penelitian yang melibatkan 723 anak remaja menunjukkan bahwa para remaja pria yang sering kurang tidur lebih rentan gemuk. Para remaja yang kurang tidur ini diketahui memiliki berat badan dan berat lemak yang lebih tinggi, dibandingkan dengan teman-temannya yang cukup tidur1.

Salah satu penyebabnya, pola makan kita berubah kalau kita kurang tidur. Kita cenderung makan lebih banyak, terutama makanan yang berlemak2. Perubahan pola makan ini diketahui berhubungan dengan peningkatan kadar hormon ghrelin. Hormon ghrelin dapat memicu rasa lapar sehingga kita jadi makan lebih banyak. Akibatnya, berat badan pun naik.

Kurang tidur juga bisa membuat kita lebih lemas sehingga kurang aktif. Padahal, aktif bergerak penting supaya kita gak gampang gemuk dan lebih sehat. Efek negatif lainnya, kita jadi sering ngantuk di kelas dan performa di sekolah pun jadi kurang optimal.

Sleep Tight
            Remaja disarankan untuk tidur malam sekitar 8,5-9,5 jam setiap harinya. Mungkin kita sering berpikir bahwa melakukan aktivitas lain itu lebih penting daripada tidur. Padahal, banyak hal yang terjadi tanpa kita sadari saat kita tidur yang penting untuk kesehatan dan perkembangan tubuh seperti perbaikan sel-sel tubuh, pembentukan otot dan tulang, serta perbaikan sistem kekebalan tubuh.

Kalau kamu sering susah tidur di malam hari, coba beberapa tips berikut:
1.      Biasakan untuk tidur dengan jadwal yang tetap setiap malamnya, dan mulailah bersiap-siap untuk tidur 10-30 menit sebelumnya
2.      Lakukan aktivitas yang ringan dan santai di malam hari
3.      Jauhkan diri dari hal-hal yang bisa membuat kamu batal tidur seperti main game, computer, atau handphone jika sudah dekat waktu tidur
4.      Suasana yang tenang dapat membantu agar kita mudah terlelap
5.      Mandi air hangat sebelum tidur yang juga dapat membantu menenangkan pikiran
6.      Selain tidur cukup, nutrisi yang seimbang juga penting untuk mendukung pola hidup remaja yang aktif dan sehat.

Dekat Dengan Kantin, Lebih Gemuk?
 

Di mana letak kelas kamu sekarang? Ternyata dapat kelas dekat dengan kantin bisa bikin kamu lebih gemuk lho! Nggak percaya?

Penelitian yang dimuat di Journal of Adolescent Health menunjukkan kalau mereka yang kelasnya dekat dengan kantin cenderung lebih gemuk dibandingkan dengan teman yang kelasnya lebih jauh dari kantin. Kalau dipikir-pikir, ada benarnya sih. Kelas lebih dekat kantin berarti kita lebih gampang dapat siomay Ibu Kantin yang enak itu. Selain itu, kita jadi semakin gampang jajan. Nggak heran, kita jadi lebih sering curi-curi beli es teh manis atau cemilan saat ganti jam pelajaran. Kalau begini terus, nggak cuma uang jajan cepat habis, kita jadi tumbuh ke samping!

Kalau sudah begini, berarti lebih beruntung teman kita yang kelasnya jauh dari kantin lho. Penelitian itu juga menunjukkan kalau remaja yang kelasnya lebih jauh dari kantin, berat badannya lebih ideal dan lebih sehat. Wajar saja, karena mereka perlu berjalan kaki agak jauh untuk sampai ke kantin. Kalau dihitung-hitung, kan lumayan juga untuk olahraga. Selain itu, teman yang kelasnya jauh pasti jadi lebih malas untuk jajan di sela-sela jam pelajaran. Nggak heran, mereka jadi lebih tahan godaan dan nggak makan berlebih.

Bagi kalian yang kelasnya jauh dari kantin, bersyukurlah! Kalian punya kesempatan lebih banyak untuk menjaga tubuh ideal kalian. Tapi jangan lantas karena kelasnya jauh kalian jadi menyetok jajanan lho. Ingat, asupan makanan perlu dikontrol supaya berat nggak terus naik.

Bagi kalian yang kelasnya dekat dari kantin, nggak perlu sampai minta pindah kelas biar tahan godaan. Kita siasati saja. Misalnya, kita jemput dulu teman atau gebetan yang kelasnya agak jauh sebelum makan bareng di kantin. Karena nggak terlalu lama di kantin, makan juga nggak nambah dong. Nah, untuk mengatasi godaan curi-curi jajan saat pergantian jam pelajaran, kamu bisa kok buka-buka bahan pelajaran selanjutnya. Siapa tahu ada kuis kecil. Dengan begini, godaan jajan bisa dihindari, nilai kamu pun bisa jadi lebih baik!





















BAB III
PENUTUP
Kegemukan atau obesitas adalah suatu kondisi medis berupa kelebihan lemak tubuh yang terakumulasi sedemikian rupa sehingga menimbulkan dampak merugikan bagi kesehatan, yang kemudian menurunkan harapan hidup dan/atau meningkatkan masalah kesehatan.[1][2] Seseorang dianggap menderita kegemukan (obese) bila indeks massa tubuh (IMT), yaitu ukuran yang diperoleh dari hasil pembagian berat badan dalam kilogram dengan kuadrat tinggi badan dalam meter, lebih dari 30 kg/m2.[3]
Prevalensi remaja yang mengalami obesitas dan kegemukan di Indonesia semakin meningkat. Menurut Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat, tingkat obesitas pada remaja (usia 15-24 tahun) pada tahun 2007 bahkan mencapai 19.1%1. Bukan tidak mungkin angka ini terus meningkat. Padahal, kelebihan berat badan di usia remaja tidak hanya membuat kita mendapat “stigma” dari teman-teman, tetapi juga membuat kita lebih rentan terkena masalah serius di kemudian hari.
Memasuki masa remaja, metabolisme tubuh akan mengalami perubahan yang membuat penyimpanan lemak semakin meningkat1. Pada masa ini, berat badan harus dijaga. Apabila tidak, maka jumlah sel lemak akan terus meningkat tajam, sehingga meningkatkan risiko obesitas.
Sebagai remaja yang aktif, kita terkadang bergadang sampai tengah malam untuk mengerjakan tugas sekolah, menonton film yang seru, atau chatting dengan teman. Karena itu, kita harus lebih berhati-hati. Pasalnya, kurang tidur tidak hanya membuat kita mengantuk dan mudah lelah, tetapi juga dapat meningkatkan berat badan dan risiko obesitas!
Sibuk, sibuk.. Belajar buat ujian, bikin tugas sekolah, dan tentunya bergaul dengan teman-teman. Sebagai remaja dengan segudang aktivitas, seringkali waktu tidur kita kurang. Belum lagi, banyak godaan seperti browsing di internet atau chatting dengan teman yang membuat kita lupa dengan waktu tidur. Padahal, kurang tidur bisa berdampak negatif untuk kesehatan. Salah satunya, bisa bikin gemuk!

Referensi
Detik News. “Angka Obesitas Remaja Indonesia Naik “. Selasa, 10 Oktober 2009. Accessed from http://www.detiknews.com/read/2009/02/10/142045/1082504/10/ angka-obesitas-remaja-indonesia-naik. Accessed 11 March 2010.
Adolescent Health Research Updates. 1998. Obesity in Adolescent. AHAC 7:1-8.
Ramos, Elisabete. 2007. Cardiovascular Risk Factors in Adolescence. Arquivos de Medicina 21(1): 25-35.
Gortmaker, S.L., et. al. 1993. “Social and Economic Consequences of Overweight in Adolescence and Young Adulthood.” New England Journal of Medicine 30: 1008-1012.
Mocan, H.N., and E. Tekin. 2009. Obesity, Self Esteem, and Wages. NBER Working Paper w15101. Availabel at SRRN: htpp://ssrn.com/abstract=1422979.
Grosvenor, M.B. dan Smolin, L.A. 2002. Nutrition: From Science To Life. Harcourt College Publishers, US.
 Am J Clin Nutr. 2009 Jan;89(1):90-6. Epub 2008 Dec 3
Nedeltcheva, A.V., J.M. Kilkus, J. Imperial, K. Kasza, D.A. Schoeller, and P.D. Penev. “Sleep Curtailment is Accompanied by Increased Intake of Calories from Snacks.” American Journal of Clinical Nutrition 89 (2009): 126-133.
Gangwisch, J.E., D. Malaspina, B.B. Albala, and S.B. Heymsfield. “Inadequate Sleep as a Risk Factor for Obesity: Analyses of the NHANES I.” Sleep 28 (2005): 1289-1296.
Meta-Analysis of Short Sleep Duration and Obesity in Children and Adults. Sleep. 2008. 31(5): 619-26.
 2. The association of sleep duration with adolescents’ fat and carbohydrate consumption. Sleep. 2010. 33(9):1201-9.
References:

Kapinos, K.A. and O. Yakusheva. 2010. Environmental Influences on Young Adult Weight Gain: Evidence from a Natural Experiment. Journal of Adolescent Health. Advanced Online Publication.

Jumlah Kotiledon dan Penyebab Perdarahan Post Partum


Plasenta
     
Struktur Plasenta

Plasenta merupakan organ penting bagi janin, karena sebagai alat pertukaran zat antara ibu dan bayi atau sebaliknya. Plasenta berbentuk bundar atau hampir bundar dengan diameter 15-20 cm dan tebal ± 2,5 cm, berat rata-rata 500 gram. Umumnya plasenta terbentuk lengkap pada kehamilan kurang dari 16 minggu dengan ruang amnion telah mengisi seluruh kavum uteri.

Plasenta terletak di depan atau di belakang dinding uterus, agak ke atas kearah fundus uteri, dikarenakan alasan fisiologis, permukaan bagian atas korpus uteri lebih luas, sehingga lebih banyak tempat untuk berimplementasi. Plasenta berasal dari sebagian besar dari bagian janin, yaitu villi koriales atau jonjot chorion dan sebagian kecil dari bagian ibu yang berasal dari desidua basalis.

Plasenta mempunyai dua permukaan, yaitu permukaan fetal dan maternal. Permukaan fetal adalah permukaan yang menghadap ke janin, warnanya keputih-putihan dan licin. Hal ini disebabkan karena permukaan fetal tertutup oleh amnion, di bawah nampak pembuluh-pembuluh darah. Permukaan maternal adalah permukaan yang menghadap dinding rahim, berwarna merah dan terbagi oleh celah-celah yang berasal dari jaringan ibu. Jumlah celah pada plasenta dibagi menjadi 16-20 kotiledon.
Gambar 1. Permukaan plasenta

Penampang plasenta terbagi menjadi dua bagian yang terbentuk oleh jaringan anak dan jaringan ibu. Bagian yang terdiri dari jaringan anak disebut membrana chorii, yang dibentuk oleh amnion, pembuluh darah janin, korion dan villi. Bagian dari jaringan ibu disebut piring desidua atau piring basal yang terdiri dari desidua compacta dan desidua spongiosa.
Gambar 2. Struktur plasenta
Pembentukan Plasenta

Perkembangan trofoblas berlangsung cepat pada hari ke 8-9, dari selapis sel tumbuh menjadi berlapis-lapis. Terbentuk rongga-rongga vakuola yang banyak pada lapisan sinsitiotrofoblas (selanjutnya disebut sinsitium) yang akhirnya saling berhubungan. Stadium ini disebut stadium berongga (lacunar stage).

Pertumbuhan sinsitium ke dalam stroma endometrium makin dalam kemudian terjadi perusakan endotel kapiler di sekitarnya, sehingga rongga-rongga sinsitium (sistem lakuna) tersebut dialiri masuk oleh darah ibu, membentuk sinusoid-sinusoid. Peristiwa ini menjadi awal terbentuknya sistem sirkulasi uteroplasenta/sistem sirkulasi feto-maternal.

Antara lapisan dalam sitotrofoblas dengan selapis sel selaput Heuser, terbentuk sekelompok sel baru yang berasal dari trofoblas dan membentuk jaringan penyambung yang lembut, yang disebut mesoderm ekstraembrional. Bagian yang berbatasan dengan sitotrofoblas disebut mesoderm ekstraembrional somatopleural, kemudian akan menjadi selaput korion (chorionic plate).

Bagian yang berbatasan dengan selaput Heuser dan menutupi bakal yolk sac disebut mesoderm ekstraembrional splanknopleural. Menjelang akhir minggu kedua (hari 13-14), seluruh lingkaran blastokista telah terbenam dalam uterus dan diliputi pertumbuhan trofoblas yang telah dialiri darah ibu. Meski demikian, hanya sistem trofoblas di daerah dekat embrioblas saja yang berkembang lebih aktif dibandingkan daerah lainnya.

Di dalam lapisan mesoderm ekstraembrional juga terbentuk celah-celah yang makin lama makin besar dan bersatu, sehingga terjadilah rongga yang memisahkan kandung kuning telur makin jauh dari sitotrofoblas. Rongga ini disebut rongga selom ekstraembrional (extraembryonal coelomic space) atau rongga korion (chorionic space).

Di sisi embrioblas (kutub embrional), tampak sel-sel kuboid lapisan sitotrofoblas mengadakan invasi ke arah lapisan sinsitium, membentuk sekelompok sel yang dikelilingi sinsitium disebut jonjot-jonjot primer (primary stem villi). Jonjot ini memanjang sampai bertemu dengan aliran darah ibu.

Pada awal minggu ketiga, mesoderm ekstraembrional somatopleural yang terdapat di bawah jonjot-jonjot primer (bagian dari selaput korion di daerah kutub embrional), ikut menginvasi ke dalam jonjot sehingga membentuk jonjot sekunder (secondary stem villi) yang terdiri dari inti mesoderm dilapisi selapis sel sitotrofoblas dan sinsitiotrofoblas.

Menjelang akhir minggu ketiga, dengan karakteristik angiogenik yang dimilikinya, mesoderm dalam jonjot tersebut berdiferensiasi menjadi sel darah dan pembuluh kapiler, sehingga jonjot yang tadinya hanya selular kemudian menjadi suatu jaringan vaskular (disebut jonjot tersier/tertiary stem villi).

Selom ekstraembrional/rongga korion makin lama makin luas, sehingga jaringan embrional makin terpisah dari sitotrofoblas/selaput korion, hanya dihubungkan oleh sedikit jaringan mesoderm yang kemudian menjadi tangkai penghubung (connecting stalk). Mesoderm connecting stalk yang juga memiliki kemampuan angiogenik, kemudian akan berkembang menjadi pembuluh darah dan connecting stalk tersebut akan menjadi tali pusat.

Setelah infiltrasi pembuluh darah trofoblas ke dalam sirkulasi uterus, seiring dengan perkembangan trofoblas menjadi plasenta dewasa, terbentuklah komponen sirkulasi utero-plasenta. Melalui pembuluh darah tali pusat, sirkulasi utero-plasenta dihubungkan dengan sirkulasi janin. Meskipun demikian, darah ibu dan darah janin tetap tidak bercampur menjadi satu (disebut sistem hemochorial), tetap terpisah oleh dinding pembuluh darah janin dan lapisan korion.

Dengan demikian, komponen sirkulasi dari ibu (maternal) berhubungan dengan komponen sirkulasi dari janin (fetal) melalui plasenta dan tali pusat. Sistem tersebut dinamakan sirkulasi feto-maternal.
Fungsi Plasenta

Fungsi dari plasenta adalah:
Nutrisi: tempat pertukaran zat dan pengambilan bahan nutrisi untuk tumbuh kembang janin
Respirasi: memberikan O2 dan mengeluarkan CO2 janin
Ekskresi: mengeluarkan sisa metabolisme janin
Endokrin: sebagai penghasil hormon-hormon kehamilan seperti HCG, HPL, esterogen, progesteron
Imunologi: menyalurkan berbagai komponen antibodi ke janin
Farmakologi: menyalurkan obat-obatan yang diperlukan janin, diberikan melalui ibu
Proteksi: barier terhadap infeksi bakteri dan virus, zat toksik
Tipe-Tipe Plasenta

Menurut bentuknya, plasenta terbagi menjadi:
Plasenta normal
Plasenta membranasea (tipis)
Plasenta suksenturiati (satu lobus terpisah)
Plasenta spuria
Plasenta bilobus (2 lobus)
Plasenta trilobus 3 lobus)

Menurut perlekatan pada dinding rahim, adalah sebagai berikut:
Plasenta adhesiva (lebih melekat)
Plasenta akreta (lebih melekat)
Plasenta inkreta (sampai ke otot polos)
Plasenta perkreta (sampai ke serosa)
Sirkulasi Darah Plasenta

Darah ibu yang berada di ruang interviller berasal dari spiral arteries yang berada di desidua basalis. Pada sistosel darah disemprotkan dengan tekanan 70-80 mmHg seperti air mancur ke dalam ruang interviler sampai mencapai chorionic plate, pangkal kotiledon-kotiledon janin. Darah tersebut membasahi semua villi koriales dan kembali perlahan-lahan dengan tekanan 80 mmHg menuju ke vena-vena di desidua.

Di tempat-tempat tertentu ada implantasi plasenta terdapat vena-vena yang lebar (sinus) untuk menampung darah kembali. Pada pinggir plasenta di beberapa tempat terdapat pula suatu rung vena yang luas untuk menampung darah yang berasal dari ruang interviller diatas. Ruang ini disebut sinus marginalis.

Darah ibu yang mengalir di seluruh plasenta diperkirakan naik dari 300 ml tiap menit pada kehamilan 20 minggu sampai 600 ml tiap menit pada kehamilan 40 minggu. Seluruh ruang interviller tanpa villi koriales mempunyai volume lebih kurang 150-250 ml. Permukaan semua villi koriales diperkirakan seluas lebih kurang 11 m2. Dengan demikian pertukaran zat-zat makanan terjamin benar.

Perubahan-perubahan terjadi pula pada jonjot-jonjot selama kehamilan berlangsung. Pada kehamilan 24 minggu lapisan sinsitium dari villi tidak berubah, akan tetapi dari lapisan sititrofoblas sel-sel berkurangdan hanya ditemukan sebagai kelompok sel-sel, stroma jonjot menjadi lebih padat, mengandung fagosit-fagosit, dan pembuluh-pembuluh darahnya menjadi lebih besar dan lebih mendekati lapisan trofoblas.

Pada kehamilan 36 minggu sebagian besar sel-sel sitotrofoblas tak ada lagi, akan tetapi antara sirkulasi ibu dan janin selalu ada lapisan trofoblas. Terjadi klasifikasi pembuluh-pembuluh darah dalam jonjot dan pembentukan fibrin di permukaan beberapa jonjot. Kedua hal terakhir ini mengakibatkan pertukaran zat-zat makanan, zat asam, dan sebagainya antara ibu dan janin mulai terganggu.

Deposit fibrin ini dapat terjadi sepanjang masa kehamilan sedangkan banyaknya juga berbeda-beda. Jika banyak, maka deposit ini dapat menutup villi dan villi itu kehilangan hubungan dengan darah ibu lalu berdegenerasi, timbullah infark.
Referensi

bidanshop.blogspot.com/2010/01/pentingnya-plasenta-ari-ari.html html unduh 25 maret 2011, 08:29 AM
 Depkes RI. 1993. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Dalam Konteks Keluarga. Cetakan Ke III. Jakarta.
 Kusmiyati, Y. 2010. Perawatan Ibu Hamil. Cetakan ke VI. Yogyakarta: Fitramaya.
 mitanadeki.blogspot.com/2011/01/struktur-fungsi-dan-sirkulasi-plasenta.html unduh 22 maret 2011, 01:29 AM
 Mochtar, R. 1998. Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi-Obstetri Patologi. Edisi 2. Jakarta: EGC
 Neil, W.R. 2001. Panduan Lengkap Perawatan Kehamilan. Jakarta: Dian Rakyat.
 restikikilestari.blogspot.com/2011/02/plasenta-dan-tali-pusat.html unduh 24 maret 2011, 04:20 AM
 Salmah, dkk. 2006. Asuhan Kebidanan Antenatal. Jakarta: EGC.
 Sulistyawati, A. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Kehamilan. Jakarta: Salemba Medika

Perdarahan Post Partum (Perdarahan Pasca Persalinan)
         

Perdarahan post partum atau perdarahan pasca persalinan adalah salah satu penyebab kematian ibu melahirkan. Tiga faktor utama penyebab kematian ibu melahirkan adalah perdarahan post partum atau perdarahan pasca persalinan, hipertensi saat hamil atau pre eklamasi dan infeksi. Perdarahan menempati prosentase tertinggi penyebab kematian ibu (28%). Di berbagai negara paling sedikit seperempat dari seluruh kematian ibu disebabkan oleh perdarahan, proporsinya berkisar antara kurang dari 10-60 %. Walaupun seorang perempuan bertahan hidup setelah mengalami pendarahan pasca persalinan, namun selanjutnya akan mengalami kekurangan darah yang berat (anemia berat) dan akan mengalami masalah kesehatan yang berkepanjangan (WHO).
Definisi Perdarahan Post Partum

Perdarahan pasca persalinan atau perdarahan post partum adalah perdarahan melebihi 500 ml yang terjadi setelah bayi lahir.

Kehilangan darah pasca persalinan seringkali diperhitungkan secara lebih rendah dengan perbedaan 30-50%. Kehilangan darah setelah persalinan per vaginam rata-rata 500 ml, dengan 5% ibu mengalami perdarahan > 1000 ml. Sedangkan kehilangan darah pasca persalinan dengan bedah sesar rata-rata 1000 ml.

Perkembangan terkini, perdarahan pasca persalinan didefinisikan sebagai 10% penurunan hematokrit sejak masuk atau perdarahan yang memerlukan transfusi darah.
Kejadian Perdarahan Post Partum

Kejadian perdarahan pasca persalinan atau perdarahan post partum sekitar 10-15% (4% pasca persalinan per vaginam dan 6-8% pasca persalinan bedah sesar).
Klasifikasi Perdarahan Post Partum
Perdarahan post partum dini (early postpartum hemorrhage) adalah perdarahan yang terjadi setelah bayi lahir dalam 24 jam pertama persalinan.
Perdarahan post partum sekunder (late postpartum hemorrhage) adalah perdarahan yang terjadi setelah 24 jam persalinan, kurang dari 6 minggu pasca persalinan.
Penyebab Perdarahan Post Partum

Perdarahan post partum dapat disebabkan oleh atonia uteri, robekan jalan lahir, retensio plasenta, sisa plasenta, inversio uteri dan kelainan pembekuan darah.
Gejala Klinik Perdarahan Post Partum

Lemah, limbung, keringat dingin, menggigil, hiperpnea, sistolik < 90 mmHG, nadi > 100x/m, Hb < 8 g%.
Diagnosis Perdarahan Post Partum

Atonia uteri

Faktor resiko: over distensi uterus oleh karena polihidramnion, hamil kembar, makrosomia janin; multi paritas, persalinan cepat atau lama, infeksi, riwayat atonia uteri, pemakaian obat relaksasi uterus.

Gejala: uterus tidak berkontraksi dan lembek, perdarahan segera setelah anak lahir.

Penyulit: syok, bekuan darah pada serviks atau posisi terlentang akan menghambat aliran darah keluar.
Robekan jalan lahir

Faktor resiko: persalinan per vaginam dengan tindakan, makrosomia janin, tindakan episiotomi.

Gejala: darah segar yang mengalir segera setelah bayi lahir, uterus berkontraksi keras dan plasenta lengkap.

Penyulit: pucat, lemah dan menggigil.
Retensio plasenta

Gejala : plasenta belum lahir setelah 30 menit, perdarahan segera, uterus berkontraksi dan keras.

Penyulit: tali pusat putus akibat traksi berlebihan, inversio uteri akibat tarikan, perdarahan lanjutan.
Retensio sisa plasenta atau ketuban

Gejala: plasenta atau sebagian selaput (mengandung pembuluh darah) tidak lengkap, perdarahan segera.

Penyulit: uterus berkontraksi tetapi tinggi fundus tidak kurang.
Inversio uteri

Insidensi : 1 dari 2500 kelahiran

Faktor resiko: atonia uteri, traksi tali pusat berlebihan, manual plasenta, plasentasi abnormal, kelainan uterus dan plasentasi pada fundus.

Gejala: uterus tidak teraba, lumen vagina terisi massa, tampak tali pusat, nyeri perut akut dan syok (30%).

Penyulit: neurogenik syok, pucat dan limbung.
Ruptur uteri

Insidensi: 1 dari 2000 kelahiran.

Faktor resiko: riwayat pembedahan uterus sebelumnya, persalinan terhambat, pemakaian oksitosin berlebihan, posisi janin abnormal, manipulasi uterus dalam persalinan.
Plasentasi abnormal

Paling sering adalah plasenta akreta.

Faktor resiko: riwayat pembedahan uterus sebelumnya, plasenta previa, kebiasaan merokok, multi grande para.
Koagulopati

Koagulopati kongenital dapat menjadi komplikasi pada 1-2 per 10.000 kehamilan.

Penyebab: terapi antikoagulan dan koagulan konsumtif yang disebabkan oleh komplikasi obstetrik.
Endometritis atau sisa fragmen plasenta

Gejala: sub involusi uterus, nyeri tekan perut bawah dan pada uterus, perdarahan, lokia mukopurulen dan berbau bila disertai infeksi.

Penyulit: anemia dan demam.
Penanganan Umum Perdarahan Post Partum
Selalu siap dengan tindakan gawat darurat.
Penatalaksanaan manajemen aktif kala III persalinan.
Meminta bantuan/pertolongan kepada petugas kesehatan lain.
Melakukan penilaian cepat keadaan umum ibu meliputi kesadaran nadi, tekanan darah, pernafasan dan suhu.
Penanganan syok apabila terjadi.
Pemeriksaan kandung kemih, apabila penuh segera kosongkan.
Mencari penyebab perdarahan dan melakukan pemeriksaan untuk menentukan penyebab perdarahan.
Referensi

Ambarwati, E. 2008. Asuhan Kebidanan (Nifas). Yogyakarta: Mitra Cendekia Press.
 Errol, N. 2008. At a Glance Obstetri dan Ginekologi. Edisi Kedua. Jakarta: Erlangga.
 Irmansyah, F. Perdarahan Post Partum dan Syok. freeppts.net/get.php?fid=35879  diunduh 6 September 2011. 03:05 AM
 Mochtar, R. 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC.
 The Asian Parent. Postpartum Haemorrhage. id.theasianparent.com/articles/postpartum_haemorrhage  diunduh 6 September 2011. 09:36 AM
Angka Kematian Ibu Melahirkan (AKI). menegpp.go.id..Diunduh 8 September 2011. 10:57 PM
Perdarahan Post Partum. scribd.com/doc/6502612/Perdarahan-Postpartum  diunduh 6 September 2011. 10.30 AM



Masa Nifas


KATA PENGANTAR
    
 Rasa syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat-NYA makalah yang berjudul “Masa Nifas” dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
     Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas dari mata kuliah ASUHAN KEBIDANAN III  pada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Faathir Husada (Kelas Annisa). Selama penyusunan makalah ini penulis telah banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak dalam bentuk informasi, motivasi serta dorongan moral dan spiritual, sehingga makalah ini tersusun dan dapat diselesaikan sesuai dengan rencana.
     Disamping itu, penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna dan sudah barang tentu masih ada kesalahan-kesalahan yang luput dari pengamatan penulis. Oleh karena itu, tegur sapa dan kritik yang konstruktif dari pembaca untuk perbaikan dan penyempurnaan seperlunya sangat penulis harapkan.
     Pada akhirnya penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca.
            
                                    


Bogor, 2013

                                                                          Penulis



i
Daftar Isi
Kata Pengantar...........................................................................................................i
Daftar Isi.......................................................................................................................ii
Pendahuluan..............................................................................................................1
Pembahasan..............................................................................................................5
1.      Perubahan Fisiologis Masa Nifas Pada Sistem Pencernaan......................5
2.      Perubahan Fisiologis Masa Nifas Pada Sistem Perkemihan.......................6
3.      Diastasis Recti Abdominis...............................................................................8
Penutup.....................................................................................................................13
Daftar Pustaka..........................................................................................................14















ii
BAB I
PENDAHULUAN
Konsep Dasar Masa Nifas

Pengertian Masa Nifas
Masa nifas adalah masa dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai 6 minggu setelah melahirkan (Pusdiknakes, 2003:003).
Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil yang berlangsung kira-kira 6 minggu. (Abdul Bari,2000:122).
Masa nifas merupakan masa selama persalinan dan segera setelah kelahiran yang meliputi minggu-minggu berikutnya pada waktu saluran reproduksi kembali ke keadaan tidak hamil yang normal. (F.Gary cunningham,Mac Donald,1995:281).
Masa nifas adalah masa setelah seorang ibu melahirkan bayi yang dipergunakan untuk memulihkan kesehatannya kembali yang umumnya memerlukan waktu 6- 12 minggu. ( Ibrahim C, 1998).
Tujuan Asuhan Masa Nifas

Tujuan dari pemberian asuhan pada masa nifas untuk :
Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis.
Melaksanakan skrinning secara komprehensif, deteksi dini, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayi.
Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, KB, cara dan manfaat menyusui, pemberian imunisasi serta perawatan bayi sehari-hari.
Memberikan pelayanan keluarga berencana.
Mendapatkan kesehatan emosi.
Peran dan Tanggung Jawab Bidan dalam Masa Nifas

Bidan memiliki peranan yang sangat penting dalam pemberian asuhan post partum. Adapun peran dan tanggung jawab dalam masa nifas antara lain :
Memberikan dukungan secara berkesinambungan selama masa nifas sesuai dengan kebutuhan ibu untuk mengurangi ketegangan fisik dan psikologis selama masa nifas.
Sebagai promotor hubungan antara ibu dan bayi serta keluarga.
Mendorong ibu untuk menyusui bayinya dengan meningkatkan rasa nyaman.
Membuat kebijakan, perencana program kesehatan yang berkaitan ibu dan anak dan mampu melakukan kegiatan administrasi.
Mendeteksi komplikasi dan perlunya rujukan.
Memberikan konseling untuk ibu dan keluarganya mengenai cara mencegah perdarahan, mengenali tanda-tanda bahaya, menjaga gizi yang baik, serta mempraktekkan kebersihan yang aman.
Melakukan manajemen asuhan dengan cara mengumpulkan data, menetapkan diagnosa dan rencana tindakan serta melaksanakannya untuk mempercepat proses pemulihan, mencegah komplikasi dengan memenuhi kebutuhan ibu dan bayi selama priode nifas.
Memberikan asuhan secara professional.
Tahapan Masa Nifas

Masa nifas terbagi menjadi tiga tahapan, yaitu :
Puerperium dini
 Suatu masa kepulihan dimana ibu diperbolehkan untuk berdiri dan berjalan-jalan.
Puerperium intermedial
 Suatu masa dimana kepulihan dari organ-organ reproduksi selama kurang lebih enam minggu.
Remote puerperium
 Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat kembali dlam keadaan sempurna terutama ibu bila ibu selama hamil atau waktu persalinan mengalami komplikasi.
Kebijakan Program Nasional Masa Nifas

Kebijakan program nasional pada masa nifas yaitu paling sedikit empat kali melakukan kunjungan pada masa nifas, dengan tujuan untuk :
Menilai kondisi kesehatan ibu dan bayi.
Melakukan pencegahan terhadap kemungkinan-kemungkinan adanya gangguan kesehatan ibu nifas dan bayinya.
Mendeteksi adanya komplikasi atau masalah yang terjadi pada masa nifas.
Menangani komplikasi atau masalah yang timbul dan mengganggu kesehatan ibu nifas maupun bayinya.

Asuhan yang diberikan sewaktu melakukan kunjungan masa nifas:Kunjungan      Waktu            Asuhan
I           6-8 jam post partum          Mencegah perdarahan masa nifas oleh karena atonia uteri.
Mendeteksi dan perawatan penyebab lain perdarahan serta melakukan rujukan bila perdarahan berlanjut.
Memberikan konseling pada ibu dan keluarga tentang cara mencegah perdarahan yang disebabkan atonia uteri.
Pemberian ASI awal.
Mengajarkan cara mempererat hubungan antara ibu dan bayi baru lahir.
Menjaga bayi tetap sehat melalui pencegahan hipotermi.
Setelah bidan melakukan pertolongan persalinan, maka bidan harus menjaga ibu dan bayi untuk 2 jam pertama setelah kelahiran atau sampai keadaan ibu dan bayi baru lahir dalam keadaan baik.
II          6 hari post partum Memastikan involusi uterus barjalan dengan normal, uterus berkontraksi dengan baik, tinggi fundus uteri di bawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal.
Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi dan perdarahan.
Memastikan ibu mendapat istirahat yang cukup.
Memastikan ibu mendapat makanan yang bergizi dan cukup cairan.
Memastikan ibu menyusui dengan baik dan benar serta tidak ada tanda-tanda kesulitan menyusui.
Memberikan konseling tentang perawatan bayi baru lahir.
III         2 minggu post partum     Asuhan pada 2 minggu post partum sama dengan asuhan yang diberikan pada kunjungan 6 hari post partum.
IV        6 minggu post partum     Menanyakan penyulit-penyulit yang dialami ibu selama masa nifas.
Memberikan konseling KB secara dini.
















BAB II
PEMBAHASAN

1.   Perubahan Fisiologis Masa Nifas Pada Sistem Pencernaan

Sistem gastrointestinal selama kehamilan dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya tingginya kadar progesteron yang dapat mengganggu keseimbangan cairan tubuh, meningkatkan kolestrol darah, dan melambatkan kontraksi otot-otot polos. Pasca melahirkan, kadar progesteron juga mulai menurun. Namun demikian, faal usus memerlukan waktu 3-4 hari untuk kembali normal.

Beberapa hal yang berkaitan dengan perubahan pada sistem pencernaan, antara lain:
Nafsu makan.
Motilitas.
Pengosongan usus.
Nafsu Makan

Pasca melahirkan, biasanya ibu merasa lapar sehingga diperbolehkan untuk mengkonsumsi makanan. Pemulihan nafsu makan diperlukan waktu 3–4 hari sebelum faal usus kembali normal. Meskipun kadar progesteron menurun setelah melahirkan, asupan makanan juga mengalami penurunan selama satu atau dua hari.
Motilitas

Secara khas, penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap selama waktu yang singkat setelah bayi lahir. Kelebihan analgesia dan anastesia bisa memperlambat pengembalian tonus dan motilitas ke keadaan normal.
Pengosongan Usus

Pasca melahirkan, ibu sering mengalami konstipasi. Hal ini disebabkan tonus otot usus menurun selama proses persalinan dan awal masa pascapartum, diare sebelum persalinan, enema sebelum melahirkan, kurang makan, dehidrasi, hemoroid ataupun laserasi jalan lahir. Sistem pencernaan pada masa nifas membutuhkan waktu untuk kembali normal.

Beberapa cara agar ibu dapat buang air besar kembali teratur, antara lain:
Pemberian diet / makanan yang mengandung serat.
Pemberian cairan yang cukup.
Pengetahuan tentang pola eliminasi pasca melahirkan.
Pengetahuan tentang perawatan luka jalan lahir.
Bila usaha di atas tidak berhasil dapat dilakukan pemberian huknah atau obat yang lain.

2.   Perubahan Fisiologis Masa Nifas Pada Sistem Perkemihan

Pada masa hamil, perubahan hormonal yaitu kadar steroid tinggi yang berperan meningkatkan fungsi ginjal. Begitu sebaliknya, pada pasca melahirkan kadar steroid menurun sehingga menyebabkan penurunan fungsi ginjal. Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu satu bulan setelah wanita melahirkan. Urin dalam jumlah yang besar akan dihasilkan dalam waktu 12 – 36 jam sesudah melahirkan

Hal yang berkaitan dengan fungsi sistem perkemihan, antara lain:
Hemostatis internal.
Keseimbangan asam basa tubuh.
Pengeluaran sisa metabolisme.


Hemostatis internal.
Tubuh, terdiri dari air dan unsur-unsur yang larut di dalamnya, dan 70% dari cairan tubuh terletak di dalam sel-sel, yang disebut dengan cairan intraselular. Cairan ekstraselular terbagi dalam plasma darah, dan langsung diberikan untuk sel-sel yang disebut cairan interstisial. Beberapa hal yang berkaitan dengan cairan tubuh antara lain edema dan dehidrasi. Edema adalah tertimbunnya cairan dalam jaringan akibat gangguan keseimbangan cairan dalam tubuh. Dehidrasi adalah kekurangan cairan atau volume air yang terjadi pada tubuh karena pengeluaran berlebihan dan tidak diganti.

Keseimbangan asam basa tubuh.
 Keasaman dalam tubuh disebut PH. Batas normal PH cairan tubuh adalah 7,35-7,40. Bila PH >7,4 disebut alkalosis dan jika PH < 7,35 disebut asidosis.

Pengeluaran sisa metabolisme, racun dan zat toksin ginjal.
 Zat toksin ginjal mengekskresi hasil akhir dari metabolisme protein yang mengandung nitrogen terutama urea, asam urat dan kreatinin.

Ibu post partum dianjurkan segera buang air kecil, agar tidak mengganggu proses involusi uteri dan ibu merasa nyaman. Namun demikian, pasca melahirkan ibu merasa sulit buang air kecil.
 Hal yang menyebabkan kesulitan buang air kecil pada ibu post partum, antara lain:
Adanya odema trigonium yang menimbulkan obstruksi sehingga terjadi retensi urin.
Diaforesis yaitu mekanisme tubuh untuk mengurangi cairan yang teretansi dalam tubuh, terjadi selama 2 hari setelah melahirkan.
Depresi dari sfingter uretra oleh karena penekanan kepala janin dan spasme oleh iritasi muskulus sfingter ani selama persalinan, sehingga menyebabkan miksi.

Setelah plasenta dilahirkan, kadar hormon estrogen akan menurun, hilangnya peningkatan tekanan vena pada tingkat bawah, dan hilangnya peningkatan volume darah akibat kehamilan, hal ini merupakan mekanisme tubuh untuk mengatasi kelebihan cairan. Keadaan ini disebut dengan diuresis pasca partum. Ureter yang berdilatasi akan kembali normal dalam tempo 6 minggu.

Kehilangan cairan melalui keringat dan peningkatan jumlah urin menyebabkan penurunan berat badan sekitar 2,5 kg selama masa pasca partum. Pengeluaran kelebihan cairan yang tertimbun selama hamil kadang-kadang disebut kebalikan metabolisme air pada masa hamil (reversal of the water metabolisme of pregnancy).

Rortveit dkk (2003) menyatakan bahwa resiko inkontinensia urine pada pasien dengan persalinan pervaginam sekitar 70% lebih tinggi dibandingkan resiko serupa pada persalinan dengan Sectio Caesar. Sepuluh persen pasien pasca persalinan menderita inkontinensia (biasanya stres inkontinensia) yang kadang-kadang menetap sampai beberapa minggu pasca persalinan. Untuk mempercepat penyembuhan keadaan ini dapat dilakukan latihan pada otot dasar panggul.

Bila wanita pasca persalinan tidak dapat berkemih dalam waktu 4 jam pasca persalinan mungkin ada masalah dan sebaiknya segera dipasang dower kateter selama 24 jam. Bila kemudian keluhan tak dapat berkemih dalam waktu 4 jam, lakukan kateterisasi dan bila jumlah residu > 200 ml maka kemungkinan ada gangguan proses urinasinya. Maka kateter tetap terpasang dan dibuka 4 jam kemudian , bila volume urine < 200 ml, kateter dibuka dan pasien diharapkan dapat berkemih seperti biasa.

3. DIASTASIS RECTI ABDOMINIS

A.    Definisi
Diastasis rekti adalah pemisahan otot rektus abdominis lebih dari 2,5 cm pada tepat setinggi umbilikus (Noble, 1995) sebagai akibat pengaruh hormon terhadap linea alba serta akibat perenggangan mekanis dinding abdomen.

Diastasis recti abdominis umumnya terjadi di sekitar umbilikus, tetapi dapat terjadi di mana saja antara proses Xifoideus dan tulang kemaluan (pubis). Ini adalah hasil dari kelemahan peregangan otot perut dari perubahan hormon ibu dan ketegangan yang meningkat dengan membesarnya rahim. Diastasis recti abdominis dapat terjadi dalam berbagai derajat selama kehamilan dan tidak mungkin menyelesaikan secara spontan pada periode postpartum.

B.     Gejala diastasis recti abdominis
Diastasis recti abdominis tampak seperti punggung bukit, yang berjalan di tengah area perut. Ini membentang dari dasar proses Xifoideus ke tulang umbilicus dan kemaluan, dan dapat meningkat dengan adanya ketegangan otot.
Diastasis recti abdominis umumnya terjadi pada wanita yang memiliki kehamilan kembar yang menyebabkan peregangan oto yang berulang. Peregangan yang berlebihan pada kulit dan jaringan lunak di bagian depan dinding abdomen mungkin bisa jadi salah satu tanda kondisi diastasi recti abdominis yang tejadi pada awal kehamilan. Diastasis recti abdominis biasanya muncul pada trimester kedua. Insiden tertinggi terjadi pada trimester ketiga dan tetap tinggi pada periode pasca-melahirkan. Pada akhir kehamilan, bagian atas rahim (fundus uteri) sering terlihat menonjol keluar dari dinding abdomen. Garis bagian dari bayi yang belum lahir dapat dilihat dalam beberapa kasus yang parah. Fenomena ini lebih sering terjadi pada ibu dengan multiparitas, karena linea alba mengalami peregangan berulang. Diastasis recti abdominis lebih banyak terjadi pada wanita hamil yang tidak berolahraga dibandingkan dengan wanita hamil berolahraga.
Pemisahan otot recti abdominis dapat menyebabkan berbagai masalah. Tanpa adanya stabilisasi yang dinamis maka otot-otot perut akan membuat dinding perut menjadi lemah dan dapat membahayakan stabilitas batang dan mobilitas. Hal tesebut juga dapat mengakibatkan sakit punggung, disfungsi dasar panggul, hernia, cacat kosmetik dan pengiriman vagina. Jadi nyeri panggul adalah manifestasi paling umum dari diastasis recti abdominis. Sebuah studi retrospektif yang dilakukan pada tahun 2007 oleh Spitznagle et al meneliti prevalensi diastasis recti abdominis pada populasi pasien urogynecological dan ditemukan 66% dari semua pasien dengan diastasis recti abdominis memiliki dukungan yang berhubungan dengan disfungsi panggul (SPFD), diagnosa stres , inkontinensia urin, inkontinensia feses , dan organ panggul prolaps.

C.    Mendiagnosis diastasis recti abdominis
Ultrasonography (USG) merupakan metode yang akurat untuk mengukur diastasis rektus atas umbilikus dan di tingkat pusat. Namun karena ketebatasan alat kesehatan yg ada, penyedia layanan kesehatan dapat melakukan tes palpasi cepat untuk menilai diastasis recti abdominis. Diastasis recti abdominis sulit ditemukan pada perut dalam keadaan rileks. Sebuah pemeriksaan memerlukan kontraksi otot rektus abdominis, dan akan memungkinkan untuk penilaian diastasis recti abdominis. Sebuah pemisahan atau peregangan otot pada bagian tengah perut yang diukur setelah kehamilan umumnya memiliki lebar sekitar satu hingga dua jari dan tidak menjadi masalah. Tetapi jika lebar peregangan otot di garis tengah adalah  lebih dari dua setengah jari  dan lebarnya  tidak menyusut saat pasien mengencangkan otot perut nya serta terdapat gundukan kecil menonjol di garis tengah perut, maka pasien mungkin memiliki diastasis recti abdominis dan perlu mengambil tindakan pencegahan yang khusus untuk mengatasinya seperti dengan melakukan beberapa latihan dan kegiatan lainnya.
Diastasis recti abdominis terjadi jika dalam pemeriksaan tedapat peegangan otot atau pemisahan otot pada garis tengah perut hingga dua jari atau lebih atau ibu/pelayan kesehatan dapat memasukkan dua jari atau lebih ke dalam ruang unggul umbilikus. Pada kontraksi perut lanjut, pemisahan atau peregangan otot pada garis tengah perut harus menutup, namun jika masih ada peregangan yang lebarnya lebih besar dari 1 jari, itu merupakan diastasis recti abdominis positif. Seperti tes biasanya yang diberikan pada wanita postpartum untuk memeriksa integritas dari recti abdominis, dan harus ditekankan bahwa tes ini dapat dilakukan pada ibu pasca-caesar hanya setelah sayatan mereka sudah sembuh, sekitar 6-10 minggu setelah operasi.

D.    Pengelolaan
Manajemen konservatif, seperti latihan terapi spesifik yang diarahkan oleh fisioterapis, atau ahli kesehatan yang sangat paham mengenai diastasis recti abdominis, biasanya menjadi intervensi yg paling pertama. Latihan tersebut bertujuan untuk memperkuat otot inti yang mendalam, seperti abdominis transverses dan otot dasar panggul. Latihan perut yang buruk dapat menyebabkan peningkatan tekanan intra-abdomen, gaya ini dapat menyebabkan pemisahan recti lebih lanjut dan tonjolan yang menyertainya / hernia memburuk.
Oleh karena itu, penting untuk memantau diastasis recti abdominis (dan hernia jika ada) sebelum melakukan latihan pengencangan otot perut. Latihan perut tidak cocok meliputi sit up, kaki lurus menimbulkan, gerakan Pilates yaitu "100s" dan terutama kegiatan trunk rotasi, seperti berselang-seling sit up yang menargetkan obliques, dapat membuat peregangan otot perut yang berlebihan. Kelemahan pada otot inti memberikan kontribusi terhadap penutupan kekuatan yang cukup dari sendi sacroiliac yang menyebabkan ketidakstabilan panggul, yang akhirnya dapat mengakibatkan penurunan sakit punggung dan pinggul. Dalam keadaan yg buruk, pemisahan otot recti abdominis dapat mengakibatkan hernia. Oleh karena itu, saat pertama diastasis diidentifikasi, pasien diminta untuk membuat perjanjian awal dengan fisioterapis antara 2 sampai 3 minggu setelah melahirkan. Menindaklanjuti kunjungan berikutnya dilakukan pada 2, 3 atau dengan jarak 4 minggu setelahnya tergantung pada kondisi pasien yaitu kondisi otot perut pasien, kemampuan pasien untuk memahami program latihan, dan kepatuhan pasien untuk menindaklanjuti latihan.
Pada kunjungan awal, pasien diberikan petunjuk tentang mekanika tubuh yang benar, postur tubuh yang tepat, latihan yang tepat untuk mengaktifkan otot-otot perut, dan latihan yang tepat untuk kembali menguatkan otot recti abdominis tanpa meningkatkan tekanan intra-abdomen .
Pada setiap kunjungan berikutnya, pasien diajarkan untuk melatih kontrol konsentrik dan eksentrik dari otot-otot perut dan untuk mensimulasikan peran fungsional dari otot-otot perut dalam stabilisasi bagasi.
Rekomendasi kegiatan fisik dan olahraga di rumah dan masyarakat juga diberikan pada kunjungan berikutnya. Dukungan perut bantu / splints dapat direkomendasikan. Pasien dipulangkan saat diastasis recti abdominis sudah menutup.

E.     Prognosa
Pasien biasanya tidak dalam keadaan baik. Dalam kebanyakan kasus, diastasis recti abdominis biasanya sembuh sendiri selama periode postpartum 6 minggu sampai 3 bulan. Namun, diastasis recti abdominis juga dapat berlanjut lama. Intervensi lebih lanjut mungkin diperlukan jika pemulihan diastasis recti abdominis tidak terjadi. Latihan terapi spesifik dapat membantu meningkatkan kondisi. Hernia umbilikalis dapat terjadi dalam beberapa kasus. Jika nyeri hadir, operasi mungkin diperlukan. Secara umum, komplikasi hanya terjadi ketika hernia berkembang.

F.     Komplikasi diastasis recti abdominis
Hernia umbilikalis
Menurut Medline Ditambah Encyclopedia Medis, komplikasi paling serius diastasis recti adalah hernia umbilikalis. Sebuah hernia umbilikalis terjadi ketika pemisahan otot-otot perut memungkinkan bagian dari usus untuk menonjol.

Back Pain
Karena otot-otot perut Anda mendukung tulang belakang Anda, diastasis recti dapat menyebabkan nyeri kronis pada punggung bawah Anda. Rendah kembali sakit dapat menyebabkan sikap tubuh yang buruk.





BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Sistem gastrointestinal selama kehamilan dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya tingginya kadar progesteron yang dapat mengganggu keseimbangan cairan tubuh, meningkatkan kolestrol darah, dan melambatkan kontraksi otot-otot polos. Pasca melahirkan, kadar progesteron juga mulai menurun. Namun demikian, faal usus memerlukan waktu 3-4 hari untuk kembali normal.
Pada masa hamil, perubahan hormonal yaitu kadar steroid tinggi yang berperan meningkatkan fungsi ginjal. Begitu sebaliknya, pada pasca melahirkan kadar steroid menurun sehingga menyebabkan penurunan fungsi ginjal. Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu satu bulan setelah wanita melahirkan. Urin dalam jumlah yang besar akan dihasilkan dalam waktu 12 – 36 jam sesudah melahirkan
Wanita dengan diastasis recti abdominis lebih mungkin terjadi pada wanita yang usianya lebih tua dan dengan paritas tinggi, memiliki anak kembar, bayi yang lebih besar, dan kelahiran melalui operasi caesar. Studi menunjukkan bahwa pemulihan sebelumnya mungkin berhubungan dengan paritas rendah, kelahiran tunggal, penambahan berat badan di bawah 35 kilogram, berat lahir bayi <3,7 kg, tingkat peningkatan aktivitas sebelum, selama dan setelah kehamilan. Secara klinis, kepatuhan yang baik dengan program perawatan dan inisiasi awal pengobatan juga dapat meningkatkan pemulihan. Oleh karena itu, tindakan profilaksis, seperti pemeriksaan rutin / identifikasi diastasis recti abdominis dan diastasis manajemen recti abdominis berikutnya untuk semua ibu selama kehamilan dan periode pasca-melahirkan mungkin bermanfaat dalam jangka panjang.






DAFTAR PUSTAKA
Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia.
Anderson, DM. Mosby s Medical Dictionary. 6th ed. St Louis, Mo: Mosby; 2002.
Boissonnault J.S. & Blaschak MJ Insiden diastasis recti abdominis Selama Tahun subur.
Chiarello, C. M.  Penelitian Studi: Pengaruh Program Latihan di diastasis recti abdominis pada Wanita Hamil. Jurnal Terapi Kesehatan Fisik Wanita: 2005:29 (1), hlm 11-16.
Dessy, T., dkk. 2009. Perubahan Fisiologi Masa Nifas. Akademi Kebidanan Mamba’ul ‘Ulum Surakarta.
Ibrahim, Christin S, 1993, Perawatan Keebidanan (Perawatan Nifas), Bharata Niaga Media Jakarta
Marx J. Rosen Darurat Kedokteran: Konsep dan Praktek Klinis. 6th ed. St Louis, Mo: Mosby; 2006.
Mendes D.A. et al. Ultrasonografi untuk mengukur rektus abdominis diastasis otot. Acta Cir Bras. 2007:22 (3): p 182-6.
Pusdiknakes, 2003. Asuhan Kebidanan Post Partum. Jakarta: Pusdiknakes.
Saifudin, Abdul Bari Dkk, 2000, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Yayasan Bidan Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta
Saleha, 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika.
Spitznagle T.M., Leong F.C. dan Van Dillen L.R. Prevalensi diastasis recti abdominis pada populasi pasien urogynecological. International Journal Urogenikologi 2007: 18 (3), p 321-328, DOI: 10.1007/s00192-006-0143-5
 Suherni, 2008. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya.
Terapi Fisik Juli 1988vol. 68 (7), p 1.082-1.086
borneo-ufi.blog.friendster.com/2008/07/konsep-nifas-eklamsi-forceps/ diunduh 1 September 2009: 20.00 WIB.
Kuliahbidan. 2008. Perubahan dalam Masa Nifas. kuliahbidan.wordpress.com/2008/09/19/perubahan-dalam-masa-nifas/ diunduh 6 Feb 2010, 02:25 PM.
masanifas.blogspot.com/ diunduh 1 September 2009: 20.10 WIB.
scribd.com/doc/17226035/Post-Partum-Oke diunduh 8 Feb 2010, 11:46 PM.
 scribd.com/doc/24817163/Postpartum-Normal diunduh 12 Feb 2010, 04:46 PM.
Widjanarko, B. 2009. Masa Nifas. obfkumj.blogspot.com/ diunduh 9 Feb 2010, 04:07 PM.
yoana-widyasari.blogspot.com/2009/04/satuan-acara-pengajaran-s.html diunduh 1 September 2009: 20.05 WIB.
Zietraelmart. 2008. Perubahan Fisiologi Masa Nifas. zietraelmart.multiply.com/journal/item/22/PERUBAHAN_FISIOLOGIS_MASA_NIFAS diunduh 6 Feb 2010, 02:35 PM.
 Image, theasianparent.com